Selasa, 16 Mei 2017

Deru Gunung

Judul: Deru Gunung
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerbit: Senja
Penerjemah: Nurul Hanafi
Cetakan: Pertama 2016
Tebal: 376 halaman

Apa salahnya mencintai kikuko dalam mimpi? Apakah kiranya yang perlu ditakutkan dan dianggap memalukan dalam sebuah mimpi? dan sungguh... apa salahnya mencintai dia secara diam-diam sepanjang hari?

Cerita tentang seorang tua bernama Shingo yang memiliki menantu bernama Kikuko. Suami Kikuko bernama Suichi berselingkuh yang bahkan membuat Kikuko menggugurkan kandungannya.

Novel Yasunari lain yang pernah saya baca sampai habis, seingat saya satu-satunya hehe, Beauty and Sadness subjudulnya jernih, pernah saya baca komentar orang lain begitu. Tidak meledak-ledak kalau menurut saya. Meskipun sempat dibuat bosan dengan alur cerita yang begitu-begitu saja, tapi ada sesuatu yang membuat saya ingin melanjutkan membacanya.

Kalau membaca buku ini ingat buku Lolita, semacam apa ya, kalau di dunia sebenarnya mungkin saya bakal berkomentar 'mertuo ora nggenah' atau 'tua-tua tapi sableng' dan seterusnya. Atau semacam buku Reuni juga, nostalgia seorang tua. Tapi ini karya yang saya baca juga seperti halnya Lolita, jijik-jijik embuh. Tapi begini kalau menurut saya sih ya, Lolita cinta seorang laki-laki yang tanpa penyesalan, kalau Reuni ya begitulah semacam penyesalan seorang tua, kalau Beauty and Sadness ya semacam itu, kalau Deru Gunung ini ya tidak sevulgar buku-buku yang tadi saya sebutkan, baiknya dibaca saja dulu kalau mau tahu hehe.

Ambil pelajaran saja, jadi kalau sudah menikah sebaiknya tinggal terpisah dengan orang tua. Jangan jadi satu rumah gitulah, ya kalau dalam kepercayaan saya sih agar dijauhkan dari hal-hal yang enggak bener, bukan muhrimnya he he. Ini mungkin seperti saya terlampau bawa emosi ya, tetapi jangan pisahkan realita dengan fiksi, yang fiksi mungkin saja berasal dari realita sesungguhnya. Tanya pak Yasunari, eh. Jadi semacam kasih dan kasihan itu bedanya kok jadi kabur.
 
Yasunari Kawabata di sini banyak menyelipkan tentang pohon-pohon, seperti di buku kumpulan cerpennya di Daun-daun Bambu yang banyak membahas tentang burung dan alam. Sepertinya dia menyukai alam. Meskipun saya tidak mengerti tentang pohon-pohon yang disebut di sini wujudnya bagaimana. Saya hanya membayangkan kehidupan keluarga di Jepang di saat perang, wanita-wanita dengan kimono dan kehidupan yah seperti kehidupan sewajarnya bukan semacam drama yang terlampau dilebih-lebihkan. Juga tentang perasaan masing-masing orang dari sudut pandang Singo sendiri, rasanya jadi adil saja jadi ngerti alasan kenapa Kinu sampai ngotot tidak mau meninggalkan Suichi misalnya, atau tidak mau menggugurkan anaknya misalnya.

Meski begitu saya sempat juga mencari tahu tentang pohon momiji, seperti daun pohon mapel ternyata daunnya, warnanya merah cerah dan saya suka bentuk dan warna daun keduanya. Ternyata pohon momiji juga punya arti loh, saya tahu setelah membaca-baca tulisan orang juga, semula saya pikir Yasunari pasti menaruh pohon momiji di sini bukan tanpa alasan. Dan benar saja pohon momiji punya arti sendiri. Seperti saat saya menemukan istilah 'gajah putih' di cerpen Ernest Hemingway yang berjudul Bukit-bukit Seperti Gajah Putih. Saya juga membaca di buku Yasunari ini tentang pohon bayam jepang yang di kampung saya disebut bayam jengger dan itu tanaman hias, juga labu Jepang yang sepertinya berwarna merah atau oranye itu. Sepertinya mungkin mirip labu di gambar ini. Mungkin sih, saya hanya menduga saja.

Segini saja ceritanya tentang buku ini, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.