Minggu, 03 September 2017

Kopi Panas Campur Es


Daftar : sebotol bius, alat suntik baru, kapas steril, satu gulung tisu, pisau.

Aku meletakkan kertas di meja. Mencari jaketku dan memasukkan kertas itu ke saku jaket. Kunci motor kuambil dan bergegas menuju ke apotik. Mbak-mbak penjaga sempat menatapku sekilas, kemudian kertas di tangannya.
                “Ini? Satu saja?” tanyanya.
                “Ya mbak,” aku mencoba tersenyum.
Kuambil kresek putih dari tangannya. Tadi sempat kulihat dia berbincang dengan kawannya yang berjas putih. Perempuan satu lagi juga menatapku sekilas.

Aku menstarter motor dan melaju di jalan yang dingin dan lembab.  Kaus dalam yang kukenakan seperti menempel lekat dikulit punggung dan perut. Rambutku juga melekat.
Kuletakkan plastik isi barang-barang itu di meja. Kunyalakan lampu, di luar sudah gelap. Buru-buru kunyalakan kompor. Sedikit air cukup untuk dua kopi. Aku menghidupkan kipas angin berwarna pucat yang berdiri kaku di pojokan. Sepucat kulitku. Ketika pintu diketuk, 
                “Masuk saja.”
Seorang perempuan masuk, rmendekat dan bibir lembutnya menyapu bibirku. Bibir yang menjadi hiasan malam-malam saat membayangkannya sendirian.
                “Kau lengket.”
Dia melepas jaketnya yang berwarna hitam, mengucir rambutnya yang sebahu. Dan duduk di pinggir ranjang. Dia hanya memakai kemeja putih dan celana pendek. Cara duduknya juga selalu begitu.
               “Kau mau kopi?”
Dia mengangguk. “ Uff panas ya akhir-akhir ini.”
Keringat mengkilat di dadanya, dia sengaja membuka kancing kemeja di bagian dada, bra hitam itu menggenggam erat sesuatu di dalamnya. Dia mengelap keringat. Dan membasahi bibirnya yang merah muda. Bunyi air mendidih mengalihkan mataku. Aku berdiri mematikan api dan menyeduh  kopi. Dua sendok gula, 1 blok krim.
                “Yap.” Dia tersenyum memegang kopinya.
                “Bukankah kita butuh es?”
                “Ya kukira.”
Aku mendekat melepas kemejanya dan melncium bibirnya, tanganku bergerilya di tempat lain.
                “Kau lengket sekali.”
                “Hmm..” aku mejawab begitu saja.
                “Tunggu kau sudah beli pesananku?” aku berhenti sebentar, menatap matanya dan berdiri menunjuk meja.
                “Itu.”
                “Bagaimana, kau tak berubah pikiran lagi tentang orang tua itu?”
                “Kukira tidak.”
Aku menambahkan es pada kopi dinginnya.
                “Apa aku harus ikut juga?” tanyanya.
                “Ya.”
Aku menarik penuh cairan serupa susu itu ke dalam alat, lebih seperti es krim putih yang lumer. Atau jus sirsak yang kental dan lembut.
                “Kukira ini cukup.”
Aku mencium bibirnya lagi dan rasanya aku jadi ingin melakukannya hal lain sebelum pergi.

***

Pintu rumah kami kunci pelan. Bunyi klik hampir tak terdengar. Dia naik taksi yang sudah berhenti di depan. Aku melompat menyusul naik. Tas selempangnya penuh rahasia. Isi yang berpindah tempat.
Rumah itu benar-benar besar, para penjaga dan pengawal tampak lalulalang. Bahkan para pencabut rumput saja berseragam. Dua perempuan membukakan pintu, kami masuk diantar ke ruangan lelaki itu. Lelaki umur enam puluhan yang masih berdiri di dekat jendela. Dia menyambut dengan anggukan. Dan menyuruh kami menunggu sebentar.
                “Aku mandi sebentar ya, silakan pesan minuman kalian. Leila bawakan apa yang mereka minta.”
Kami memesan es lemon untuk siang yang panas ini. Untuk tas plastik yang diterbangkan angin di gantungan motor tadi. Lelaki itu dengan rambut basah berbaring di tempat tidur.

                “Mulailah, aku siap,” ujarnya kemudian.
Aku berdiri membawa tas selempang dengan saku banyak dan jas putihku berkibar ditiup angin dari jendela. Aku mengeluarkan alat suntik, membuka penutupnya dan membenamkan ujung jarum di lengannya. Beberapa menit kemudian dia mulai memejamkan mata, nafasnya tenang.
Perempuan itu menatapku sesaat, berjalan ke pintu dan menguncinya. Aku mengeluarkan pisau yang baru kubawa tadi, cukup tajam meski tidak mengkilat.

Aku menggores lengannya pelan, darah mengucur deras, tepat di dekat nadi. Laki-laki itu tak bergerak masih bernafas pelan. Kami duduk sekitar satu jam, saat jari tangan laki-laki itu bergerak sebentar dan diam kemudian. Dua jam berlalu, kami menutup tubuhnya dengan selimut. Menyingkirkan baskom penuh darah yang entah keberapa kalinya. Menuang di closet dan mengguyur entah juga untuk kesekian kalinya. Aku menjahit luka itu pelan, membalutnya dengan perban sehingga rapi, sempurna. Wajahnya pucat, habis. Aku membuka pintu dan berjalan keluar. Setelah menyuntikkan lagi padanya cairan putih.
                “Jangan dibangunkan dulu, operasi berjalan baik dan kukira dia butuh istirahat malam ini. Dia pun tadi berpesan begitu.”
Dua penjaga berbadan tinggi besar itu mengangguk sambil sedikit melongok ke dalam. Kami menaiki taksi yang menunggu dan berlalu dari situ.

***

Kami duduk berhadapan di balkon ditemani gelap kota. Kami bersulang di meja itu dengan dua botol minuman ringan.
               “Untuk kita.”
               “Ya, untuk malam-malam yang indah. Kukira posisinya bakal diambil alih tangan kanannya, tapi bagaimanapun usaha penggantinya tidak akan sebaik dirinya lagi. ”
               "Stop meracuni otak anak-anak muda."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.