Jumat, 12 Juni 2015

Sebuah Buku

"Kamu ngapain?" tanyaku.
Anak lelaki di depanku sedang membuat lubang di tanah, di tangannya ada beberapa potong kunyit.
"Ini, menanam ini" anak itu menunjuk ke kunyit di tangannya.
"Untuk apa?" tanyaku lagi.
Dia menatapku sebentar, beralih lagi ke tanah di depannya, dia mulai memasukkan kunyit itu ke dalam lubang dan menutupnya lagi dengan tanah.
"Aku menanamnya saja" jawabnya setelah selesai.

       
                                   ***
Pagi itu dia sudah berjongkok di depan gundukan tempat kunyit yang dia tanam kemarin. Dia menatapnya beberapa kali juga ke tangannya.
"Kamu ngapain lagi? menyiram kunyitmu?" tanyaku mendekat.
Dia tersenyum,"Tidak, aku sedang melihatnya saja"
"Itu apa di tanganmu?"
"Oh ini kertas"jawabnya.
"Untuk apa? tulisan apa itu?" tanyaku makin penasaran.
"Ah ini tulisan yang kusalin dari buku"
"Buku menanam kunyit?"
Dia menggeleng,"Bukan"
Aku kembali ingin tahu apa isi tulisan di kertas itu. Dia bahkan berlari menjauh dan bermain dengan kawan-kawannya.

                               ***
Kulihat dia kembali di tempat kemarin.
"Tidak kau siram tanamanmu?"
"Tidak"
"Loh bukannya kamu menanam kunyit kemarin?"
"Iya kunyit, tetapi menurut buku yang aku baca tidak perlu disiram" jawabnya.
"Menunggu hujan ya" tebakku.
"Tidak juga"
Aku memandangnya ketika dia berlari kembali sambil meninggalkan seulas senyum.
Aku sudah tak sabar, besok aku akan membongkar apa yang dia tanam itu, aku benar-benar tidak suka dipermainkan anak kecil.

                         ***
Aku menggali diam-diam tanpa lampu tanpa penerang apapun, aku takut anak kecil itu tahu. Tapi, yang kutemukan hanya beberapa buah kunyit yang kemarin dia tanam, basah bertanah.
"Ah sialan" aku melempar kunyit-kunyit itu.
Aku beranjak menuju rumah tak menghirau tanah yang berserakan, kutinggalkan begitu saja.

                        ***
Anak itu tampak heran menatap gundukan tanah yang kemarin dia tanami sesuatu itu. Aku menatapnya dari jauh. Dia tampak membawa sebuah buku, dia membolak-balik buku itu.
"Kenapa? kunyitmu sudah tumbuh?" tanyaku mengagetkannya.
"Enggak"
"Eh buku apa itu?" tanyaku.
Aku berusaha merebut buku di tangannya, dia mengelak dan lari menjauh.
"Hey" sialan dia kabur lagi.
Itu buku apa sih.

                      ***

2 komentar:

  1. Hux, ini sebuah buku yang membuat panasaran..
    Ditunggu lanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fikri : iya yang nulis juga ikut penasaran buku apa gerangan
      semoga ada lanjutannya ya :)

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.