Senin, 17 Juli 2017

Aron Si Pohon Tebu

Tangannya menyusuri kancing-kancing kemejaku, kemeja putih berpita pink di ujungnya. Dia membuka satu kancing paling atas, kancing kedua telah berpisah, kancing ketiga dibagian perut dan terus hingga...


    "Hentikan!! Apa yang kamu lakukan?" Aku menepis tangannya, meninggikan suaraku. Sekencang yang aku bisa bersamaan dengan keterkejutanku sendiri pada suaraku.
Aku bisa berteriak pada Aron, anak paling bengal di kelasku. Dia tertawa dan mendorong tubuhku ke arah deretan locker ruang ganti. Wajahnya mendekat padaku dengan tatapan tajam dan rambut kemerahan yang menutup separuh wajahnya.
    "Diam!! Atau aku memukulmu!" bisiknya ke telingaku. Bau daging dan bawang tercium dari mulutnya. Aku bergidik saat dia tak melepas cengkeraman di leher kemejaku.
    "Miss Lizzy akan tahu, sebentar lagi kelas bahasa..," ucapku mencoba menakutinya.
Tanganku gemetaran menahan takut, begitu juga lututku yang seperti kehilangan tenaga. Dia mundur beberapa langkah, aku melirik ke arah pintu dan berlari melewatinya.
Belum sampai tanganku ke gagang pintu dia sudah mencengkeram pundakku dan menarikku ke belakang, membanting tubuhku ke arah lemari penuh piala. Piala kebanggan tim bola.
    "Jangan berani-berani keluar tau!! Aku belum selesai denganmu," bentaknya di mukaku.
Tangannya menekan keras ke arah dadaku membuat sesak napas. Tangannya seperti batang pohon yang kuat. Aku benar-benar takut, tapi bahkan saat seperti ini tak ada seorang pun melewati ruang ganti.
    "Apa kamu pikir ada yang bakalan ke sini setelah jam istiirahat usai? Jangan harap," ancamnya lagi.
Tubuhnya tinggi beberapa senti di atas pundakku, ketua tim bola selama dua periode.
Aku tidak akan mampu melawannya.
Tangannya mendekat lagi, aku beringsut ke arah samping. Aku terdesak di antara lemari piala dan barisan locker ruang ganti.

*Tulisan ini pindahan dari akun saya yang lain, yang sudah lama tidak aktif

2 komentar:

  1. Mana nih lanjuttannya T,T Lagi panas-panasnya malah di potong :P Emang Suzy gemar baca Harlequin ampek piawai nulis genre begini? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe belum ada sambungannya ini, belum piawai, apalah saiya ini..ntar deh nulis lanjutannya :)

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.