Sabtu, 03 Desember 2016

Pintu

Jarang? Aku bahkan tak pernah menulis cerita yang menakutkan. Entah itu berdarah-darah, mengerikan atau semacamnya. Membuat seorang tokoh yang menderita sampai segitunya juga sama saja tak beraninya. Intinya, menuliskan cerita yang menyedihkan atau menakutkan bagiku butuh keberanian ekstra.

Dan pagi itu aku duduk di meja dengan layar menyala dan keyboard yang diam membeku di depanku. Aku harus menyelesaikan satu cerita di sini. 'Apapun' katanya tadi. Apapun asal membuat dia bisa membaca. 

Baiklah ini ceritanya, cerita dimulai dengan seorang anak perempuan berdiri di tengah lapang yang sepi. Warna kelabu dimana-mana, berkabut dan agak gelap. Tak ada sosok lain yang nampak di lapangan yang luas itu. Hanya anak perempuan itu seorang. Saat kudekati dia tampak menangis, tapi tidak bersuara. Air matanya meleleh di kedua pipinya,"Aku ingin pergi ke sana." ucapnya lirih. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Atau, bahkan dia tidak melihatku. Dia memandang ke atas, ke bintang-bintang yang bertaburan di langit gelap.

Aku melewatinya, bahkan untuk menanyakan 'dia kenapa' atau 'kamu siapa' itu tak mungkin lagi. Dia tak melihatku, di tidak mendengarku. Aku melangkah menuju tempat lain, saat itu aku terkejut saat ada sesuatu yang dingin mendekatiku, sebuah bayangan hitam, menggumpal-gumpal seperti sekumpulan asap tebal. Dia bayangan itu melayang-layang di depanku, di atasku tepat di depan dadaku bagian tubuhnya, ya dia berbentuk seperti manusia dalam warna gumpalan hitam, bagian tubuhnya memanjang ke atas di belakangnya mengambang. Dan wajahnya tepat di depan wajahku sekarang, aku tak mampu bergerak, tubuhku berat, seperti tak bisa kugerakkan, meskipun bergerak di sini sama susahnya memahami ini makhluk apa. Gumpalan hitam itu mendekat terus ke wajahku, dingin menyergapku, seperti mendekatkan wajah di kulkas yang terbuka seperti itu rasanya. Dan pelan-pelan, nafasku tersedot ke sana, gumpalan-gumpaln hitam itu menarik nafasku keluar, aku merasa berhadapan dengan dementor sungguhan. Dan, aku tak mampu mengucap patronus untuknya, bahkan patronus tak mampu kuingat saat ini, aku tak punya tongkat sihir juga. Aku memejamkan mata, pikirku 'jika akhirnya aku dimakan olehnya, ya sudahlah' batinku. 

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat lain. Hingar bingar sebuah kafe, di sini ada lampu, di sini ada manusia lain. Keramaian dan sedikit suara musik. Kulihat beberapa pemuda duduk di kursi sambil tertawa-tawa. Aku melewati mereka, mendekat menuju pintu. Ketika seseorang menarikku keluar dengan kasar. Dia tidak bicara apapun, tapi menarikku untuk berdiri dalam antrian di luar pintu. Ini antrian apa? sepertinya aku juga tak akan mendapat jawaban. 

Seseorang mendekati sebuah pintu, silau, ada sinar seperti dalam lampu sorot yang besar keluar dari sana. Perempuan itu berdiri di sana, sebentar lalu dia menghilang. Ya, hilang ke dalam pintu bersinar. Satu persatu orang ini menuju ke sana. Aku salah satunya, apa-apaan ini.

Aku berlari keluar antrian itu, aku tak mau ke sana, aku hanya berpikir keluar saja dari sana. Aku berlari-lari kecil melewati sebuhajalan berumput. Bahkan dengan mudah aku berlomptan ke udara, tubuhku sedemikian ringan bahkan bisa bersalto ke udara berulang kali. Aku menuju lapangan yang luas tadi. Saking sepinya bahkan aku bisa mendengar nafasku sendiri. Kabut di mana-mana, rumputnya pun berwarna kelabu, semua abu-abu. Aku berteriak memanggil seseorang, siapapun, tapi akhirnya aku lelah. Aku jatuh terduduk dan terlentang merasakan dinginnya kabut dan rumput-rumput  di sekelilingku. Aku memejamkan mata dan tertidur.

