Sabtu, 21 Januari 2017

Anjing Lagi-Lagi Anjing

Baru kemarin atau kemarinnya lagi, saya melewati sebuah jalan kampung. Saat itu kami sempat berhenti karena ada empat anjing kampung menghadang. Saya ulangi empat ekor. Sebenarnya sudah berkali-kali ketemu anjing di daerah situ karena banyak yang memelihara, seringnya ketemu satu atau dua ekor saja. Sedang kemarin empat ekor dan sikapnya tidak bersahabat alias menggeram mengancam. Biarpun diperingatkan si pemilik yang berjalan bersamanya saat itu, dua anjing yang besar masih saja ngeyel. Tuh, di depan pemiliknya saja gitu.


Kadang tiba-tiba anjing yang dipelihara orang kampung ini (dibiarkan berkeliaran bebas) suka menyeberang jalan sembarangan. Pernah beberapa kali saya mau menabrak anjing ini, kalau misal ketabrak anjingnya terus mati nanti disalahkan pula kalau anjing itu mati. Seringnya kalau tahu ada anjing, saya dan anak saya langsung mengangkat kaki takut digigit, najis pula sih. Padahal banyak anjing yang berkeliaran di sana.

Anjing gila yang menyerang seseorang semacam pitbull bisa menyebabkan kematian. Contohnya, pada 17 Agustus 2011 seorang anak perempuan berumur 4 tahun diserang anjing pitbull hingga tewas di Melbourne Australia. Pada November 2012 seorang balita umur 3 tahun tewas di serang anjing liar di kebun binatang di Pittsburgh AS. Seorang bayi tewas dan kakaknya yang masih balita mengalami luka serius setelah diserang anjing pada Oktober 2016 di London. Pada April 2016 seorang anak di Kalbar diserang dan digigit anjing hingga perlu mendapatkan 32 jahitan di kepala. Wanita 65 tahun tewas diserang sekelompok anjing di India pada Agustus 2016. Seorang bayi tewas diserang anjing peliharaan saudara laki-laki ibunya pada Juni 2016 di Kalifornia. Di Indonesia juga ada, cari saja infonya sendiri. Sebenarnya masih puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kasus penyerangan anjing lain yang tidak terdokumentasi media. Video-video betapa ganas dan mengerikannya anjing itu bisa dilihat di internet. Meskipun saya juga tahulah kalau tidak semua anjing itu buas, tetapi kebanyakan begitu.

Dulu tetangga ada yang pernah pernah memelihara anjing dan saya sama sekali tidak suka. Kesal karena sangat berisik, beda jauh dengan kucing saya yang bahkan mengeong saja jarang. Anjing itu kalau ada orang lewat pasti menggonggong, ada penjual bubur ayam lewat juga gitu, ada tukang sampah lewat berisik lagi, ada anak-anak lewat berisik lagi anjingnya, ada kucing lewat saja juga berisik, enggak siang enggak malam terus saja berisik. Anjing mungkin dipilih untuk dipelihara karena kesetiannya. Apa bagusnya kalau setianya hanya pada pemberi makan si anjing tetapi dia jadi monster untuk orang lain. 

Ngeri lagi kalau mikir bagaimana kotoran anjing itu. Kalau kucing saya yang kecil mungil begitu sudah bikin saya tutup hidung setiap kali membersihkan, apalagi anjing yang badannya segede itu, makannya pasti lebih banyak pula. Di daerah Gancahan banyak juga yang pelihara anjing, saya melihat sering ada remaja yang nongkrong di jembatan dekat situ dengan deretan anjing-anjing pitbullnya.

Dulu waktu sekolah saya pernah juga ketemu anjing banyak sekali di jalan, dan meskipun kecil anjing itu tampak sangat garang, dan membuat saya takut. Teman-teman kos di Jogja dulu malah sering kehilangan sepatu hanya sebelah, sandal hanya sebelah saja, atau bahkan pakaian yang dijemur, barang-barang itu dibawa lari si anjing milik tetangga kos.

Jadi, kalau sudah menelan banyak korban tewas yang diantaranya anak-anak, kenapa kepemilikan anjing penyerang ini masih saja tanpa ijin dan aturan ya. Lha wong kepemilikan senjata api yang tujuannya hampir sama saja harus pakai ijin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.