Rabu, 15 November 2017

PENENGAH PERTENGKARAN

Siang itu seperti siang lainnya, kami berbincang sekedarnya sambil mengerjakan ini itu. Dan seperti biasanya juga, dia akan bercerita atau saya yang akan memulainya. Dan sebenarnya dari percakapan-percakapan seperti ini saya belajar menjadi penyimak.

Siang itu, dia bercerita tentang sepasang suami istri yang bersikap lain dari biasanya. Maksudnya, dulu pasangan itu sangat ramah, tetapi sekarang mereka jadi nampak 'berjarak'. Berjarak maksudnya jadi tidak begitu ramah lagi atau bahkan seperti tidak begitu suka saat dikunjungi. 

Ceritanya begini, jadi sepasang suami istri sebut saja suami A dan istri B. A dan B ini semula sangat ramah dan baik setiap menyambut kehadiran kawan saya dan keluarganya saat bertamu. A dan B ini masih famili dari kawan saya. Tapi tak berapa lama kawan saya merasa akhir-akhir ini sikap B (istri) berubah. dan hal ini juga dirasakan beberapa saudaranya. Apa gerangan masalahnya?

Saya kemudian menanyakan awal mula perubahan itu terjadi. Jadi, AB ini cukup dekat dengan kelurga kawan saya ini. Setiap ada masalah ya saling bantu, terutama A (suami) juga dengan senang hati membantu jika ada masalah di keluarga kawan saya. Hingga, kedekatan itu pula maka sering cerita-cerita masalah keluarga masing-masing.

Hingga suatu saat orang tua kawan saya ini meminta bantuan pada A, dan hal ini membuat B kurang suka. Dan ada perkataan di belakang yang sampai pada keluarga kawan saya. Dan saat itulah perubahan sikap B dimulai.

Dari cerita itu kami menduga kemungkinan B cemburu pada kesuksesan keluarga kawan saya (kebetulan usahanya sama dengan B) menurut kawan saya. Mungkin juga cemburu dalam artian sebagai cemburu seorang istri pada sikap suaminya pada perempuan lain (menurut saya).

Sebelum ini saya juga pernah mendengar kisah serupa, dan berakhir dengan perceraian. Masalah
sebuah kelurga itu bisa dibilang rumit, bahkan sangat rumit. Mirip bisa jadi, tapi saya yakin banyak sekali faktor yang memengaruhi dalam sebuah konflik di keluarga. Tidak sesederhana kelihatannya. Banyak faktor yang memengaruhi. Mungkin kita bisa memahami sikap seseorang (yang bagi orang lain sangat aneh dan tidak dipahami itu) jika kita melihat melalui kacamata orang tersebut. Jika kita belum pernah mengalami kejadian serupa pasti sulit memahaminya. Jika belum? tunggu sampai kamu cemburu, benar-benar cemburu.

Sejauh ini, saya bisa ambil kesimpulan bahwa, kehadiran orang ketiga dalam sebuah konflik suami istri, hanya menambah konflik semakin memburuk. Orang ketiga di sini bukan selingkuhan ya. Maksudnya pihak di luar mereka berdua. Seperti misal A mendatangi si C untuk bercerita sekedar membagi beban. Entah C itu sejenis atau lawan jenis. Maka C akan memberikan pendapat, Atau mengusulkan hal ini hal itu, biasanya. Yang hal ini (kadang) memojokkan pasangan A. Atau menyalahkan pasangan A (lebih buruknya) atas masalah dalam keluarga itu. Saya ulangi, sejauh ini, apabila pendapat saya suatu saat berubah itu bisa saja loh ya.

Apa yang terjadi saat si suami pulang ke rumah, dia membawa obor bagi pertengkaran dalam rumah tangganya. Kenapa? bukan hanya laki laki, perempuan secara tak sadar ada yang suka membandingkan. 

Membandingkan suaminya dengan laki-laki lain, membandingkan istrinya dengan perempuan lain.

Pihak suami, karena melihat kawan perempuannya yang selalu tampil manis, baik, sabar dan nyaris sempurna selama di kantor dia bandingkan dengan istrinya di rumah yang nampak apa adanya. Ya jelas, di kantor atau di saat ketemu itu bukanlah setiap waktu/ setiap saat, dia tidak melihat dia sebenarnya. Tidak melihat saat dia mengalami saat-saat terberatnya, saat-saat terburuknya. Saat ada masalah dan lainnya. Ditambah jika si istrinya di rumah cenderung lain dari keinginannya atas sosok istri idaman versi dia. Sebaliknya, seorang istri mungkin saja membandingkan suaminya. 

