Sabtu, 09 Mei 2015

Angkuh dan Rapuh

Memikirkanmu tidak ada habisnya. Berasa gila, tak juga memahami semua ini. Entah berapa malam kulewati dengan menahan sejuta rasa menyiksa. Dan kau, seakan tak juga memahami. Aku khawatir jika ini hanya aku. Itu berita paling menakutkan yang bisa meluluh lantakkan duniaku.

"Temui dia, katakan padanya"
"Aku tak bisa, aku tak akan mampu mendengar jawabnya"ucapku kalah.
"Belum kau coba"
"Kau memaksaku"aku menatapnya.
"Apalagi yang kau tunggu, hingga ia melewati waktu dan menghilang lagi"
"Itu saran gila"
"Kupikir kau akan gila jika tak mengatakannya"
Aku menggeleng keras berusaha menepis semua itu.
"Aku tak mampu"

Aku menatap deretan awan yang bergerak pelan, bergumpal putih seperti permen kapas. Aku memberi warna pink pada awan yang itu, biru yang mirip bentuk ayam itu, dan kuning yang mirip ekor ikan.
Angin lembut menjatuhkan kumpulan daun dari pohon ke mukaku, aku menatap dahannya yang bergoyang dari tempatku terbaring di rerumputan.
"Kau keras kepala"ucapnya di sebelahku sambil menutup wajahnya dengan buku.
Dadanya naik turun beraturan, dia mau tidur? Aku menendang kakinya pelan dengan ujung kakiku.
Dia membuka wajahnya dan menoleh kearahku.
"Apa?" aku tak menghirau pertanyaannya.

Aku kembali menatap langit yang sudah bersih dari barisan awan putih. Awan pinkku menghilang ditelan gunung tinggi di kejauhan, mungkin sebentar lagi awan itu berubah jingga dan lembayung menumpuk di barat sana.

"Kau menghubunginya lagi?"
Aku menggeleng,"Tidak, aku tak berani lagi, dia terlalu...angkuh"
"Ha ha ha" dia tergelak bahunya terguncang-guncang. Bukunya hampir jatuh ke rerumputan yang lembab. Satu dua daun kuning yang hampir kering terlindas tubuhnya saat berubah posisi menghadap padaku.
"Puas kamu" kataku kemudian.
"Kau bisa menyimpulkan dia angkuh dari mana?"tanyanya masih dengan muka menahan tawa.
"Lihat saja semua fotonya itu, bahkan tubuhnya tak bisa menyembunyikan keangkuhannya, cara dia bicara cara dia menyapa penggemarnya, cara dia menjawab semua pertanyaan itu"
"Kamu tahu, orang paling angkuh itu justru orang yang paling rapuh"
Dia mengubah posisi tubuhnya seperti semula.
Kami menatap langit yang biru dengan dua tiga awan tipis yang melintas, dan satu burug kecil warna hitam yang tampak seperti titik di kejauhan melayang kesana kemari.
"Bukankah dulu kau juga menuduhku begitu" lanjutnya pelan.
Aku kembali menatapnya, matanya tak beralih dari langit, sengaja.


Kakiku menyusuri lantai bebatuan, menuruni anak tangga satu-satu, di sisi kiri ada tempat duduk dari besi dinaungi tanaman merambat diatasnya. Belum tumbuh banyak sehingga sinar matahari masih panas mengenai kulit jika duduk di kursi itu. Aku menatap seorang wanita asing yang sedang sibuk dengan kerajinan di sebuah rumah seperti pendopo. Dia tampak tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan hanya mengangguk saja.
"Ah"aku tak sengaja menabrak seseorang, dan kamera di tangannya terlempar jatuh. Aku buru-buru mendekat,"Maaf, aku tak sengaja, bagaimana kameranya?" tanyaku panik.
"Gak papa, kameranya gak papa" ucapnya.
 Lelaki muda umur sebayaku, hidungnya mancung seperti seorang bule, matanya cokelat. Rambutnya hitam lebat, agak bergelombang sedikit panjang dan diikat asal ke belakang.
"Ah, aku Aksa" kataku sambil mengulurkan tangan.
Dia menatapku,"Ah ya..." Beberapa waktu lalu.


Aku sampai di atas juga, dari sini kulihat pemandangan menakjubkan di bawah jauh di sana. Rumah-rumah tampak kecil dan pepohonan tampak seperti semak-semak saja. Dari sini gunung itu juga nampak menjulang kokoh.
Seorang lelaki mengejar langkahku,"Tunggu aku."
Dia lelaki yang sedang menikmati keindahan ini bersamaku, setelah melewati sebuah gerbang berpintu tiga tersusun dari batu hitam keabuan, menyusuri sebuah tempat yang mirip sebuah lapangan rumput yang bersih. Di sebelah barat tampak bangunan lain aku enggan memasukinya, panas cukup terik. Mataku menatap bebatuan yang mirip puing berserak tak beraturan dalam ukuran yang cukup besar itu. Mataku berganti ke beberapa pohon di lapangan itu, tampak teduh dan nyaman berbaring di bawahnya.
"Kita ke sana saja" tunjukku padanya.
Dia berjalan mengikutiku ke arah pepohonan menghindari sengatan cahaya matahari.

2 komentar:

  1. "Ah..aku arief," kataku sambil mengulurkan tangan.
    "Mbak ini kenapa?" Kuk tulisan fiksinya jadi tambah banyak?"... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arief W.S :
      "Arief ? sepertinya aku tak asing dengan namamu" hehehe
      nggak tahu ya kok jadi kayak gini blogku, lagi seneng nulis saja kok :)

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.