Senin, 27 April 2015

Sukadra dan Semut di Telinga

Maruta memiliki anak dari kelima istrinya bahkan jumlahnya cukup dihitung dengan kedua jari tangan dan kaki. Tetapi Maruta yang kadangmerasa dirinya Kasyapa merasa ada yang kurang ketika dua istrinya masih bermuram muka karena satu hal. Bukan karena mereka kurang cantik atau memikat hati tetapi karena keduanya berebut perhatian Maruta dan keduanya belum memiliki keturunan.

Sedih hati mereka berbanding lurus dengan kebahagiaan istrinya yang lain. Toh bagi mereka berbagi cinta dalam satu atap bukan lagi hal yang baru. Pagi itu telinga mereka seperti kemasukan seekor semut suaranya berisik dan mengganggu acara mengupas bawang di dapur.

“Rasanya Maruta masih menginginkan satu atau dua anak lagi dariku” ucap Kudra dengan senyum matanya melirik Sukadra dan Kalinga yang diam merasakan semut-semut merayapi telinga.

Hampir saja Kalinga mengiris jari tangannya sendiri, bukan karena melihat Maruta tetapi semut yang merayapi telinganya tak kunjung keluar. Bahkan terkadang dia berniat menarik baju Maruta agar setiap malam bersedia berada di kamarnya, tapi jangan sampai baju itu koyak, agar semut-semut itu tak lagi membuat sarang di telinganya.

Sukadra memberikan dua potong buncis pada Drupa yang dari tadi diam membisu. Mungkin dia sedang mencari siasat agar semut-semut Kudra tidak lepas di telinganya juga. Toh anak-anak Maruta darinya sudah banyak, sebanyak semut di telinga Kalinga dan Sukadra.

Kalinga kemudian berjalan menjauhi medan perang pagi itu, bersama Sukadra menuju ruang depan. Membiarkan Kudra dan Drupa yang lebih muda menyelesaikan urusan dapurnya.

Rasanya semut-semut itu masih mau membuat sarang di telinganya meskipun dia menjauh dari sarang semut itu sekalipun. Dia tak habis pikir bagaimana semut itu bisa menemukan jalan ke telinganya, seandainya dia bisa berbicara dengan semut itu maka mereka tidak lagi berumah di telinganya.

“Sukadra kadang aku berharap Maruta membangunkan rumah kita sendiri” ucap Kalinga.
“Aku lelah tiap malam mendengar bising di telingaku” maksudnya suara bising semut Kudra.
“Akupun begitu Kalinga” kenapa Maruta tidak memberi kita beberapa telur saja, seperti Kasyapa*. Kalinga dengan beberapa telur dan aku dengan dua telur saja, agar Kudra diam dan tak bermain dengan semut-semut sialan itu, batinnya.
 

Suatu sore Kalinga dan Sukadra duduk di ruang tengah, sebentar lagi anak Maruta bertambah satu. Tentu bukan dari Kalinga atau Sukadra karena Maruta bahkan belum memberi mereka telur- telur itu. Seperti Winata dan Kadru yang saling bertaruh warna Uccaihsrawa mereka bertaruh apakah anak Maruta kali ini laki-laki atau perempuan. Bagi tetangganya dan semua warga kampung Madyakarta kehadiran anak laki-laki atau perempuan Maruta adalah hal penting. Bukan hendak di kubur hidup-hidup jika perempuan, tetapi setiap Maruta memiliki anak laki- laki dia akan berkhotbah dengan khidmat di gardu ronda. Terkadang Sukadra bingung apakah mereka sungguh keluar dari cangkang telur pemberian Maruta. Apakah mereka benar lahir dari tulang rusuk yang patah. Apakah tulang rusuknya patah satu jika demikian, dia meraba tulang rusuknya sendiri. Bagaimana laki-laki lahir jika begitu apakah benar dari tanah. Besok dia berencana mengumpulkan tanah liat dari gunung dan membiarkan Maruta meniup-niup tanah itu, sebab tak mungkin dia mematahkan rusuknya sendiri, dia mengurungkan niatnya meminta telur pada Maruta.  

“Apakah anak Ludirasti ini laki-laki?” tanya Sukadra.
Kalinga menghirup bau teh di cangkir miliknya, menatap pohon rambutan yang berulat hijau dan berbuah satu dua biji. Dia berniat menebang pohon itu, atau menyulut ulatnya dengan api.
“Mungkin perempuan”
“Bagaimana kau yakin, bagaimana jika kita bertaruh saja” tawar Sukadra .
“Apa?”
Sukadra menatap Kalinga,“Bagaimana jika kita bertaruh, siapa yang tepat tebakannya maka semua pekerjaannya akan dilakukan yang salah tebakannya” Kalinga berseri-seri. Entah bagaimana dia begitu yakin kali ini.
“Kau sungguh-sungguh?”
Kalinga menganguk-angguk seperti burung beo di hadapan tuannya.
“Baiklah” 


Kicau burung di rumpun bambu menerobos bilik Ludirasti, peluh menetes di sekujur tubuhnya. Kalinga dan Sukadra tampak tak tenang di luar bilik. Berjalan kesana kemari seperti sudah lupa dengan semut-semut di telinga mereka yang berisik.  Semut itu menjadi seperti hilang minat untuk membuat sarang karena langkah Sukadra dan Kalinga mengguncang-guncang telinga. Mungkin mereka akan keluar dan kembali pada Kudra. Kudra sendiri bahkan sibuk menyiapkan air hangat dan kain untuk Ludirasti yang mulai meracau tak jelas menjelang kelahiran anaknya.

