Kamis, 23 Februari 2017

Insiden Gobag Sodor

Perempuan itu membawa tali, diikatkan di atas pohon. Ada kursi kayu di dekatnya. Sekarang masih sibuk membuat simpul tali, yang anehnya dari setengah jam lalu kok nggak jadi-jadi. Keringat malah membanjir di dahinya. Mungkin dia dulu jarang ikut pramuka.


***

Namanya Indira, perempuan yang akan aku ceritakan. Entah dia ada hubungan dengan perempuan itu tidak. Tubuhnya mungil, agak pendiam. Di sekolah dulu bukan anak yang menonjol, bahkan termasuk anak yang biasa-biasa saja dan sama sekali tidak terkenal. Hanya punya beberapa kawan dekat, dan mungkin tidak semua teman seangkatan kenal dengannya.  Begitu juga hingga kehidupannya saat ini.

Karena kesibukan orang tuanya dia kerab kali dititipkan pada kakek neneknya. Kehidupan sibuk orang tuanya membuatnya mencari sendiri kawan dekat yang mau diajak bermain. Bermain di rumah tentu saja tidak ada yang menemani, dia anak tunggal.

Meskipun kakek neneknya tidak terlalu religius tetapi masalah beribadah lima waktu Indira tidak lupa. Sering dia melihat kakeknya wiridan di surau dekat rumah. Cukup lama memegang tasbih berwarna hijau itu. Tasbih itu bahkan kini masih disimpannya jauh setelah kakeknya meninggal. Batu-batuan di tasbih itu sering bersinar jika dalam gelap, seperti menyimpan cahaya saat lampu terang.

***

“Coba rentangkan tanganmu,” kata kawannya.
“Kenapa?” tanya Indira heran.
Kawannya itu langsung mengangkat kedua lengan Indira seperti pose akan terbang.
“Kenapa sih?” tanyanya masih bingung.
“Wah lengan kamu bagus,” jerit kawannya kemudian.
“Bagus gimana? Aneh-aneh aja kamu.”
“Eh tahu nggak lengan kamu itu kalau ibukku bilang, lengan gandewo pinenthang, itu bagus kalau buat nari, nggak semua anak perempuan punya lengan seperti milikmu.”
“Hahahaha...kamu aneh, kalau mau pinter nari ya belajar di rumah mbah Langgeng, bukannya ngurusin lengan bagus apa enggak, asal berlatih keras dan rajin ya bagus nanti narinya.”

Dia ingat percakapan itu dulu dengan kawannya saat masih kecil. Mereka berbincang di atas pohon jambu di depan rumah tetangganya. Kawannya itu namanya Inten, nama panjangnya Jinten. Seperti nama sebuah bumbu masak. Anaknya mungil dan cerewet, benar seperti bumbu masak itu, kecil tapi berbau harum enak, rambutnya dipotong pendek seperti anak laki-laki. Suka makan jambu air atau kwaci. Inten pernah kerja di tempat pembuatan gudeg di kota, katanya di sana enak, apa-apa ada.


“In, mbok kamu tuh main sana. Perempuan kok hobinya di kamar.” Kata ibunya suatu kali di dapur.
“Nggak pengin bu, baru ada tugas sekolah.”
“Halah alasan kamu nduk, orang nggak ada tugas kamu tetep gak mau keluar juga. Kenapa to?”
“Nggak kenapa-napa kok bu, males aja. Nggibah kan dosa bu, aku nggak mau nambah dosa begitu.”
“Hem..alasan wae anak ini.”
Ibu membalik gorengan tahu di wajan. Sementara gadis itu berjalan masuk kamar dan tidur.

***


“Anak setan, kamu apakan Wati.” Maki perempuan berpotongan rambut pendek sekali itu. Orang luar pulau, kalau kata orang-orang di kampung itu memang perangainya begitu, kasar, galak dan suka teriak-teriak.

Gadis kecil itu berlari menjauh, jauh sejauh-jauhnya sebisa kakinya membawa. Sementara kawan-kawannya menatapnya bingung dan kasihan.

“Eh ada apa sih,” tanya kawannya yang satu ke yang lain
“Nggak tahu,” kata anak perempuan kecil yang berambut keriting.
“In  nangis.” Bisik anak laki-laki yang gundul mendekat.
“Pergi bukan nangis. Heh ada bu Deni, diem-diem.” Bisik yang lain

Mereka berjalan menjauh ke bawah pohon sawo mentega. Saling berbisik bicaranya. Takut diketahui perempuan galak pemilik rumah itu. Semua sudah takut karena peristiwa tadi. Mereka saban sore biasa main di halaman rumah bu Deni ketua RT yang luas sekali itu.

“Bukan salah dia kalau anak perempuannya itu menangis, kenapa dia yang dimaki-maki. Aron kan yang tahu mengenai masalah itu.” Bisik kawannya.
“Iya, ada masalah apa kok dia yang dimaki-maki bu Deni sih.” Bisik yang lain takut terdengar bu Deni yang marah-marah. Anak perempuannya menangis tak henti-henti.

