Kamis, 17 November 2016

Dream Box dan Freio (1)

Tubuh Feist mencoba kabur dengan melesat keluar pintu dream box, celaka...Freio menghadang di depannya dengan secepat kilat. Makhluk transparan itu mendekat, kedua tangannya mengeluarkan letupan-letupan listrik yang memercik. 


Lengan Freio mencoba mencekal lengan Feist, sia-sia Feist melayangkan tendangannya dan melepaskan tembakan ion dari tubuhnya pada Freio. Makhluk itu terpental ke ujung lorong yang terbuka, sebelum tubuhnya tersedot lorong hitam worm hole dia melesat kembali ke arah Feist dan menembakkan sinar kemerahan dari lengannya. Feist tak sempat mengelak dan sinar itu menghantam tubuhnya. Feist terpental kembali ke dekat pintu keluar line dream box, tangannya berusaha membuka katub pintu, tetapi belum sempat jarinya menyentuh katub pintu sebuah tendangan mementalkannya menjauhi pintu. Cengkeraman jari-jari Freio mencekik lehernya kuat, Feist tersengal dan hampir pingsan, tubuhnya berpendar kebiruan menunjukkan energinya melemah. Freio kemudian menarik sebuah cakram bergerigi dari tubuhnya, cakram berwarna kemerahan itu terayun ke arah dada Feist, Feist berteriak kesakitan.

 "Bangun Feist, bangun," teriak Tigre sambil mengguncang-guncang tubuh Feist yang tampak bergerak-gerak. Suara langkah tergesa memasuki ruangan laboratorium, seorang lelaki berkulit cokelat gelap berdiri di sampingnya.
 "Ada apa Gre?," serunya tampak sama paniknya.
 "Feist tidak mau bangun, sepertinya ia terjebak di worm hole," tuturnya tampak pada Bire.
 "Oke tenang dulu, kamu mundurlah." Bire meletakkan tangannya di kening Feist, sebuah cahaya kebiruan memancar dari tangannya masuk ke kening Feist.

Tubuh Fesit tampak berguncang seperti terkena sebuah sengatan listrik lembut. Keduanya masih menatap tubuh Feist yang belum bergerak. Sekali lagi Bire melepas energinya ke tubuh Feist yang terdiam. Monk tampak begitu cemas begitu pula Gre.

Mata Feist mengerjab pelan. "Ah Feist, syukurlah," seru Tigre dan Monk bersamaan. Kedua perempuan itu tampak begitu lega menatap Feist yang mulai sadar.

 "Ah Bire, kau sudah kembali," ucap Feist sambil mencoba duduk. Monk memegang punggung Feist membantunya untuk duduk dan kemudian turun dari dream box.

 "Tigre tadi menghubungiku, sepertinya ada masalah dengan line dream box milikmu," ucapnya sambil mencabuti kabel tipis yang menempel di kepala Feist. lelaki itu perlahan duduk di meja silver di pojokan dekat jendela.

 "Bukan dream box yang menjebakku di sana, ada seorang Freio yang mengejarku dan berhasil menyeretku lewat lubang worm miliknya."

 "Feist, aku sudah mengamankan rute perjalananmu, tak terdeteksi satu virus Freio pun di komputerku," Monk setengah berteriak membela diri.

 "Pasti bukan kesalahanmu Monk, pasti ada kebocoran enkripsi di line worm milikmu Feist." Tigre menepuk-nepuk pundak wanita berkulit bersih bermata sipit itu.

 "Kau yakin yang kau lihat Freio?" tanya Bire menatap kembali Feist yang menelan tiga pil penghilang mabuk dream boxnya. Feist hanya mengangguk pelan sambil membalas tatapan Bire.

 "Bagaimana Bire, apakah bisa Freio berkeliaran di dream box kita, apa yang mereka cari?" kata Tigre.
 "Entahlah Gre, mungkin dia tersesat atau mungkin ada yang dia cari di line kita."
Bire mengetik banyak angka dan huruf untuk mencari jejak Freio yang masuk di dream box Feist sekaligus mengecek firewall yang dibuat Monk sebelumnya.

Tak mungkin Freio berkeliaran di line ini tanpa maksud, pasti dia sedang menyelidiki sesuatu dan bagaimana dia bisa menembus firewall berlapis dan kuat yang dibuat Monk. Bire mengerutkan dahinya sambil berpikir terus.

Freio adalah makhluk transparan yang berupa kumpulan sandi kuat yang disebar sebagai mata-mata dari pihak sesi nomor satu organisasi S-75. Organisasi ini adalah kumpulan terbesar dan terkuat yang selama ini ada di dunia Ocula. Freio biasanya digunakan untuk mencuri informasi rahasia dari berbagai aliansi kecil bawah tanah yang mencoba mencari-cari masalah dengan organisasi S-75. Semua yang hidup di Ocula tahu benar sepak terjang para pengikut S-75.

*bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.