Selasa, 14 Februari 2017

Cala Ibi

Judul: Cala Ibi
Penulis: Nukila Amal
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2015
Tebal: 277 Halaman


Beberapa kali ketemu buku ini dan mau pinjam tetapi enggak jadi-jadi. Setelah baca buku Smokol itu jadi pengin baca buku Nukila Amal yang lain, ketemulah buku ini. Komentar yang sudah membaca, katanya buku ini agak sulit dipahami. Ya, setelah baca di halaman-halaman awal buku ini, saya paham yang dia maksudkan.

Setelah cukup lama mengalami kebosanan dengan buku bacaan, akhirnya saya menemukan buku yang bagus ini. Begitu kaya, begitu penuh dan perlu mikir juga. Saya mengalami sensasi menyenangkan membacanya seperti saat saya mencoba membaca buku Burung-burung Manyar, yang juga belum jadi saya baca. Dan juga akhir-akhir ini saya lagi tertarik pada bahasa dan asal usul kata. Eh omong-omong buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan Italia juga, padahal kalau diterjemahkan saya yakin jadi beda. Maksudnya kaitan tentang bahasa dalam bahasa Indonesianya.

Sebab adalah Hawa yang terpikat pohon pengetahuan

Buku ini berkisah tentang Maya Amanita Muscaria yang bertualang dengan kawan fantasinya yang pertama si (lelaki) naga Cala Ibi, si lelaki satu lagi bernama Ujung, perempuan merah dari lemari bernama Tepi. Kalau Amanita Muscaria sendiri seperti nama jamur yang beracun (hal 6). Penggambaran wanita yang bisa hidup di mana saja, berkembang dengan spora yang tidak butuh siapa-siapa hidup dalam lembab dan gelap. Jamur yang menimbulkan efek halusinasi dan psikoaktif. Kebetulan saya juga penyuka jamur, hampir semua jamur yang bisa dimakan saya suka. Jamur juga yang menjadi gambar sampul buku ini, jamur Amanita Muscaria.

Kelak, kau akan mengingat tempat-tempat di kejauhan yang belum pernah kau datangi, tapi pernah ada dalam mimpi, telah kau datangi.

Sedangkan Cala Ibi sendiri di dalam bahasa lokal Ternate (begitu yang saya baca) berarti burung. Hutan, pohon, burung, naga, cerita, hantu-hantu, dan lainnya. Dan paling utama tentang mimpi (Maia dan perjalanannya), penafsir mimpi (bibinya Maya yang bernama Bibi Tanna).

Bapakku anggrek bulan, putih di hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pekarangan.

Maya mengenal Maia sebagai perempuan yang berjalan dalam mimpinya. Termasuk di pegunungan dengan pohon cengkih. Emas hitam bagi penanamnya saat itu. Saya jadi ingat di depan rumah dulu ada satu pohon cengkih juga, cukup besar dan tinggi. Saya suka meremas daun cengkih yang cukup beraroma, saya suka mencium-cium baunya. Saya juga ingat kalau sudah berbunga kami memetik dan menjemurnya hingga kering. Dari warna hijau atau kekuningan hingga jadi warna cokelat kehitaman. Jika dibiarkan besar maka jadi buah cengkih yang berwarna hitam atau merah tua saya agak lupa, cukup besar serupa buah duwet seingat saya.

Sejarah, rangkaian pengulangan usang, kesilaman yang menjadi masa depan

Kisah Maia bersama naga Cala Ibi yang akhirnya membawa cerita di Halmahera tentang Bai Guna Tobona. Tentang kisah Mo-loku: perempuan genggam, dan kisah di balik nama-nama lainnya.

Ya, itu saja sedikit tentang buku ini. Buku yang cara berceritanya agak lain dari buku-buku yang pernah saya baca. Semoga ketemu buku-buku bagus lainnya, selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.