Rabu, 09 November 2016

Dor!

Dia mengendorkan ikatan dasi di lehernya.


  "Tidak, bagaimanapun aku tak akan pernah menceraikanmu, ingat itu. Terserah jika kau hendak lari ke pelukan lelaki manapun yang kau mau, tapi kamu tetap istriku."

   "Apa kau gila, kau bersama wanita-wanita cantik setiap malam dan aku dengan bodohnya menunggumu di kamar ini. Dan saat kamu pulang kau terlelap seolah tidak merasa bersalah sama sekali."
Perempuan itu melepas tali sepatunya, berjalan ke depan wastafel dan mengelap maskara yang melumer di sekitar matanya. 

   "Itu bukan urusanku, aku bebas dengan wanita manapun yang kumau dan kau tak berhak protes apapun padaku. Kau mendapatkan rumah, mobil, uang apapun yang kamu mau."
Lelaki itu menghempaskan punggungnya ke kepala ranjang. Mencopot dasi yang sedari tadi berusaha dia buka.

   "Kau pikir aku binatang piaraanmu, yang kau perlakukan sesuka hati dan kau tak pernah bermaksud melepasku? Gila kamu!"
Dia berbalik memandang lelaki itu sambil berucap kalimat barusan, sisa maskara hitam meleleh di pipinya.

   "Jika kau merasa bahwa kamu piaraanku kenapa kau tidak bertingkah layaknya piaraan? Duduk manis menikmati hidupmu. Bukankah itu tujuanmu dari awal?"
Lelaki itu berucap seolah wanita di depannya benar-benar budaknya yang sesuka hati dia perlakukan.

   "Aku manusia, kau tahu itu, aku bukan budakmu yang menyetujui semua keputusanmu pada hidupku. Aku manusia tau!"
Perempuan itu berjalan mendekat ujung tumitnya yang kemerahan menekan karpet merah hati di ujung kakinya. Kulitnya yang bersih kontras dengan gaun hitam yang dikenakannya.

   "Aku tahu. Aku majikan kau piaraan, dan nikmati atau jika kau memilih seperti ini, silakan saja. Aku tak peduli."
Mata lelaki itu tampak mencoba meyakinkan tekanan kalimatnya, tapi saat mata perempuan itu kembali berbayang air dan tangisnya pecah, mata itu berkerjab sesekali dan seakan menahan diri untuk tidak melunak sedikitpun. Harga dirinya terlalu tinggi dari siapapun di rumah ini ataupun di seluruh dunia sekalipun. Dia tak pernah mengalah tak pernah merendahlan dirinya, tak pernah. Dan tak akan pernah.

   "Laki-laki gila! Aku membencimu!"
Perempuan itu hendak menampar wajah mulus lelaki di depannya, tapi pergelangan tangannya dengan mudah ditangkap lelaki di depannya. Dan kemudian dengan mudahnya lengan perempuan itu dia hempaskan menjauhi wajahnya.

   "Kau kira tangan kotormu, boleh menyentuhku?"
Dia berdiri dan meninggalkan perempuan itu tergugu di depan cermin yang memantulkan tubuh tinggi semampai dibalut gaun cocktail hitam.

Makan malam di restoran termahal itu berakhir dengan lunturnya harga dirinya, sama seperti lunturnya maskara yang membentuk indah di mata lebarnya.

Lelaki itu membuka laci mejanya, mengambil pistol kecil warna hitam dan meletakkannya di meja. Dia membuka kemejanya, perut ratanya tampak sekilas.

Dor!

Kemudian hening. Ujung pistol yang masih menghangat itu terjatuh pelan dari tangan lelaki itu. Sebuah pesan masuk ke ponsel di dekatnya. Ponsel itu beralih ke tangan wanita itu, wanita yang terdiam menatap layar ponsel suaminya.

"Terima kasih untuk makan malam indahnya sayang" -pengirim Edward.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.