Kamis, 29 Desember 2016

Saya Tak Curhat Sik

Beberapa bulan ini di koran Jogja sini sering sekali saya jumpai berita tentang aksi klithih anak muda. Bahkan sampai pagi ini saja masih ada berita korban klithih di Jogja ini. 

Pertanyaan saya berulang kali adalah, kenapa anak-anak muda yang penuh energi lagi semangat-semangatnya ini menyalurkan hobinya itu ke hal yang negatif begini.

Saya punya ponakan, laki-laki, masih sekolah menengahlah, dia punya banyak hobi. Dari melukis, berenang, sampai ke aktivitas bela diri yaitu taekwondo. Baru beberapa hari lalu dia berangkat ke luar kota ikut turnamen di sana bersama klub taekwondonya. Saya lihat bagaimana dia bertanding, menendang ya menendang beneran, berkelahi ya berkelahi beneran, kena pukul ya kena pukul beneran dan beradu ketangkasan di depan para juri juga semua penonton. Pertandingan yang cukup adil, seimbang, lawan yang setara, di tempat yang semestinya.

Kalaupun mereka anak muda ini memang menyukai hobi gelut, terus mau mencoba kekuatannya kenapa tidak ikut saja ajang beladiri seperti ponakan saya itu. Barangkali dia lebih jago, barangkali tenaganya cukup hebat, cukup kuat mengalahkan semua lawan dan tidak merugikan orang lain. Atau cukup bisa menghajar lawan-lawannya, lumayan selain bangga jadi juara juga tentu saja dapat hadiah. Kurang apa coba. Barangkali bisa tenar atau jadi artis nyaingi Iko Uwais atau Yayan Ruhiyan. Saya kenal satu dua kawan yang benar-benar atlet olah raga bela diri, pelatih bahkan juri dan penampilan sehari-hari mereka sangat santun dan sangat baik. 

Pertanyaan kedua adalah, kemana peran orang tua mereka ini? Apakah ayah ibunya tidak mencari ketika jam-jam segitu anaknya tidak ada di rumah? Saya membaca hampir selalu jam-jam malam bahkan dini hari. Apakah ayah ibunya tidak cemas? Apa yang terjadi dengan mereka sebenarnya?

Saya juga baca-baca kalau anak-anak muda ini juga ada hubungannya dengan sesuatu yang lebih besar. Entah apa atau siapa itu. Mbok iyao, yang lebih tua, yang lebih dihormati oleh anak-anak muda ini, yang lebih ngerti situasi ini segera ambil tindakan. Janganlah dibiarkan, malulah mosok Jogja jadi tidak nyaman lagi. 

2 komentar:

  1. Itulah pengaruh media masa, televisi dan internet. Sehingga membuat peran orang tua kelimpungan. Tidak berdaya, karena sudah cepek mencari nafkah kebutuhan yang terasa menguras energinya.
    Anak menjadi kurang asuh dan perhatian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang punya anak nggak segampang kelihatannya hehe
      maaf baru dimunculkan komennya,tampilan bloger yang baru agak bingung saya

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.