Sabtu, 29 Desember 2012

Lima Ratus Rupiah

Bunyi suara gitar mungilnya tak beraturan tak bernada sama sekali, apalagi suara nyanyiannya datar tak tahu lagu apa yang sedang digumamkannya. Tangannya sibuk memetik senar gitar itu sesekali mukanya melongok kearah dalam ruangan berharap seseorang melihatnya. Ketika kulirik dia tetap bertahan di depan pintu itu, seakan lelah menunggu tak sabar dia mengetuk koin pemetik senar gitarnya ke kaca pintu. Perempuan disebelahku bergegas mengorek kotak kecil tempat uang recehannya di ambilnya satu keping koin logam dan setengah berlari menghampiri pintu dan buru buru di berikannya uang lima ratus rupiah itu, logam kecil berwarna kuning bertuliskan 500. Lelaki bertopi bulat lusuh yang di depan pintu itu pun melangkah berlalu ke jalanan setelah berguman “nuwun” pada perempuan disebelahku.

Entah berapa pintu yang lelaki itu datangi untuk di ketuk. Entah juga berapa koin yang di terimanya dari tangan tangan penyambung tangan Allah itu.  Entah juga seberapa timbangan keikhlasan dari tangan tangan itu. Apakah rasa kasihan ataukah rasa sebal sekedar pengusir suaranya yang parau ataukah sebuah keilkhlasan yang tulus. Bagi perempuan di sebelahku itu dalam mataku sesuatu yang tak perlu diberi arti apapun, hanya sesuatu yang biasa saja. Seharian entah berapa macam orang yang bersolo konser di depan pintu itu sekedar pertunjukan bernilai satu koin lima ratus rupiah.Suatu waktu sepasang waria cantik nan genit bersuara kencang berdandan bak penyanyi dangdut, di lain kesempatan wanita tua yang tak punya nada apapun sekedar berdiri disana, ataupun sekelompok penari yang atraktif dengan backsound musik tradisional yang menggelegar. Bagi kami hanya sesuatu yang biasa saja hanya tinggal mengorek kotak kecil koin itu dan melangkah ke pintu itu.

Suatu ketika aku berpikir, apakah tiket ke syurga itu mahal ? sebandingkah dengan tiket justin bieber, niki minaj, atau penyanyi kondang lainnya yang bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Untuk menonton aksi mereka saja orang berani merogoh kantungnya begitu dalam, lantas bagaimana dengan tiket ke syurga ? Apakah logam kecil berwarna kuning bertulis 500 itu sudah cukup ? katanya nilainya bisa melebihi jutaan rupiah apabila dibarengi sebuah keihlasan. Apakah perempuan itu ikhlas? Bagaimana dia sendiri tahu apakah itu ikhlas atau tidak. Sedang didalam hati kadang aku ngedumel dengan bertambahnya jumlah solo konser bertema “koin kuning bertulis 500” itu. Kadang kudengar dia bergumam “ badan masih seger buger ,umur juga belum tua banget, kenapa meminta minta”. Wangune ( pantasnya) ya orang tua yang sudah tak mampu bekerja atau orang cacat yang sudah tak ada yang mau mempekerjakan. Entah jadi nilai koin turun ke 50 rupiah atau bahkan di catat hanya 5 rupiah sekarang setelah gumaman itu muncul. Semakin tak berarti saja koin kuning bertulis 500 kembalian dari membeli pulpen atau cemilan di penjual sayur keliling itu sekarang. Mungkin lain kali harusnya lembaran kertas bertulis 1000 rupiah saja, setidaknya jika nilai nya turun karena sebuah gumaman akan turun ke 500. Ataukah harus di tata ulang hati itu agar gumaman sebuah do’a tulus dari perempuan tua yang menerima koin itu bisa teramini oleh malaikat yang kebetulan lewat.

Tahukah apa yang terjadi dengan koin kuning yang sampai di saku mereka ? ada yang berakhir pada sebatang rokok, ada yang berakhir pada sekantung es teh manis dan sebungkus nasi kucing di angkringan. Ada pula yang berakhir pada beras sekilo yang dibeli di warung untuk makan mereka dan anak anaknya malam itu. Macam macam cara Allah mengutus malaikat malaikat pemberi rizki agar sampai kepada makhluknya. Bahkan ulat kecil didalam batu di dasar lautan pun bisa hidup dengan kemurahan Allah Swt.

Lain kali mungkin tidak perlu kita berpikir kemana akhir koin itu, bagaimana tanganmu itu menjadi penyambung kebahagiaan orang lain itulah yang kamu perlu pikirkan. Disampingmu mungkin sedang dituliskan satu kebaikan kamu dengan sebuah senyum ketulusan ucapkanlah :

ya Allah jika hanya satu keping koin kuning bertulis 500 itu yang baru bisa kuberikan untuk membeli tiket syurgaku, mohon terimalah ya Allah, semoga Engkau memberikan aku rizki yang lebih besar dari ini dan kemauan tanganku ini memberikan yang lebih besar dari ini” ( amin ya rabbalalamin).

2 komentar:

  1. Renungannya bagus...
    Seperti cerpen...

    Yupz, salah satu tiket menuju surga...

    Terimakasih, tetep smgt...

    BalasHapus
  2. Fikri thufailly : tak bisa aku bikin cerpen
    asal nulis aja entah itu apa namanya

    tiket kecil saja semoga di terima
    semangat buat kamu juga Fikri

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.