Bisik-bisik kawannya yang tertawa-tawa membuatnya nangis. Dan seperti anak manja lain dia mengadu pada ibunya. Dan gadis kecil yang berlari itu tampak benar-benar tak suka dan sedih.
“Sebenarnya tadi kenapa Ron?” tanya kawannya yang lain.
“Anu...aku takut sama bu Deni. Nanti kalau tahu pasti aku dimaki-maki juga, jangan ada yang ngadu ya, awas kalian.” Ancamnya.
“Iya iya...ada apa sih.”
“Tadi aku melompat naik tugu di depan itu. Dan entah bagaimana tugu di depan rumah bu Deni itu ambruk.  Aku memegangnya hingga tidak jatuh tapi ada In yang melihatnya.”
“Oalah gitu. Kenapa jadi In yang dimaki-maki?”
“Ya karena In sudah janji nggak ngasih tahu bu Deni, demi aku. Kita bisik-bisik dikiranya kita ngomongin Wati, terus nangis dia.” Jawabnya kesal.
“Kamu harus minta maaf ke In, kasihan dia dimaki-maki bu Deni, semua salah kamu.” Tuduh kawan perempuannya yang lain. Anak laki-laki itu ngeloyor pergi sambil membawa sandalnya yang putus karena main gobak sodor tadi.

***

Indira tak mengadukan hal kemarin sore itu ke ibu bapaknya. Anaknya memang begitu. Kalau marah atau sedang bertengkar dengan ibu atau yang lain, pasti langsung lari keluar rumah atau masuk kamar kalau lagi hujan. Pernah suatu kali dia ada masalah dengan bapaknya, dia lari ke sungai di dekat rumahnya, langsung nyebur ke sungai begitu saja. Bukan hendak mati, tapi berenang sambil nyelam lama di dasar sungai. Cari kijing buat mancing udang.

“In kamu baik-baik di rumah ya, ibu mau nengok anaknya bu Deni sakit keras.”
Indira mengangguk saja. Tangannya memasukkan kayu kering dari pohon melinjo yang dia jemur beberapa waktu lalu di halaman.
“Sakit apa si Wati, bu?”
“Enggak tahu, sakitnya aneh, kakinya bengkak gede banget, terus ngigau-ngigau dan dari kakinya berlubang kecil satu dari situ keluar nanah dan darah.”
“Kok ngeri bu, kasihan Wati.” Jawabnya sambil menatap api yang membakar kayu melinjo itu.
“Kalau denger-denger sih katanya kena yang jaga kuburan.”
“Hah, yang jaga kuburan sapa bu? Lik Umam?” tanyanya heran
“Welaa kamu ni aneh, yang jaga kuburan ya barang alus, kok lek Umam, wis kamu jaga rumah sama buat teh buat bapak kamu, ibu pergi dulu, sudah pada ditunggu ibu-ibu di jalan itu.”

Ibunya bergegas keluar setelah memakai kerudung, dan minyak wangi yang baunya membuat Indira jadi mual sendiri saking wanginya.
“Yang jaga kuburan barang alus, barang alus ki opo to?” ucapnya lirih pada tungku di depannya. Tungku kayu hanya membakar kayu dan apinya menari-nari.

***

Dua anak perempuan itu duduk di pohon kersen yang melengkung di atas kali. Kali yang cukup besar kira-kira lebarnya lima atau enam jangkah kaki orang dewasa.  Sekitar dua tiga pelemparan kreweng kalau anak-anak suka bilang. Pasalnya anak-anak kampung itu suka bermain mencari kece kali yang gepeng namanya kijing, dan kemudian bermain lempar kreweng ke kali yang tidak terlalu dalam. Selutut biasanya dalamnya.

Kreweng itu pecahan genting rumah. Dibuat bermain lempar di atas air, krewengnya bisa loncat berapa kali. Kalau kijing itu cara mencarinya dengan berendam di dasar kali, cari di dasar kali yang berlumpur atau berpasir. Nanti kerasa di kaki kalau ada, kalau ada ya ditarik saja, kijing biasanya menancap di lumpur atau pasirnya. 

“In kamu tahu sakit Wati?”
“Enggak, aku malah mau tanya kamu. Sakit gimana to dia?”
“Katanya kemarin dari sekolah ada acara mencari kembar mayang, pohon puring itu kan banyak di kuburan sana, jadi Wati dan anak-anak mencari ke sana.”
Kawannya mengunyah buah kersen yang merah dengan nikmat sambil bercerita.
“Terus?”
“Terus kata Umi, Wati itu lari-lari karena berebut, jadi jatuh terperosok kuburan siapa gitu yang masih agak baru.  Karena dia nggak lihat-lihat jalannya.”
“Wuih ngeri yo, terus kok bisa sakit?”
“Lha aku juga gak tahu, terus malamnya demam ngigau-ngigau gitu. Terus sakit kakinya.”
“Loh terus hubungannya sama barang alus ki apa? Kok ibuk bilang kalau sakit karena barang alus.”
“Lha nggak tahu aku, kena cacing atau gurem mungkin.”
Keduanya tertawa cekakakan di atas pohon kersen.

Ada makam di ujung desa. Luasnya tidak seberapa, hanya cukup untuk beberapa puluh makam sebenarnya. Banyak pohon puring di seluruh makam, entah fungsinya apa. Saat tujuh belasan di sekolah-sekolah, murid-muridnya sering mencari hiasan sekolah termasuk pohon puring di makam itu.

Ada pohon beringin besar di tengah makam. Bahkan memang di semua makam di desa-desa dekat situ selalu ada pohon besarnya. Pohonnya memang menonjol karena besar dan tinggi mengerikan, mungkin sudah dipupuk begitu banyak tubuh mayat jadi tumbuh sebesar itu. Kalau kata yang bisa lihat di pohon itu banyak yang bertengger dan duduk-duduk. Wujudnya? ya pasti mengerikanlah, mosok cakep.

***
Sekian dulu ceritanya, besok atau kapan-kapan disambung lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.