Rabu, 19 April 2017

Mr Sam

Ruangan itu cukup besar, saat masuk pertama kali ke tepat latihan ini aku merasa begitu kecil. Aku kecil di tengah aula besar penuh peralatan yang hanya sering kulihat di gambar-gambar. Lelaki tinggi besar itu berdiri berkacak pinggang, sesekali tangannya menunjuk sana menunjuk sini, berteriak dengan suara yang dalam dan berwibawa. Tulang pipinya kotak persegi, membingkai wajah keras, alis tebal tetapi matanya lembut. Mr Sam.
  “Hey tanganmu kurang kencang, pukul lebih kuat lagi!” teriaknya pada anak bertubuh tinggi dan rambut berkucir. Wajahnya penuh keringat dan matanya penuh semangat. Kukira itu dia.

Beberapa minggu di sini akan cukup kuat untuk membuat telapak tanganku kapalan, atau setidaknya ada gumpalan otot muncul dari lengan atasku. Itu berarti cukup untuk meninju hidung Aron jika mulai menggangguku lagi. Tapi untuk itu aku yakin butuh sekitar lima hingga sepuluh bulan lagi agar aku cukup kuat melawannya.

  “Hey kamu, siapa namamu? Masuklah, dan ganti pakaianmu.” Suara lelaki itu membuyarkan lamunanku. Siapa yang tidak suka melamun di usiaku, nggak ada. Bahkan Ciara pernah bercerita dia suka melamun menjadi putri atau Ariel di laut. Ciara berkulit agak gelap sepertiku. Kukira aku tidak senaif itu. Dan otot bisep atau trisep yang kencang bagiku cukup masuk akal. Ciara? temanku latihan juga.

Aku berlari melewati anak-anak lain yang sudah berkeringat oleh pemanasan. Aku memasukkan tas ke locker ganti dan mengganti bajuku dengan yang lebih longgar, dari bahan elastis yang membuatku nyaman bergerak kemana pun. Aku menaikkan rambutku, mengikatnya kuat-kuat dengan tali rambut dan memakai bandana di rambutku. Aku siap.

Selama kurang lebih satu jam aku berlatih, sesekali aku berlari menenggak air minumku. Beberapa anak lain juga. Si pirang yang berdiri di sana itu, anak sekolah lain, dia pernah dihajar seorang bocah di jalanan, ibunya memaksa masuk ke sini. Umurnya sebaya denganku, satu lagi anak berkulit gelap, rambutnya keriting, kalau bicara kadang senang memakai “z” yang berlebihan. Seperti ada ular di ujung lidahnya. "Hai Carolz, apa kau lupa dengan jadwalmuz? Kenapa jamz segini baru datangz", aku manahan tawa saat mendengarnya bertanya begitu. Aku menjawab malas,"Oh yeahz, kukiraz aku lupaz." Ciara tergelak di sampingku saat itu. Jus mangga di tumblernya hampir tumpah ke lantai. Asal kau tahu, dia seorang bocah laki-laki.

Kami biasa saling memanggil dengan sebutan begitu, si roti, si kebab, si perokok, si sipit, si pirang, toh kami bukan anak besar yang terlampau serius untuk segala hal. Aku bahkan berharap tak lekas besar, untuk menjadi seseorang yang menjemukan. Sedikit-sedikit terlalu dipikirkan, bagi kami sebutan itu hal biasa, kami tak masalah dengan itu. Jangan heran saat ada yang menyebutmu si aneh.

  “Carol, majulah.” Suara Mr Sam mengagetkanku.
  “Yes Sir.” Aku melangkah maju, tapi ya tuhan, aku sedikit gemetaran, lututku rasanya melorot sampai lantai. Aku harus memungutnya.
  “Hai Carol, kau siap?” suara Ollik seperti menantangku.

Aku mengangguk. Buk! Satu tendangan kaki menghantam pinggangku. Aku benar-benar payah. Buk! Satu pukulan menyasar dadaku, aku benar-benar lemah. Ah ya, Aron, ingatan tentangnya cukup membuat aliran darah terpompa begitu gila ke seluruh tubuhku. Amarah membanjiri diriku, bahkan aku sampai berteriak saat melakukannya, aku menerjangnya. Tubuhku yang kecil terus mendesaknya dengan serangan yang lebih mirip tingkah seseorang yang kalab. Buk! Buk, Buk! Tiga pukulan telak ke dada. Dia tersuruk ke belakang.

  “Hei hei sebentar Carol, apa  masalahmu, kau menerjangnya seperti kesetanan, gunakan tanganmu, gunakan kakimu, jangan seperti kijang marah begitu.”
  “Bukankah aku hanya perlu menjatuhkannya, bukankah itu artinya menyerang sir?” tanyaku setelahnya, di antara nafasku yang tersengal-sengal seperti mau putus.
  “Yea, kau bisa menjatuhkannya, tapi kau menyerangnya penuh amarah, kau tahu amarah hanya akan membuatmu jadi kacau.”
  "Tapi sir, dia yang mulai," balasku.
  "Jangan mudah terpancing," ujarnya tenang. Yea sir, itupun yang dikatakan orang tua itu batinku kesal. Dia pikir aku ikan apa? bikin kesal saja.
  "Tapi sir, dia akan mengulanginya jika aku tak membalasnya."
  "Ya sudah, tapi jangan seperti tadi."

Aron? nanti kalau sempat aku ceritakan soal bocah sialan itu. Nanti, ya nanti kalau aku sempat. Kukira setelah aku makan malam atau setelah aku mengerjakan tugas sekolahku. Itupun jika ibuku tidak menyuruhku tidur lebih awal. Yah begitulah anak-anak, harus tidur lebih awal, kau tahu alasannya, tidak bangun kesiangan. Aneh bukan? semua juga tahu alasan itu. Bukankah anak-anak selalu dibangunkan, kenapa harus bangun kesiangan.

Kembali ke kelasku tadi. Mr Sam memberi isyarat kami mundur. Ollik sempat kesal melihatku, aku tak peduli. Ciara maju melawan Lee. Lee memakai kaca mata, jadi kalau kaca matanya dilepas, aku tak yakin dia bisa melihat gerakan Ciara dengan benar. Sedangkan Ciara memiliki bola mata lebar dan indah berbanding terbalik dengan Lee. Mula-mula Ciara nampak terdesak serangan Lee, tapi hanya beberapa saat saja. Setelahnya Ciara yang berpostur lebih tinggi mulai melancarkan tendangan-tendangannya, bahkan menurutku ini seperti menghajarnya. Sepertinya Mr Sam cuek-cuek saja, membiarkan keduanya bertarung begitu. Lee memegangi dadanya sebentar kemudian mulai menyerang, sayang sekali Ciara yang berambut pirang menghujaninya dengan pukulan-pukulan keras hingga lagi-lagi Lee terdorong sampai pinggir. Sebelum Mr Sam memisahkan mereka berdua, Ciara menendang cukup keras tubuh Lee, meskipun dia berusaha menahan tendangan kuat Ciara, tetapi sia-sia saja, Lee tersungkur. Keluar darah dari hidungnya, barulah Mr Sam mendekat memisahkan mereka.

  "Ciara jangan terlalu kasar begini." Mr Sam tampak sedikit tak suka.
  "Bukankah harus 'pukul lebih kuat' sir?" jawab Ciara sambil lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.