Karena saat orang lain mendengar curhat seorang istri (satu pihak), dia akan melihat dari kaca mata si istri itu. Dan ada kemungkinan membenarkan penilaian si istri. Semua masalah jadi semakin runyam, jika suaminya itu tidak baik dan lainnya. Saat yang diajak bicara sedikit melihat kebenaran itu maka dia akan mengiyakan, bahkan parahnya akan menambah-nambahi. Dan saat si istri pulang ke rumah, pertengkaran semakin hebat, seakan-akan dia mendapat dukungan atas penilaiannya (membenarkan).

Dan bayangkan jika si suami juga mendapatkan 'regu pendukung' dari pihaknya. Apa yang bakal terjadi? yap, pulang bukannya membawa air untuk memadamkan bara pertikaian, yang ada bawa api
yang makin membesarkan pertikaian. Kecuali, kau menemukan seseorang yang membawa air bagi pertikaianmu. Bersyukurlah jika kamu memiliki kawan atau saudara seperti itu, sebab kadang benar adanya jika manusia senang melihat manusia lain menderita.

Saya sendiri pernah di tengah-tengah pertengkaran sepasang suami istri, yang saya tidak ada masalah apapun dengannya. Semata kesalah pahaman, yang tidak bisa dijelaskan lagi. Ketemu saja dengan pasangan itu paling baru sekali dua kali. Tapi saya dilibatkan hanya karena saya kenal dengan si suami. Dan yah saya paham, bagaimanapun saya menjelaskan si istri juga nggak akan bisa berpikir jernih, jarang sekali yang menganggap kawan suaminya hanya sebatas kawan, benar-benar hanya kawan. Bahkan kadang saya sampai berpikir apa saya menjadi ancaman bagi istrinya? Kadang karena saya jengkel, terlintas kepikiran ingin menjadi apa yang istrinya tuduhkan sekalian ha ha. Tetapi untung saya masih berpikir waras. Saya dipersalahkan sekedar sebagai kawannya? Akhirnya saya pernah dalam posisi yang dicemburui, pun mungkin untuk memahaminya saya juga kebetulan pernah dalam posisi yang cemburu.

Jika sudah begitu, saya merasa lebih baik mundur, ambil jarak, atau bahkan menghilang demi kebaikan pasangan itu.

Itu pernah saya lakukan. Saya seperti memutuskan hubungan dengan kawan demi kebaikan mereka. Itu satu satunya hal yang bisa saya lakukan untuk kebaikan mereka, semakin saya mendekat turut campur, menasehati atau mencoba menjelaskanpun, pada akhirnya yang mereka butuhkan hanya saya menjauh. Untuk memahaminya ya coba berada di posisi yang kamu nggak pahami itu. Kebetulan kami berjauhan jadi mudah saja seperti menghilang, saya nggak bisa membayangkan jika kami berdekatan, pasti aneh sekali jika saya tiba-tiba seperti orang yang nggak kenal.

Karena apa? karena sekeras apapun kita menjelaskan, apa yang pasangannya lihat itu lain dengan apa yang kita lihat. 

Jadi ibarat sebuah kubus, kita menjelaskan sisi A padanya dan bagaimanapun pasangannya itu tetap memandang sisi kubus di bagian B. Tak akan paham dengan penjelasan kita, emosi, kecemburuan dan entah apalagi sudah membutakan matanya dengan sisi A yang kita lihat.

Anggap saja kita melihat tindakan kita sebagai Anggur tetapi dia melihatnya sebagai Jeruk. Sesuatu yang sama sekali lain. Dan demi kebaikan pernikahan atau hubungan pasangan itu maka lebih baik saya menghindar, menjauh atau menjaga jarak. Sebab, jika kita masih ngeyel dengan keingian untuk berbuat ramah, baik dan sebagainya, itu justru seperti menyiram minyak pada api. Jika tidak begitu dan berhasil pun itu tak akan mudah saya kira. Demi kebaikan hubungan kawan atau saudara maka lebih baik bersikap biasa saja (sesuatu yang berlebihan memang tidak baik), atau sedikit mundur dan berjarak sejenak dari pada menambah amarahnya. Cemburunya seorang wanita itu kadang mengerikan. Jadi, bagaimana menurutmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.