Kamis, 11 Juni 2015

Pantang Menyerah

Tubuhnya putih susu capitnya cokelat muda, mulutnya menggigit sesuatu, itu sepotong tanah liat.

Aku sering melihatnya, sangat sering. Kapan itu aku tutup dengan semen putih, masih juga muncul. Kapan lagi itu aku siram dengan oli dan minyak tanah, beberapa waktu hilang akhirnya muncul lagi. Kata tetanggaku kasih kapur semut saja, memang belum kucoba sih. 

Kecil remeh tapi pantang menyerah, itulah mereka.

Aku menekan gundukan tanah itu, masih lunak dan gampang dihancurkan. Seketika mereka mundur dari ujung bangunan mencoba bersembunyi. Di ujung setiap keping dinding tanah yang masih empuk itu ada kepala yang sedang meletakkan satu keping kecil tanah liat. Satu gigitan yang muat di mulutnya. Hanya satu gigitan. Mereka bekerja bersama-sama, menumpuk satu demi satu gigitan tanah itu hingga menggunung membentuk sekat dan dinding. Tanpa arsitek dan perhitungan rumit tata bangun mereka sudah menjadikan satu sarang yang kuat dalam sekejab. Dalam beberapa jam saja, tanah yang lunak itu telah mengeras, paginya tanahnya benar-benar sudah sangat keras. Selang beberapa hari jika tanah itu kubongkar kulempar pada ayam mungkin ayamnya bisa mati saking kerasnya.
Baru beberapa hari yang lalu tanah keras itu kupotong dan kubuang sudah dibangun sarangnya meninggi lagi. Saat aku bongkar dulu mereka muncul di lain tempat, dengan ukuran sarang yang lebih besar. Benar-benar pantang menyerah binatang satu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.