Selasa, 30 Mei 2017

Air Bersih Menjadi Barang Langka

Kemarin sore aliran air PAM di rumah mati, jadilah saya kebingungan untuk memasak. Padahal paginya masih baik-baik saja. Bukan kali pertama sebenarnya aliran air dari PAM mati, dan membuat kerepotan. Air sempat mengalir baik sekitar waktu magrib tetapi pagi tadi air kembali mengecil dan hampir tidak bisa untuk apa-apa. Selama ini sesekali memang sering mati alirannya, tetapi saya masih diam saja.

Sebenarnya air PAM ini tidak saya gunakan untuk memasak, sekedar mencuci bahan makanan, piring, baju juga untuk mandi. Karena air PAM berbau kapurit yang cukup mengganggu, sedangkan saya orangnya agak ribet kalau urusan bau-bauan. Jadi untuk kebutuhan dapur saya memasak menggunakan air isi ulang. Memang bukan air isi ulang yang bermerk terkenal itu, kalau itu khusus untuk minum. Saya mengkonsumsi air mineral isi ulang karena khawatir dengan air di tempat saya yang berkapur, sedangkan saya pernah bermasalah dengan sakit saya dulu. Omong-omong saya pernah trauma dengan air isi ulang juga. Dulu pernah kejadian di kantor mendapatkan air mineral palsu. Hal itu kami ketahui dari berita di koran, pelakunya telah ditangkap, ya orang dekat kantor juga. Saya hanya menyarankan kalau dari pihak perusahaan air mineral itu lebih mengawasi produknya agar jangan sampai pemalsuan kembali terulang. Agar kami tidak ragu dan was-was untuk mengkonsumsinya.


Mengenai biaya air PAM setiap bulannya sebenarnya tidak ada masalah. Tetapi tadi saya sedikit bercerita pada seorang kawan. Ternyata di rumahnya pembayaran kebutuhan airnya lebih murah. Dia dan beberapa rumah tetangganya membuat satu sumur, kemudian mengalirkan aliran airnya untuk kebutuhan memasak dan lainnya ke rumah-rumah itu. Saya sempat kaget mendengar berapa biaya yang harus dia bayar setiap bulannya, lima ribu rupiah saja. Bandingkan katanya, dengan sebelumnya saat memakai air PAM bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Beberapa waktu lalu saya membaca kalau di kota ini juga sudah mulai menurun air tanahnya. Pengaruh apa? katanya dari yang meneliti soal itu, karena banyak berdirinya hotel. Saya baru tahu jika hotel menggunakan air PAM maka biaya untuk kebutuhan air bisa cukup besar. Misalnya, dari artikel yang saya baca itu 400an kamar saja bisa sampai 2 milyar. Wow, jadi mereka para pemilik modal yang tentu saja lebih berduit itu diam-diam mencari jalan murah dengan mengeruk air tanah, padahal air hotel digunakan oleh para pendatang. Sedangkan orang yang tinggal di kota ini disuruh menggunakan air PAM, hal ini merujuk peraturan bahwa perumahan harus menggunakana air PAM bukan air tanah. Ribetnya lagi katanya PAM di kota ini belum bisa mencukupi kebutuhan seluruh hotel, jadi...ya begitulah. 

Saya jadi kangen masa kecil saya di rumah ortu, menimba air jernih dari sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Sekarang, setelah saya besar, bahkan sudah tidak menimba lagi, tapi air sumurnya justru sudah tidak bagus dan bening lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.