Sukadra membayangkan bagaimana jika anak itu dipaksakan saja lahir, hingga hanya setengah badan bagian atas yang tampak sehingga Kalinga dan dirinya tak perlu salah satu menjadi budak. Kalinga berpikir, seandainya Maruta memberinya beberapa telur maka anaknya mungkin membantunya mengubah lekukan tanah di antara paha anak yang lahir itu, itupun jika anak itu lahir dari tanah, tentu mudah mengubah benda itu. Kening Kalinga berkerut, jangan-jangan Sukadra benar dengan tebakannya. Semoga Sukadra terkena kutuk bakal telurnya, pikir Kalinga. Tapi kapan Maruta memberikan telur pada dirinya dan Sukadra pikir Kalinga.

Kalinga dan Sukadra serta istri-istri Maruta yang lainnya mulai resah, oleh kemungkinan terbaginya perhatian Maruta pada anak barunya itu. Apalagi Maruta begitu bangga bercerita pada para tetangga tentang calon anak laki-lakinya. Dia selalu berbangga dengan itu, padahal bagaimana jika anak laki-lakinya itu kelak seperti dia, memiliki lima wanita yang saling berebut telur dan akan menyebar semut satu dengan lainnya di telinga. Ramai pastinya kampung Madyakarta.

“Bagaimana apakah sudah lahir?” tanya Kalinga cemas. Drupa menggeleng, dia terus di dekat Ludirasti.
Kalinga Sukadra dan lainnya kelelahan hingga tertidur, seharian mereka menunggu kelahiran anak Ludirasti. Tampaknya bayi itu enggan keluar jika hanya menemui semut-semut milik Kudra, mungkin dia takut pada gigitannya yang panas. Jadi enggan untuk keluar hari itu. Malam semakin larut, Ludirasti masih mengaduh kesakitan sedang suaminya Maruta mungkin sedang menikmati kopi di rumahnya sambil menghisap rokok. Ludirasti menghadapi hidup mati ditemani Drupa.


Kokok ayam membangunkan anak kambing, tapi masih terlalu pagi. Saat Drupa berlari heboh menuju rumah induk tempat Maruta dan istri lainnya terlelap.
“Aduh celaka” teriaknya berulang kali. Mukanya pucat, wajahnya kusut.
“Ada apa gerangan Drupa?” tanya Kalinga dan Sukadra bersamaan. Jantung keduanya berdegup kencang. Takut jika menjadi budak semua pekerjaan jika kalah.
Drupa menunjuk-nunjuk bilik tempat Ludirasti berada menyabung nyawa.
“Kenapa dengan Ludirasti?” tanya Maruta yang muncul di belakangnya.

Kalinga dan Sukadra sudah berlari ke bilik Ludirasti. Bilik itu kosong melompong, yang tinggal hanya kain berdarah-darah dan bau anyir di sekeliling bilik.  Jendela bilik terbuka lebar, seperti baru saja ada Rahwana menculik Ludirasti, Maruta berlari menyusul diikuti Kudra dan yang lainnya. Maruta berteriak-teriak seperti gila mendapati Shintanya hilang diculik Rahwana.

“Siapa yang menculik Ludirasti, dimana anak laki-lakiku?” teriaknya tak kunjung berhenti.
Sukadra dan Kalinga terduduk di atas kursi kayu, keduanya berpandangan. Untung Rahwana membawa Ludirasti lebih dulu, sebelum tahu apakah bayinya laki-laki atau perempuan. Maruta meraung-raung menangisi calon anaknya yang hilang. Sementara Sukadra dan Kalinga merasa calon anaknya saling membantu dari balik telur-telur yang belum menetas.

Rumor yang terdengar, bahwa Ludirasti telah dilarikan Rahwana keluar kampung Madyakarta. Kudra menebak anak dalam perut Ludirasti anak Rahwana, maka dia melarikan anak itu dari jauh dari Maruta. Terlebih jika anak itu mungkin laki-laki. Kalinga menebak Ludirasti takut anaknya kemasukan semut-semut milik Kudra yang panas menggigit. Sukadra menebak mungkin Ludirasti tak tega mengubur anaknya yang lahir perempuan, demi takutnya menghadapi Maruta yang terlanjur mengelukan calon bayinya. Ludirasti kemudian lari dengan Rahwana. Kudra bingung menghadapi semut merah di sarang telinganya, berharap dia menemukan sarang baru pengganti telinga Ludirasti yang hilang.


*) Kisah Kasyapa dari buku Misteri-Misteri Terbesar Indonesia 2 karya Haris Firdaus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.