Kamis, 15 November 2012

TENTANG KAMU DAN AKU

Kamu mengajariku bagaimana untuk mencintai, kamu juga mengajariku untuk melupakan. Kamu cinta kamu hidup kamu warna kamu rasa kamu hati. Kamu juga mengajariku bagaimana sebuah logika, kamu mengajariku bagaimana patah, kamu mengajariku redup dan pudar. Jika kamu dulu siang dengan terang dan keriuhan kini kamu malam dengan keheningan. Kini beku sudah padam sudah. Semua usai tertinggal dimasamu, diceritamu dikisahmu. Kamu ada untuk kukenal untuk kutahu, untuk kucinta untuk kulupakan. Untuk kamu aku menjadi beku dalam patah dan redup dalam pudar.

Kenapa kau buat aku mencintai jika hanya untuk kau hempaskan. Kenapa kau buat aku mengenalmu jika hanya akan kau lupakan. Kenapa kau hadir dalam hidupku jika akan berlalu dan hilang. Jika aku berarti bagimu kenapa kamu tidak menahan langkahku ketika aku menjauh darimu. Jika aku adalah hati dan hidupmu kenapa kamu tak menjadikanku bagian penting dalam hidupmu. Jika benar- benar mencintaiku kenapa melepasku ketika aku akan menjauh. Katamu demi kebahagianku, apa kamu tahu, kamulah bahagiaku.

Ketika aku mencoba menjauh darimu, aku hanya ingin kamu menahan langkahku. Aku hanya ingin tahu seberapa besarkah rasa sayangmu padaku, apa kamu akan mencegahku menjauh atau justru benar - benar melepaskanku. Ketika aku tak mengungkapkan rasa sayangku, ketika aku tak menunjukkannya padamu, masihkah kamu menyayangiku. Ketika aku bilang aku benci kamu, ketika aku bilang tak suka lagi padamu, apakah kamu benar- benar percaya itu. Satu hal saja yang perlu kamu tahu, aku hanya ingin tahu seberapa besar kamu menginginkanku. Hanya sebatas rasaku padamu atau melebihi itu.

Dan ketika kamu tak bicara padaku, tak bertanya kabarku, tak menulis untukku, aku tahu sekarang.
Sebatas itulah rasa sayangmu padaku.

(Teruntuk - kawan lama, di sebuah kampus )

4 komentar:

  1. Fikri : tulisanku lah siapa lagi
    aku kan satu - satunya admin di blog ini hehe

    BalasHapus
  2. Iya sih...
    tapi, siapa tahu ambil dari mana gitu
    .
    juga bahasanya beda.

    BalasHapus
  3. Fikri : sejauh yang bisa kuingat itu tulisanku sendiri, nulisnya pakai hati pas lagi galau galaunya hehe, bahasanya bahasa hati, hanya kalimat yg di cetak tebal paragraf bawah 'ketika aku mencoba-langkahku' itu bukan punyaku, jadi agak janggal. Jelek-jelek tulisanku sendiri hehe.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.