Kamis, 08 Desember 2016

The Secret Life of Bees

Judul: The Secret Life of Bees- Rahasia Hidup Lebah
Penulis: Sue Monk Kidd
Penerjemah: Endang Sulistyowati
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: 2012
Tebal: 414 Halaman


Buku ini saya beli di bulan April 2016. Saat menemukannya saya membaca tulisan kecil di bagian sampul "Sebuah buku yang layak diwariskan kepada semua anak perempuan". Tulisan ini dan tulisan The New York Times Bestseller telah membuat saya memilihnya untuk dibawa pulang, selain juga karena gambar sampul yang saya suka. 

"Berlatar di Carolina Selatan pada musim panas tahun 1964, saat Undang-undang hak sipil dan kerusuhan rasial tengah ramai dibicarakan. Di sebuah perkebunan persik, Lily Owens, gadis empat belas tahun, menghabiskan seluruh hidupnya untuk menghadapi ayah yang kejam dan pemarah sekaligus merindukan ibunya yang meninggal secara misterius ketika ia masih berusia empat tahun."

Lagi-lagi saya menemukan buku tentang cerita gadis kecil yang berusia 14 tahun,  namanya Lily Owens dan dia bertualang mencari sosok seorang ibu. Buku ini termasuk buku yang saya suka, diantara buku-buku yang pernah saya baca atau saya miliki. Mungkin karena kemiripan si tokoh dengan saya sendiri, kehilangan sosok seorang ibu di usia yang kurang lebih sama, dan memiliki ibu pendamping seperti Rosaleen. Rasanya buku ini berjodoh dengan saya dan datang minta untuk dibaca. Banyak hal yang membuat saya menyukainya, termasuk salah satunya tentang lebah. Jadi meskipun tulisannya lumayan kecil untuk mata saya, dan tebal yang lumayan juga, saya berhasil menyelesaikan membacanya.

Lebah, hewan menakutkan ini dulu sering saya temui sewaktu di rumah orang tua. Saya sudah akrab dengan kehadirannya, karena ada beberapa sarang lebah di rumah. Selain itu di rumah kakek saya juga memiliki banyak sarang lebah, mereka memang dipelihara untuk diambil madunya. Saya paling suka kalau menunggui kakek saya dulu memanen madu. Kakek saya seperti kebal sama sengatan lebah, hanya berbekal obor sudah berhasil mengusir lebah-lebah itu. Merasakan madu langsung dari sarangnya sungguh menyenangkan. Jadi buku ini berhasil membuka lagi ingatan saya tentang masa kecil saya di rumah kakek. Kebetulan di sana juga tempat pelarian saya seperti Lily, meskipun ayah saya sama sekali lain dari T. Ray.

Masih soal lebah, saya ingat sekali di jendela kamar saya pernah ada sarang lebah madu. Agak aneh memang. Lebah-lebah memang suka pindah-pindah rumah jika tidak cukup banyak rumah lebah disiapkan. Jendela rumah orang tua saya dulu masih model lama, ada jendela kaca di bagian dalam, dan di bagian luarnya berbahan kayu, jadi ada dua lapis jendela. Nah lebah itu berada dibagian kayu yang berbuku-buku dan berlubang. Dan saya merelakan tidak membuka jendela yang itu untuk waktu yang lama, hingga lebah itu pergi meninggalkan jendela kamar saya. Dan setelah saya buka jendela itu, ternyata ada sarang lebah yang ditinggalkan dengan banyak madu di dalamnya. Saya tak akan lupa itu.

Baiklah, cukup cerita soal saya dan kenapa saya menyukai buku ini. Buku ini bercerita tentang gadis kecil Lily Owens yang hidup dengan ayahnya yang suka ia panggil T. Ray. Dia juga diasuh oleh seorang kulit hitam yang tinggal membantu keluarganya bernama Rosaleen. Lily sendiri kehilangan ibunya saat berusia empat tahun. Masalah dengan ayahnya membuat Lily nekad bertualang dengan Rosaleen dan menuntunnya ke peternakan lebah milik August. Omong-omong soal nama August, entah kenapa dari awal saya selalu membayangkan August ini laki-laki. Padahal bukan begitu.

August sendiri memiliki peternakan lebah yang dia kelola bersama beberapa perempuan dan dibantu seorang anak laki-laki bernama Zach yang menarik hati Lily. Kisah diskriminasi warna kulit di tahun itu masih kuat, termasuk kasus yang membawa Rosaleen ke penjara. Sebenarnya kisah buku ini memuat cerita tentang agama yang tidak saya anut, tetapi itu tidak mengurangi keindahan buku ini bagi saya.

Tapi saya agak menyesal juga tidak menandai kata-kata yang bagus di buku ini. Terlebih saya sudah menyelesaikan membacanya jauh hari sebelum buku-buku lain yang saya baca. Dan saya memang tak mau membagi kata-kata yang bagus di buku ini karena saya memang tidak akan membagi kata-kata di buku bagus. Kalau penasaran baca langsung saja bukunya. Mungkin lebih baik kalau selesai membaca langsung menuliskannya saja jadi masih jelas dan hangat di kepala. Anehnya saya belum pernah dengar soal buku ini diantara beberapa rekomendasi buku-buku bagus, saya tahu tentang buku ini ya saat menemukannya. Buku ini sudah diadaptasi jadi sebuah film juga.

Ya itu saja sedikit yang bisa saya ceritakan tentang buku ini, kalau mau tahu lebih detail bisa langsung mencari bukunya. Tetapi bagaimanapun buku itu sifatnya personal, yang bagus menurut saya belum tentu bagus menurut yang lain. Begitu juga sebaliknya. Tapi untuk buku ini, sepertinya sudah terbukti bagus juga bagi banyak pembacanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.