Rabu, 19 Juli 2017

Temuan Tak Biasa (3)

Bagian kedua baca di sini.

Kukira aku bukan...

Aku kadang cerewet jika Sofi atau Dean sedikit jorok, sembarangan menaruh sesuatu. Kadang aku juga mengatakan hal-hal buruk tentang sesuatu yang kadang kupikir tidak ada hubungannya, misalnya seperti "Dulu si anu persis seperti ini dan kau tahu, dia hanya jadi seperti itu" sebenarnya aku terlalu keras pada mereka. Maksudku, setidaknya aku sudah berusaha maksimal agar mereka menjadi orang yang baik kelak.

Mengomel juga kalau dia pulang terlambat, makan malam yang dingin, dan salah satunya bahkan sudah tidak bernafsu untuk makan lagi. Memilih naik ke tempat tidur dan menutup pintu kamar. Jika begitu dia akan meminta maaf berulang kali sepanjang makan malam, kadang juga membantuku mencuci piring. Kadang hal ringan begitu itu terasa berat juga jika sedang capek. Sering aku katakan "jika itu berat saat kau kerjakan, maka berat pula jika kau menyuruhku mengerjakannya"

"Aku akan mencintaimu sampai kapanpun" aku sering tertawa mendengar itu. Sampai perutku buncit, berlipat? tanyaku waktu itu. Aku bilang juga "Apakah kau yakin aku masih mencintaimu seperti itu juga?" bahkan saat kau botak dan gendut. Jangan katakan hal-hal menghibur yang tidak benar. Bagaimana jika ada perempuan menarik yang menggodamu, apa kau masih bilang begitu? Dan kau hanya tertawa. Katamu "kadang orang terlampau puitis"

Sebelum penemuan batu itu, aku berkhayal menang undian hingga bisa menjauh dari sini beberapa saat. Mungkin sebenarnya lebih enak sendirian saja. Terlalu 'penuh' rasanya selama ini, sendirian di tempat jauh rasanya lebih baik. Tapi saat aku melihatnya di televisi beberapa saat lalu, dia tampak biasa saja. Kupikir dia akan memanfaatkan waktu untuk menikmati kesenangan barunya, pulang malam, menikmati ketenaran sementaranya, ternyata tidak. Dia seperti air yang tenang, tak beriak sama sekali. Dia menyebutku, anakku, dan kota ini. Dia masih sama, orang yang sama. Seperti tidak terjadi apa-apa. Justru karena itu aku merasa salah menilainya. Kupikir ini karena ibunya. Atau ya begitulah dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.