Kamis, 13 Agustus 2015

Seberapa Kejamkah Manusia

Sekarang masih hangat masalah daging sapi. Saya kemarin membaca berita soal betapa kejamnya perlakuan pegawai sebuah peternakan ayam di luar negeri. Bagaimana cara peternakan itu bisa dibilang kejam? 

Telur ayam yang menetas menjadi anak ayam jantan dan betina. Masing-masing dipisahkan, yang jantan karena tidak laku maka dipisahkan dari ayam betina. Ayam jantan tidak dibiarkan hidup. Telur ditetaskan kemudian dengan kuasa Tuhan jika beruntung dia betina dan tidak beruntung jika dia jantan. Ayam jantan dipisahkan dari betina dan masuk mesin penjagalan dengan pisau tajam. Ayam itu kemudian dikumpulkan dalam satu kantong plastik besar dan digencet hingga mati, kemudian dimasukkan mesin penggiling daging begitu saja. Entah untuk apalagi hasil gilingan anak-anak ayam malang itu selanjutnya.

Jika kita melihat kekejaman pembunuhan anak ayam itu apakah kita merasa tidak sekejam itu? Mungkin kebanyakan kita menjawab,"Kami tidak sekejam itu." Benarkah? Saya sendiri pernah menggencet semut yang jumlahnya mungkin puluhan, berkali-kali memukul kecoa, memberikan cicak hidup pada kucing saya, membunuh ikan ketika di dapur dan lainnya. Apakah tidak sama kejamnya? 

Intinya, hilangnya nyawa makhluk hidup. Hanya ukuran besar kecilnya padahal sama-sama nyawa. Nyawa bukan kita yang menciptakannya. Semudah itu, karena kita menganggap pembunuhan yang wajar. Wajar dilakukan juga oleh orang lain. Pembunuhan yang umum dilakukan semua orang. Kemudian saya sadari, saya sama saja kejamnya dengan mereka.

Persepsi orang akan pembunuhan yang boleh dan tidak boleh kita lakukanlah yang membuat tidak begitu kejam. Kita menganggapnya masalah biasa dan kebiasaan. Seperti seseorang yang belajar naik sepeda, semula takut bahkan sulit dan ngeri mencobanya. Kemudian setelah beberapa kali mencoba, dia akan terbiasa dan tidak takut lagi. Kegiatan naik sepeda menjadi tampak biasa saja. Tetapi naik sepeda dan membunuh dengan kejam tentu berbeda. Tentu saja hal itu menjadi hal biasa bagi pegawai peternakan anak ayam itu, nyatanya mereka tidak ngeri tidak takut-takut, terkesan biasa-biasa saja. Kitalah yang merasa ngeri melihatnya.

Sekedar catatan saya juga pernah melihat video dimana seekor sapi yang kelihatannya masih hidup tetapi sudah lemas masuk ke mesin penggilingan daging. Mengerikan memang, kira-kira untuk apakah hewan yang masih utuh  masuk ke penggilingan daging sebulu-bulunya, setulang-tulangnya, organ dalam dan lainnya. Di waktu lain saya juga pernah melihat bagaimana perlakuan sapi yang dipaksa meminum air begitu banyak dari selang sebelum disembelih, mengerikan. Kalau kita tidak kejam, apakah pernah terpikir bagaimana sapi, ayam, ikan dan lainnya melewati pisau-pisau sang pembunuh. Di saat lain dengan suka cita mereka menikmati dengan elegan sajian daging di atas piring restoran.

Padahal menurut seorang ahli gizi yang kemarin saya lihat di televisi, kandungan protein hewani dan nabati hampir sama. Mungkin masalah kita adalah menuruti kemauan lidah. Nafsu akan barang enak selama dalam mulut dan kita kunyah.

Mengingat itu, saya jadi malu dengan mereka yang vegetarian. Saya pernah mencoba jadi vegetarian, tapi hanya bertahan beberapa bulan saja. Saya benar-benar iri dengan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.