Kamis, 17 November 2016

Somewhere Only We Know

Judul: Somewhere Only We Know
Penulis: Alexander Thian
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Ketiga 2015
Tebal: 338 Halaman

“Pada akhirnya, cinta akan selalu menemui jalan untuk pulang.”

Ehm kalau biasanya saya bahas novel seperti ini pasti diawali dengan semacam sinopsis, lalu komentar sana sini. Saya yakin buku yang sudah cetak berulang kali seperti novel ini pastilah buku yang memang bagus. Jadi saya nggak bisa cari-cari kurangnya. Jadi saya tak perlu berkomentar apa-apa, wong saya sendiri karya juga nggak ada, untuk apa banyak berkomentar dengan karya orang yang udah jelas-jelas bagus.

Saya lebih mudah mengingat sebuah cerita dengan memakai beberapa kata kunci, jadi saya akan menyebut beberapa kata kunci. Kata kunci ini nantinya semacam remah-remah roti yang saya taburkan di sini  dan nantinya menuntun ingatan saya tentang isi novel ini. Karena, saya hanya pinjam buku ini he he.

Up, kampret, Putri Cokelatina, air mata penyu, Fiera dan anak kecil, langit patah hati, Silver Shadow, teknisi yang bloger, Nusa Lembongan, 8 reinkarnasi, Kenzo, jumping point, Ririn- Lin, Hava, Arik. Itulah sederet kata kunci yang menjadi remah roti di jalan ingatan saya nantinya.

Tentang novel ini :
Kisah cinta Kenzo dan Hava, Ririn dan Arik. Saya protes, kenapa Ririn bukan Rachel, Keisha atau siapalah gitu biar sekeren nama adiknya. Bukannya Ririn nggak keren, hanya agak jauh kalau dibanding Kenzo yang berbau-bau nama luar. 

Dialog yang cerdas, tidak membosankan, dan asik. Saya sendiri kalau bikin dialog pusing, penulisnya bikin dialog asik banget macam percakapan di buku Oksimoron. Nah besok pengin cerita dikit juga soal buku Oksimoron.

Silver Shadow ini kok sempurna banget ya jadi tokoh, asem bener. Saya sampai batin, aduh ceweknya macem gini kok beruntung banget dapet cowok cakep begini, dewasa, romantis mana pinter lagi. Walaupun insiden ketemunya 'monumental' banget. Apa kudu diselingkuhi berkali-kali dulu ya biar dapet cowok sekeren dia? Tapi sifat Ririn saya juga suka, ceplas ceplos dan unik aja. Tapi pertanyaan ini sudah terjawab di bagian akhir.

Saya gemes banget sama hubungan Kenzo dan gebetannya itu. Kasihan banget Kenzonya disiksa rasa penasaran, rindu, nelangsa banget sih mas. Kalau bikin tokoh kok suka pada nyiksa gini ya. Eh omong-omong saya baru tahu kalau ternyata mereka-mereka itu gitu ya gaya pacarannya he he. Beneran saya baru tahu. Punya sih dulu temen yang orientasi sexnya kaya dia, tapi kan nggak pernah cerita-cerita masalah cinta-cintaan.

"When something is too good to be true, be grateful and accept the happiness you deserve."

Kalau dicari-cari apa yang kurang di novel ini, ehm...nggak ada sih. Paling aku hanya protes soal nama Ririn aja hehe. Selebihnya, saya malah menikmati dongeng-dongeng Silver Shadow, uhm namanya bagus ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.