Jumat, 19 September 2014

Serigala Gedung Pencakar Langit

Lumuran darah bercampur nanah berbau anyir meleleh disetiap sudut mobil itu. Dibagian lain tampak air comberan mengguyur hampir semua bagian atas mobil. Bau sampah air got campur busuknya telur semakin mengaduk isi perut. Sesaat kemudian mobil itu tampak seperti semula, berkilat dan mahal. Dan seperti itulah yang terlihat dimata semua orang. Berkilat dan mahal.

Seorang lelaki tua dengan setelan jas designer ternama tampak keluar dari mobil itu diikuti seorang wanita muda yang bahkan lebih tepat jadi anaknya dengan dandanan super seksi bak penyayi dangdut. Yang entah telah menjadi selir keberapa lelaki tua, botak, buncit dan berhidung besar itu. Dua orang satpam penjaga gedung pencakar langit itu tampak mendekat dan menyambut dengan hormat. Kemudian dua orang berstelan formal muncul dari dalam gedung, tersenyum ramah berbasa basi dan sikap hormat yang berlebihan seakan bersedia menjilat kotoran dibawah sepatu mengkilat lelaki tua itu.

Diruangan besar itu terlihat beberapa orang sedang bercakap, giginya lebih mirip taring, yang biasa menghisab darah rakyat kecil. Masih segar sisa darah mengendap disela sela giginya yang tajam, atau bahkan sisa daging busuk mayat orang tak berdosa yang baru saja dimakannya, lebih tepatnya kambing hitam santapannya. Atau orang orang yang banyak cakap, atau orang orang yang terlalu vokal bersuara, yang biasanya berakhir diujung lorong gelap antah berantah, membusuk dipenjara, atau hilang tak tahu rimbanya. Lalu semua beku dipeti atau munculnya wabah amnesia diantara mereka sendiri.

Lelaki yang satu tampak sedang mendesis menjilat kaki lelaki satunya yang lebih tinggi dan besar, manusia satunya lagi tampak sedang berbicara. Suaranya tidak jelas karena lidahnya terlalu panjang, menjulur diantara taring taringnya, kupingnya mencuat seperti nenek sihir dalam dongeng anak lengkap dengan kutil kutil menghiasi wajahnya. Lidah lidah yang dibungkam dari orang orang yang lantang bersuara diluar gedung itu, diruangan itu menumpuk memanjang menjadi lidah mereka sendiri, dan telinganya meninggi mencari suara apapun yang bisa menguntungkan posisinya di gedung pencakar langit itu. Bahkan kuasanya hendak menandingi kuasa langit dengan berupaya menyentuhnya, berdiri dan hidup diatas manusia yang lainnya, kalau perlu berdiri menginjak kepala manusia kecil yang dibawahnya.

Pintu ruangan di ketuk pelan sepuluh dua puluh manusia mengerikan diruangan itu menoleh serentak kearah suara, seorang anak kecil berdiri mematung didepan pintu. Disampingnya berdiri seekor serigala, dengan mata merah seperti darah. Bulunya putih seputih kapas. Dia menoleh sebentar keserigala itu memberi isyarat lebih tepatnya, dan dia berlalu pergi begitu saja. Yang terjadi kemudian ruangan itu telah berubah menjadi lautan darah, dengan segala macam isi perut yang bercecer tak karuan, di meja, di kursi, di lantai, di dinding dan bahkan di kaca kaca. 

Asap hitam membubung keudara, berputar putar sebentar kemudian menukik ketanah. Diiringi pekik mengerikan, seperti lolong ratusan serigala hitam yang kesakitan.

Bukupun dibuka kembali, lembar catatan kosong hendak ditoreh tinta lagi. 

8 komentar:

  1. Wah membayangkannya mengerikan juga. Scary sories Ada deskripsi lautan darah dan isi perut yang berceceran

    BalasHapus
  2. Mantab deeh, Lanjut kan Mba :)

    BalasHapus
  3. kalau srigala itu berbulu putih seputih kapas pula...tentu srigala jadi-jadian yea?

    BalasHapus
  4. ini sih sisi galak Mbak Dedaunan lagi muncul, yang diekspresikan lewat tulisan ini. saya aja yang bukan serigala ngeri, apalagi kalo bukan, ehh...

    BalasHapus
  5. tapi ini nggak terinspirasi dari GGS kan?
    ganteng-ganten syaitonirojim... eh salah, maksudnya ganteng-ganteng srigalau

    BalasHapus
  6. Hadir lagi di sini mba e. Hiehiehiehe
    Hayoo donk semangat lagi menulisnya. Semangat lagi NgeblOgnya
    Hihihi/ Caiyooooooooooo mba

    BalasHapus
  7. sulit jika didepan terbentang lautan darah dengan isi perut yang berceceran berserakan hingga ke kolong-kolong...sungguh suatu mukjijat jika saya mampu melewati hal tersebut....keren kan komentar saya?

    BalasHapus
  8. Pak Asep : menakutkan ya pak ya udah saya gak nulis ngeri begini lagi
    hanya fiksi kok pak itu, monggo pak hadir lagi boleh kok :D

    Arif Maulana : makasih :) sudah berkunjung

    Mang Lembu : hehehe kalau putih jejadian gitu ya mang, baru tahu saya
    keren mang kereeeen sekali, sebenarnya itu suasana besok hari Qurban :D

    Pak Zach : sisi galak pak, hehehe enggak pak, kalau nggak lagi galak saya gak galak kok (ngeles), saya juga berkaki dua kok pak sama hihi

    Mbak Ocha : eh iya ya, ini efek nonton twilight versi indonesia, tapi saya gak suka sinetron mbak, gak selesai selesai hehe ganteng ganteng stress kata kawan saya hehehe

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.