Jumat, 07 April 2017

Film PET dan Pupuk

Tentang Film Pet
Omong-omong soal nonton film, semenjak pemutar film saya rusak, saya jadi jarang sekali nonton film akhir-akhir ini. Karena sudah lebih berbulan-bulan bahkan tidak ada kabar, dan meskipun jaraknya tempat perbaikan dekat, saya sendiri males sekali untuk tanya. Oke, jadi intinya saya jadi jarang nonton film, kecuali kalau saya menyempatkan nonton di komputer orang atau warnet. Padahal selain membaca buku, film adalah kesenangan saya yang lain.

Kemarin saya sempat nonton film Pet ini. Nontonnya di mana, nggak usah tanyalah, wong itu film lama juga. Tentunya bukan di bioskop. Kapan itu pernah membaca sinopsis film ini dan jadi tertarik melihatnya. Ceritanya juga cukup unik menurut saya.

Tentang seorang laki-laki bernama Seth yang menyukai perempuan bernama Holly Garling. Ceritanya si Holly ini bekerja di sebuah restoran atau kafe gitu, cantik dan sepertinya belum ada yang punya. Hanya ada mantannya saja Eric yang berusaha mendekati Holly. Seth akhirnya menculik Holly dan menyekapnya di sebuah ruangan di tempat kerja Seth. Ceritanya seru, dan agak kaget juga endingnya malah gitu. Ternyata Claire seperti itu...ya gitulah. Sempat saya membatin pas melihat film ini, ini yang gila Seth apa Holly sih?


Tentang Kelinci, Pupuk dan Tanaman
Terus setelah nonton film ini kesannya apa ya? Ehm enggak ada sih, hanya mau cerita sedikit mengenai peliharaan saya saja. Setelah gembul nggak ada, kami memelihara kelinci hehe. Lumayan lucu sih seperti kucing juga. Tujuan memelihara selain untuk menuruti kemauan anak saya juga untuk hal lain. Yaitu punya pupuk gratis.


Ciko namanya, anak saya yang kasih nama

Biasanya saya membeli pupuk Npk (biasanya berwarna merah) untuk tanaman buah saya, hehe kayak banyak aja pohonnya ya, padahal hanya satu saja. Kalau beli bibit pohon biasanya dari hasil cangkok jadi kalau ditanam cepet berbuahnya, tetapi kalau dari biji menanam pohonnya seperti mangga misalnya, agak lama menunggu berbuahnya. Kalau saya khusus untuk pohon sawo, dulunya beli bibit dari hasil cangkok mungkin. Pohonnya masih dalam pot tetapi sudah berbuah. Pupuk Npk kalau seingat saya dulu saat di rumah bapak kalau memberi pupuk tanaman semangka (kalau sudah besar tanamannya) atau palawija lain sering menggunakan itu. Pupuk itu khusus buah dan bunga. Kalau untuk melebatkan daun biasanya dulu pakainya pupuk urea atau Za. Nah urin kelinci ini bagus karena mungkin hehe mungkin ya sama-sama ureanya. Tapi kata bapak sekarang untuk padi pakainya juga Npk aja udah enggak menggunakan urea yang warnanya putih seperti gula pasir itu. Jadi dengan pupuk Npk tanaman bunga mawar saya bisa berbunga terus dan tanaman buah saya juga berbuah terus. Tapi, saya hanya memupuknya sesekali saja, selebihnya memakai pupuk kompos.

Eh omong-omong dikit tentang pupuk, saya dulu sering ikut bapak memupuk tanaman di sawah, kadang saya iseng ikut mengaduk-aduk campuran pupuk. Pernah saya mengaduk campuran pupuk dengan air di ember, saya iseng mengaduknya pakai tangan langsung, dan...brrrr rasanya dingin banget airnya. Seperti air es, saya lupa sih pupuk apa dulu, entah urea atau Npk. 

Nah kembali ke soal pupuk karena kadang saya membeli kompos kemasan di tempat penjual bibit tanaman hias meskipun harganya murah tetapi merepotkan. Saya terkadang saat membongkar tanaman di pot cukup kesulitan mencari tanah. Terkadang saya membawa dari rumah bapak kebetulan ada sisa kompos menumpuk. Karena repot itu maka kepikiran untuk memelihara kelinci. Kebetulan juga beberapa saat kemarin tanaman kangkung yang tidak saya sengaja tanam tumbuh lebat dan jadi berguna. Untuk makanan kelinci maksudnya. Kotoran kelinci ini bisa jadi pengganti kompos bersama dengan sampah-sampah dapur.

Kenapa saya memakai pupuk kompos? karena saya tahu bagaimana kerusakan yang ditimbulkan oleh pupuk kimia. Kampung saya dulu termasuk angkatan awal di daerah saya bagi para petani tanaman buah khususnya semangka. Setelah semangka menyusu melon kemudian, hingga menyusul banyak yang bertanam di lahan pasir saat ini. Dan saya tahu bagaimana tanah sawah di daerah saya itu hancur karena pupuk kimia. Jadi bahkan hingga saat ini setelah saya besar, tanah sawah di daerah saya sendiri sudah tidak lagi ditanami semangka, petani akan menyewa tanah di tempat lain untuk bertanam. Karena tanah kami sudah rusak dan tidak bagus lagi untuk menanam semangka. Jika dipaksakan juga tidak akan berbuah baik lagi, malah rugi mugkin. Kenapa? buah semangka memerlukan banyak sekali pupuk selama hidupnya, dan itu adalah pupuk kimia.


Tanaman cabainya sudah berbuah

Jadi kalau sampah dari sisa bahan makanan saat memasak, seperti kulit bawang, batang kangkung atau bayam, kulit jeruk atau pisang, atau yang lainnya saya kumpulkan untuk pupuk tanaman saya juga. Kebetulan akar kangkung pas saya buang kok malah hidup jadi sekalian saya tanam. Termasuk cabai busuk yang sering saya lempar ke tanah (beneran saya lempar loh, lha kalau di tempat sampah takut ada keluar ulatnya) juga tumbuh dan jadilah saya sekalian tanam saja. Termasuk tanaman buah mangga dan sirsak juga tumbuh dari biji-biji sisa membuat jus yang saya lempar bersama sampah dapur lainnya. Kalau sampah plastik dan lainnya yang tidak bisa busuk tentu saya buang ke tempat sampah.

Ehm sekian aja dulu ceritanya soal film, kelinci dan tanaman, semoga bermanfaat ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.