Senin, 15 Juni 2015

Sebuah Buku (2)

Baca cerita sebelumnya.

Sudah lama anak itu tidak muncul di sana lagi. Apa dia sakit? 
Aku berulang kali melihatnya memacu sepedanya ke sekolah kalau pagi tetapi tidak kutemukan dia kembali di siangnya. Atau dia mungkin pulang ketika larut malam.
Kututup pintu kamarku dan kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat terhenti.
Tiba-tiba pintu terdengar di ketuk seseorang. 
"Maaf pak, apa bapak melihat anak saya?" tanya seorang lelaki setengah baya dengan tampang semrawut.
"Anak bapak? yang mana ya?"
"Itu si Ucil yang suka main di depan situ" katanya menunjuk tanah lapang yang rumputnya sudah jarang-jarang. Jarang di siram hujan dan sering di injak kaki anak-anak.
"Saya lihat beberapa hari ini jarang ada anak main bola di situ pak" jawabku cepat.
Lelaki itu mengangguk-angguk lalu berpamitan dan berlalu pergi dengan langkah kaki setengah di seret.

                                ***
Hari ini pun tanah lapang itu masih sepi, dan gundukan tanah kemarin tempat anak yang kemungkinan bernama Ucil itu sudah mulai rata.
Baru saja kakiku akan melangkah mengunci pintu, kudengar suara seorang anak di kejauhan.
Si Ucil.
Berlari-lari ke arahku.
"Bang, aku minta tolong" katanya sambil menunduk memegangi perutnya.
"Apa? kamu sakit perut?" tanyaku menatapnya yang hanya berkaus dan celana pendek kotak-kotak.
Ia menggeleng dan mengusap mukanya yang merah dan berkeringat.
"Bukan bang, aku minta tolong ajari saya bang"
"Ajari apa?" 
"Ini bang" katanya sambil mengulurkan selembar kertas dari saku celananya.
Aku membaca secarik kertas di tanganku, kertas yang sudah entah berapa lama di celananya itu bercampur remah roti, minyak gorengan dan entah apalagi. Semoga tak ada ingus atau upil di sana.
Aku tertawa sambil menatapnya.
"Kau mau aku ajari kamu ini?" tanyaku sambil menunjuk kertas itu.
"Iya bang" anak itu mengangguk-angguk, mirip boneka di dashboard mobil pak Taka di kantor.
Mata anak itu mantab, seperti serius dengan omongannya.
"Baiklah, besok kamu datang sore-sore seusai sekolah" kataku.
"Iya bang, makasih" dia tampak lega dan melangkah pergi.
"Eh iya, kamu dicari bapakmu, kamu Ucil kan?" teriakku.
Dia menoleh sekali,"Sudah bang" kemudian dia berlari menjauh, meninggalkan lapangan yang berumput jarang-jarang. Jarang dilalui ibu-ibu kalau siang. Panas.
Sudah? maksudnya apa kok sudah. Sudah ketemu bapaknya? 

                           ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.