Sabtu, 12 November 2016

Ikan Terakhir

Dua ikan itu berenang dalam satu wadah.

Anak saya menyukai beberapa hal. Binatang, tumbuhan, buku, dan kadang-kadang menggambar. Kalau soal buku mungkin itu tak lepas dari seringnya saya mengajaknya ke perpustakaan, sebenarnya ke sana lebih sebagai hiburan yang gampang dan murah dari pada ke mall yang hanya belanja saja. Koleksi bukunya juga bukan dari saya saja, banyak juga dari budenya atau saudara yang lain. Mungkin karena mereka tahu kalau anak saya suka baca komik atau buku cerita jadi suka dikasih itu.

Dia juga menanam tumbuhan ceplukan dan dia bilang itu cabai hanya karena saya menanam cabai. Tumbuhan cabai saya juga hanya kebetulan karena cabai-cabai jelek yang saya buang di depan pintu justru tumbuh menjadi pohon cabai. Jadi bukan karena saya beli benih pohon cabai. 

Dia menangkapi belalang dan memasukkan di botol bekas, katanya biar hidup. Saya bilang nanti mati, dia bilang enggak karena diberi makan rumput dan minta saya membuat lubang biar bisa bernapas. Hari berikutnya sepulang sekolah dia langsung mendekati belalangnya yang dia buatkan lubang di depan rumah. Sepertinya dia mendapati beberapa belalang mati, kemudian dia melepaskan belalang yang masih tersisa.

Sebelumnya dia melihat anak-anak menangkapi belalang, ada sekitar 3 anak. Di depan rumah, bagian kebun yang kosong dan berumput. Dia hanya menatap saja, tidak berani mendekat atau bergabung, mungkin karena dia belum kenal. Tapi dia terus menatap mereka ngapain saja. Hari berikutnya dia mencari botol, meniru mereka mencari dan menangkapi belalang kemudian memasukkan dalam botol. 

Kapan itu saya dolan ke Pasty, dia ingin pelihara ikan. Dulu pernah punya sebenarnya tetapi akhirnya mati semua. Akhirnya beli juga ikan gapi yang kecil-kecil seperti ikan cupang, ada sekitar 8 ekor ikan. Ada juga ikan hitam putih yang agak besar. Saya tahu dia belum bisa merawat ikan-ikan itu, tapi biarlah dia belajar. Dulu punya yang lebih besar dan cantik akhirnya mati semua. Dia sering memberi makan ikan itu sangat banyak sehingga air malah menjadi keruh, akhirnya ikan satu persatu mati. Kalau sudah keruh dia kuras dan diganti dengan air yang baru, begitu terus. Tapi kadang ingat kasih makan kadang lupa. Sampai ada yang mati juga didiiamkan saja, akhirnya saya yang membersihkan. Hingga akhirnya ikan tinggal 2 ekor, yang satu adalah ikan yang pernah keluar dari wadahnya. Saat itu saya kira ikan mati, untung juga tidak dimakan gembul. Ikan hitam yang pernah jatuh keluar itu tampak sempoyongan atau gemetar kalau berenang. Tapi, sampai sekarang yang bertahan hidup ya tinggal 2 ikan itu, 1 ikan gapi kecil dan 1 ikan hitam gendut yang berenang gemetaran. Sesuatu yang tidak terduga, yang paling lemah justru paling kuat bertahan.

Selamat berakhir pekan sobat, ini sekedar sedikit cerita pengisi blog ini.

4 komentar:

  1. Aku sewaktu kecil suka dengan belalang, aku ikat pakai tambang kakinya tidadk aku masukan dalam botol. Paling nanti kakiknya patah karena terlalu kaut mengikat.
    Ikan, memang harus rajin membersihkan airnya. Tapi lebih enak lagi taruh dikamar mandi. Atau kolam.
    Aquarium, capek banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waa mas e ki kejam kok diikat-ikat ki gimana
      iya sih kalau ikan taruh di kolam jadi gakrepot bersihinnya

      Hapus
  2. Aku juga nanem cabe mbak..di blkng rumah. Eh..ceplukan klo dah mateng enak juga lho..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe sama mbak, kebetulan cabai mahal
      iya ceplukan manis, sedikit pahit asem kalau belum matang

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.