Kamis, 11 Agustus 2016

Menunggu Perempuan Itu

Aku menunggu di sini sesuai tulisan di ponsel yang aku terima beberapa saat lalu. Kita bertemu tanggal 9, tulismu. Di taman ini saat anak-anak berlarian mengejar capung. Saat matahari belum begitu panas.


Sebenarnya sebelum ini kami pernah bertemu, setelah tulisannya akhirnya terbit. Sekedar merayakan tulisannya yang sesuai jadwal kali ini. Saat itu dia ingin bertemu tanggal 7 tetapi tanggal 7 adalah jadwalku harus mengeposkan surat-surat ke beberapa tempat selama musim kering ini.  Jarak rumah dan kantor pos cukup jauh jadi aku tidak punya waktu untuk bertemu dengannya. Surat-surat untuk pekerjaanku. Meskipun pertemuan kami sekedar menikmati secangkir kopi di taman ini.

Dia yang biasanya akan memilih kopi hitam yang pekat dan aku memilih kopi campur karamel kecoklatan yang nikmat. Berulang kali dia mengatakan karamel dan segala macam gula tak baik untuk gigiku. Selain merusak juga membuat warnanya tidak baik. Padahal batinku, kopi hitam yang dia minum juga melakukan hal yang sama pada giginya. Tapi anehnya giginya tetap putih bersih. Itu tak adil.

Terakhir kali aku bertemu dengannya di tanggal 27, saat itu aku masih berseragam sekolah. Setelan jas warna biru tua dengan kemeja putih di bagian dalamnya. Sepasang sepatu hitam dan logo sekolah kami di dada kanan. 

Dia tertawa saat aku mengatakan bahwa rambutnya yang tergerai sangat cantik hari itu. Tanggal 27 dimana aku meletakkan sebuah kertas di pangkuannya. Disaksikan pohon yang mulai muncul daunnya, kecil-kecil hijau menyumbul di sela-sela ranting yang sedikit basah oleh cuaca.

"Apa ini," katamu saat itu.
Pipimu memerah, bukan malu, tapi karena cuaca hangat yang menciumi kulit putihmu.

"Buka saja," kataku waktu itu.
Kamu menatapku berkali-kali seakan mencari petunjuk isi kertas itu. Kamu tak akan tahu jika tidak membukanya, batinku.

"Bukan surat cinta kan? kamu tak mungkin menyuratiku untuk urusan itu kan?" tanyamu menebak.

Senyummu, pertanyaan polosmu, membuat jantungku terlonjak kebingungan, nyatanya aku melakukannya. Tapi itu sungguh membuatku bahagia. Kamu tertawa setelah membacanya.

"Selamat ulang tahun Reiko,....." sepenggal kalimat pertama di kertas itu, masih ada kelanjutannya.

"Ini akan jadi surat yang membuatku senang seandainya tidak ada baris terakhir itu," katamu kemudian. Kamu mulai menggigit bibirmu. Reiko, jangan kamu lakukan itu, jika kamu lakukan lagi aku benar-benar ingin jadi bibir tipismu itu.

"Tak usah kamu jawab sekarang," kataku kemudian. Senyummu terkembang, Reikoku.

Itu 3 tahun lalu, tanggal 27. Hari ini tanggal 9 menunggumu. Masihkah aku ingin menjadi bibir tipismu.
"Sudah lama menunggu?" suara perempuan itu menyapa dari arah kananku.

Perempuan setengah baya dengan tubuh tidak terlalu gemuk, tidak pula kurus rambut tipis kecoklatan tergerai indah. Wajahnya masih seperti dulu senyumnya senyum perempuan dewasa tidak seperti dulu, lepas dan menawan hatiku. Ada kelembutan lain menerpaku, perempuan dewasa ini yang dulu aku kagumi setengah mati. Aku membangun kenangan itu tetapi tak menemukan jejaknya di diri perempuan yang duduk di sebelahku.

"Belum." Kamu tersenyum dan menyodorkan segelas kopi padaku. Kamu masih ingat kopi kesukaanku.
Aku melihat tawanya, mendengarnya bercerita dengan sangat sopan beberapa saat. Kau masih perempuan yang sama. Aku hampir tak menyimak ceritamu, sekedar menatap bibirmu yang bergerak lembut, matamu yang berbinar senang, dan anak rambutnya yang diterbangkan angin ke sana kemari.

"Aku menikah dengannya setahun lalu,...." Hanya itu yang kuingat dari semua ceritamu.

Hanya itu yang terngiang di telingaku, berdengung di kepalaku beberapa lama bahkan saat aku termangu duduk di kursi kereta. Menatap orang yang lalu lalang dengan sibuknya. Sibuk dengan dunia masing-masing. Aku menunggu jawaban itu tiga tahun lamanya, jawaban dari tulisan di kertas itu.

Kalimat terakhir yang kamu baca, dan kalimatmu tadi itu kuanggap sebuah jawaban. Setahun lalu, aku terbaring di rumah sakit, di musim hujan yang lembab, melawan kematianku, demi mendengar jawabmu. 
Yang tadi itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.