Senin, 22 Juni 2015

Sebuah Buku (4)

Cerita sebelumnya.

Kakiku menginjak bibir lantai beton, ada rasa ngilu merayapi tubuh menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Jantungku berdegub tak beraturan, merasa tak sanggup melanjutkan langkahku. Sedikit melangkah ke depan tubuhku akan melayang ke bawah, entah ada sayap atau tidak.

"Cil kamu ngapain di situ?" teriak bang Ewo dari bawah. 
Baru ini dia tampak lebih pendek dariku. Biasanya aku akan mendongakkan wajah hanya untuk menatap dirinya bicara, dan ini terbalik gantian dia yang mendongak melihatku.
"Nggak ngapa-ngapain bang." 
"Kalau gitu turun sini, mau ikut gak?" tanyanya lagi sambil memicingkan mata dan menutup dahinya dengan telapak tangan.
Aku mundur menjauhi bibir lantai, ngilu sudah menghilang tapi setiap melangkah aku masih membayangkan sayapku. Sayap yang akan muncul seperti di buku itu, seorang maikat yang memiliki sayap. Cara yang diajarkan bang Ewo terlalu lama, bertele-tele tak jelas, apalagi yang kali ini dia suruh padaku. 
Aku melangkah mendekati bang Ewo. Matanya tajam menatapku, rambutnya yang tebal hitam dan berombak benar-benar kontras dengan rambutku yang kata bapak 'nantang langit'. Tumbuh lurus dan tegak.

"Kau sudah makan?" tanyanya sambil menatap lenganku yang tergores kayu.
Luka mengejar ayam kemarin sore, ayam yang tak mau masuk kandang. 
"Belum bang." 
"Yuk ikut." katanya sambil berjalan.
"Kemana bang?"
"Dah ikut aja gak usah pakai nanya."
Aku mengikutinya berjalan.  
Kakiku berhenti di depan warung mie ayam. 
"Pesan dua pak" bang Ewo sudah duduk di bangku kayu di depannya toples kerupuk berwarna hijau. Di sampingnya kotak tisu yang lusuh dan wadah cabai yang pinggirnya berantakan oleh sambal.
Bang Ewo mengambil gorengan di meja dan menunjuk wadahnya padaku.
Aku mengeluarkan sebuah buku,"Ini bang buku yang saat dulu abang tanya itu."
Bang Ewo mengambilnya dari tanganku,"Kamu percaya saja dengan buku ginian," katanya setelah membuka-buka halaman buku itu.
"Kalau itu gak benar kenapa bisa di buat jadi buku bang?"
"Gak tahu, mana ada kunyit berubah begitu saja hanya dengan di timbun, kamu aneh-aneh saja."
"Kalau sayapnya gimana bang?"
"Yang punya sayap itu burung dan malaikat, bukan manusia Cil." Bang Ewo melanjutkan makan, mengelap keringat di keningnya dan menambahkan acar ke mangkuknya.
              
                      ***
Malam belum begitu larut tetapi jalanan di depan rumah sudah sepi. Kakiku melangkah mendekat ke rumah Ucil, mau mengajaknya keluar sebentar semoga belum tidur.
Kuketuk pintu beberapa kali tetapi sepi tak ada jawaban.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang,"Cari siapa mas?"
"Ini pak, Ucil."
"Setahu saya sudah hampir setahunan kamar itu tidak ada penghuninya mas."
Lelaki itu berjalan menjauh sambil menuntun sepedanya. Sepeda kuno yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di bagian belakang sepeda ada setumpuk buku yang tampak usang dan rusak diikat dengan tali seadanya.
Aku menatapnya hingga menghilang ke jalan besar. Sebelum melangkah pergi aku sempat melihat sebuah kertas putih yang menempel di kaca jendela, "Di kontrakkan. Hubungi ..."

                   ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.