Kamis, 23 Oktober 2014

Peka

Terlalu peka terhadap sesuatu itu sangat merepotkan tetapi kadang juga sangat membantu. Misalnya saja dahulu pernah suatu waktu air sumur dari tempat saya kos mendadak bau tidak sedap. Hal ini sudah saya rasakan beberapa hari, ketika saya merasa aneh dan baunya belum menyengat saya sudah tidak menggunakan air keran dari sumur itu untuk memasak. Hingga baunya yang cukup tajam sangat mengganggu saya, dan akhirnya bau tajam yang tidak enak itu tercium juga setelah beberapa hari oleh suami saya. 

Padahal sudah sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah mencium baunya dan bahkan air kamar mandi sudah saya tuangi dengan cairan disinfektan. Anehnya dari beberapa orang yang kos di tempat itu dan termasuk pemilik kos sendiri kurang lebih 5 rumah tidak ada yang komplain sama sekali. Pada akhirnya suami saya memberanikan diri bertanya kepada pemilik kos untuk mengecek sumurnya, dan apa yang di temukan menjawab kekhawatiran saya beberapa hari itu. Seonggok ayam yang sudah mati terapung di sumur. Untung sudah tidak saya gunakan air itu sejak beberapa hari yang lalu. Akhirnya ibu kos menguras sumur dan membersihkannya, dan beberapa tetangga kos baru semua pada ribut saat itu. Mual - mual saya membayangkan mereka mengkonsumsi air itu selama beberapa hari, kalaupun saya mengingatkan saya toh saat itu belum punya bukti apapun.

Kejadian serupa juga terjadi beberapa waktu sebelumnya, ketika saya mencium bau gas dari balik pintu rumah sebelah. Saya kebingungan dengan bau yang menyengat dan membuat tidak nyaman itu, tetapi suami saya seperti biasa hanya bilang bahwa itu mungkin bau cicak mati atau apa. Hingga pintu rumah kami diketok oleh seseorang dengan tergesa, ternyata pemilik rumah sebelah takut karena tabung gas dirumahnya bocor. Suami saya pun membantu mengangkat tabung gas 12kg itu karena penghuni rumah sebelah saat itu perempuan semua.

Mungkin ini hanya kebetulan saja. Biasanya orang mengalami mimpi yang sangat jelas sehingga kita masih mengingatnya ketika bangun. Saya biasa mencatat mimpi - mimpi saya yang saya anggap penting. Pernah saya mencatat mimpi saya hingga suatu ketika mimpi itu saya lihat benar- benar. Baru saya cerikan kepada suami saya. Bahkan saya dan suami pernah mengalami mimpi yang sama, tetapi kami sama - sama tidak bercerita. Hingga ketika hal itu terjadi kami baru saling bercerita bahwa kami sama- sama mengalami mimpi itu sebelum kejadian itu. Menurut yang pernah saya baca bahwa mimpi itu seperti belum memiliki kaki, dan ketika kita membicarakan atau mengatakan pada seseorang maka kita memberi kaki padanya. Maka kita tidak boleh menceritakan mimpi kita kepada sembarang orang sebelum sekian hari. Masih menurut yang pernah saya baca juga bahwa mimpi itu menggambarkan alam bawah sadar seseorang, ada juga mimpi yang hanya kembang tidur saja. Apapun mimpi kita asal jangan mimpi yang tidak baik saja hehe.

Untungnya peka terhadap sesuatu ini tidak menjadi -jadi seperti yang dialami oleh orang - orang yang memiliki indera berlebih. Kami hanya kebetulan saja mengalami hal - hal yang juga kebetulan. Saya kira saya tidak akan sanggup jika mengalami hal - hal yang dialami oleh mereka yang berindera berlebih itu. Apalagi jika peka terhadap hal -hal yang tak kasat mata.

2 komentar:

  1. mungkin sebaiknya lain kali jika mbak DH mengetahui ada sesuatu yg janggal, mbak langsung saja bilang ke orang-orang biar sama-sama bisa mencegah sesuatu yg tidak diinginkan terjadi..

    BalasHapus
  2. Budy Sinichi- Aiko: Jika mengatakan sesuatu tanpa bukti, biasanya orang tidak mudah percaya pak, makanya lebih baik saya diam saja.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.