Selasa, 15 November 2016

The Lovely Bones

Judul: The Lovely Bones- Tulang-tulang yang Cantik
Penulis: Alice Sebold
Alih Bahasa: Gita Yuliani K
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kelima Juli 2010
Tebal: 440 Halaman


"Penguin itu sendirian saja di situ, pikirku, dan aku mengkhawatirkan keadaannya. Ayahku berkata,"Jangan cemas Susie, hidupnya nyaman di sana. Ia terjebak dalam dunia yang sempurna."

Seorang bocah perempuan mati dengan cara yang tragis di usia 14 tahun. Dengan cara yang menyedihkan dan kemudian mengarungi kehidupan kematian selama beberapa waktu, sebelum menyeberang ke alam selanjutnya atau baik kita sebut saja akhirat.

"Namaku Salmon, seperti nama ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973."


Saat menemukan buku ini, sepertinya saya pernah dengar judul buku ini, tangan saya mengambilnya begitu saja, saya bawa ke kasir dan saya baru membacanya beberapa minggu kemudian. Benar saja saya tidak salah pilih buku, ceritanya bagus. Detail dan dalam rentang waktu yang cukup lama. 

Saat membaca buku ini perasaan saya biasa-biasa saja, tetapi begitu melihat cuplikan filmnya -buku ini sudah difilmkan dengan judul sama- justru mata saya mulai berair tak henti-hentinya, sampai saya harus berhenti melihatnya untuk menenangkan diri. Filmnya memberi gambaran lebih menyedihkan dari cerita Susie di buku. Mungkin karena di film gambaran anak 14 tahun dengan kelucuan, keceriaan dan kematian yang merenggutnya dengan tragis tampak sangat nyata. Dan yang memerankan tokohnya juga sangat manis.

Deskripsi dalam buku dijabarkan dengan adegan dan spesial efek yang memukau membuat semua menjadi jelas dan nyata. Keadaan alam akhirat, orang-orang yang dia temui di sana dan lainnya. Bagaimana anak 14 tahun memahami kematiannya, dan melihat bagaimana kehidupan orang-orang terdekat bahkan si pembunuh sendiri selama bertahun-tahun kemudian. Bagaimana keadaan keluarganya, bahkan juga lelaki yang mencintainya.

Misalnya saja adegan dalam film saat ayah Susie Salmon memecahkan kapal-kapal dalam botol kaca yang dulu dibuatnya bersama Susie semasa hidup, bagaimana hal itu berefek dramatis di kehidupan Susie di alam sana. Kemudian saat ayahnya memegang bunga mawar merah di kebun milik Harvey -si pembunuh anaknya yang adalah tetangganya- saat itu ayahnya sudah menaruh curiga pada Harvey. Juga bagaimana dia melihat satu persatu korban Harvey lengkap dengan cara kematian dan tempat kejadiannya -di buku pada halaman 240. Di buku hal itu biasa saja, sedang di film spesial efeknya sangat bagus.

Jadi, selain membaca bukunya anda bisa lebih terbawa emosi saat melihat filmnya. Sayangnya saya memang baru melihat film dalam potongan-potongan adegan saja, belum selengkapnya. Ya mungkin besok jika menemukannya saya bisa melihatnya secara penuh. Filmnya jadi memberi gambaran lebih jelas tentang cerita buku ini. Kalau suruh memilih buku atau filmnya saya acungi jempol dua-duanya.

Setelah membaca buku ini saya menyadari betapa hukum begitu rapuh dan tak berdaya di hadapan seorang pembunuh tanpa adanya bukti. Bagaimana seorang Harvey membunuh korban-korbannya dan lolos dari jerat hukum. Mungkin buku yang bagus seperti ini ya, selalu bikin jengkel. Tetapi bagaimanapun saya suka buku ini, bahkan diantara buku-buku yang saya baca sebenarnya hanya beberapa buku saja yang benar-benar bisa bikin nangis saya. Mungkin lain waktu saya bakal cerita buku lain yang tak kalah bagusnya dengan buku ini. Selamat membaca, semoga berjodoh dengan buku-buku menakjubkan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.