Suara debur ombak membangunkanku, suaranya samar lama-lama semakin keras, sapuan angin dingin dan sedikit asin mengenai mukaku. Aku mencoba duduk melihat ke sekeliling, hamparan pasir, pantai. Aku berdiri dan mulai berjalan, ada tampak beberapa kapal di kejauhan, sampah-sampah kayu kering bertebaran di pantai. Dan beberpa burung melintas ke sana ke mari, lubang -lubang kepiting kecil tampak beberapa. Aku berlari mengejar salah satunya, kakiku menginjak sesuatu, sekumpulan batu. Batu, jarang sekali kulihat batu-batu di sini, tertata rapi, dengan susunan yang sepertinya belum terjamah satu kaki atau tanganpun. Ada yang miring ke kanan ada juga yang miring ke arah kiri, dengan sususan yang sangat rapi. Seakan seseorang menyusunnya di sana, ada sekumpulan yang kecil, ada juga sekumpulan batu yang lebih besar. Cukup halus dan cenderung oval atau bulat. Ujung-ujung yang lembut tidak tajam atau runcing. Aku pernah datang kesini, dulu susunan batu ini, tidak sebanyak ini. Aku menyukainya, dan di sinilah aku, berdiri di tumpukan batu yang lucu, sendirian tersenyum senang. Sepertinya batu-batu itu semakin banyak, seperti beranak pinak, atau mungkin membelah diri seperti hidra. 

Aku melihat beberapa orang berjalan di kejauhan, aku mendekat untuk mengikutinya. Mereka menuju suatu tempat, tanah yang kulewati bersalju. Seperti es yang tebal dan licin. Aku melihat kubangan di tengahnya, seperti kubangan seekor beruang kutub. Dekat situ kulihat sebuah akuarium pecah, ikannya bertebaran di luar, semua yang lewat dari tadi tampak tak peduli. Mereka bahkan tertawa-tawa saja. Aku memungut satu ikan yang cukup besar memasukkan  ke dalam kubangan air. Dia bergerak dan menyelam. 

Kami duduk di kursi, mengawasi beberapa anak yang duduk rapi, mereka sibuk menggambar. 
  "Lihat." kata lelaki itu. Lelaki yang duduk di sampingku. Aku mengikuti telunjuknya, seorang anak laki-laki dengan rambut keriting, lebih tepatnya setelah kulihat lagi ternyata gimbal rambutnya. Dia berlari melewati kursi kami. Aku tersenyum, rambut yang lucu. Dari kejauhan aku melihat seorang lelaki bertopi dan berkaus, warna kesukaanku, dari tadi aku merasa dia menatap ke arah sini. Berapa kali aku menatap ke sana, selalu saja dia menatap ke arah kami. Ada yang salah? pikirku. Kupikir lagi, mungkin bukan padaku, tapi pada anak-anak ini. Lalu, dia berjalan ke arah kami, mendekat. Ya, dia mendekat ke arah kami. Tapi hanya pada jarak sekitar dua meter dia berhenti dan berbicara dengan seorang perempuan. Ya, aku pernah bertemu perempuan itu. Anak itu tadi, pernah kulihat di mimpiku, baru beberapa hari kemarin.

Sepulang dari sana aku menuju suatu tempat. Sepertinya terlalu banyak orang di situ, ramai sekali. Aku mengikuti antrian, jalan yang orang ini ikuti. Di kiri dan kanan jalan banyak sekali makanan dalam wadah, ada buah-buahan dan kue-kue juga. Dalam wadah seperti terbuat dari bambu. Aku mengambil satu, hanya melihat apa isinya. Ya, buah itu, aku ingat. 

Sepertinya ini rumah yang cukup besar, dan sepertinya juga orang ini dulu sangat dikenal. Setidaknya kau melihatnya sesekali di tivi. Tapi ini lebih mirip rumah sakit. Lelaki itu terbaring di sana, aku melihatnya. Di sampingnya ada peralatan yang ditata, dan dihias beberapa pot bunga hidup. Walau hanya daun-daun saja yang nampak. Di sampingnya lagi sepasang manusia lain duduk, sepertinya sama saja. Lelaki yang tadi terbaring itu menatapku, tersenyum. Ah ya, kukira sekarang aku paham, dia benar. Dan di sini tidak kusangka aku sampai padanya. Aku tahu aku di mana, dan aku tahu dia siapa.

Aku juga ingat, beberapa hari lalu aku di dekat lelaki yang itu, di atas sebuah mobil. Dua orang duduk di depan, satu di samping lelaki itu. Aku? bisa kurasakan mengambang di dekat lelaki yang aku maksud. Jadi kulihat ketika seseorang mencegat lajunya, dua lelaki lain, menaburkan sesuatu pada mobil itu. Aku melihatnya membawa sebuah senjata, salah satunya. Aku keluar dari sana.

Kukira aku akan melanjutkan mengetik cerita ini lain waktu, hujan di luar sudah reda. Aku menutup layar di depanku, memasukkan kotak itu ke tas dan berjalan keluar pintu. Lelaki yang menyuruhku menulis sedang duduk membaca kertas, dia masih sibuk dengan itu, aku melewatinya begitu saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.