Jumat, 28 Oktober 2016

Burung-burung

Pagi yang cerah itu menjadi sedikit riuh oleh suara cicit burung-burung kecil yang beterbangan ke sana kemari. Dari atap rumah satu ke atap rumah yang lain. Bulu cokelat yang tidak pekat, beterbangan ke kabel-kabel yang bergelantungan, ke besi-besi sisa tiang, berkejaran sambil riuh bercicit di tanah mematuk bebatuan dan biji-bijian. Kupandangi burung-burung itu dari balik jendela dapur, segelas teh hangat di genggaman, dan kaca jendela yang masih basah oleh sisa hujan.


Burung, ingatanku melayang ke waktu yang sudah sangat jauh. Anak burung emprit itu masih kecil, lemah dan bulunya berwarna cokelat. Di tempatku burung emprit yang sering kami kenali ada dua, yang emprit cokelat biasa dan emprit kaji yang berkepala putih dan berbadan cokelat. Sewaktu tanaman padi di sawah kami mulai menguning, burung-burung kecil ini datang dalam kelompok besar. Datang ke sana untuk memangsa buah padi yang bergelantungan menguning. Kami mengusirnya dengan alat yang kami rangkai dari kaleng-kaleng yang diisi batu dan disambungkan dengan tali dari satu tiang ke tiang yang lain sampai bagian sawah paling bawah. Saat kami menarik satu tiang, maka bunyi kaleng dari satu tiang ke tiang lain mengusir burung-burung itu terbang, sesaat. Saat lain mereka terbang ke bagian sawah tetangga, saat berikutnya di usir terbang lagi ke tempat lain, begitu terus. Mereka kadang terbang dalam kelompok besar, dalam jumlah entah puluhan burung bahkan mungkin ratusan.

Kembali ke anak burung, dia mungkin terjatuh dari sarangnya, atau ditinggalkan induknya saat berlatih terbang, bulunya belum genap keluar semua, sebagian masih berupa bulu-bulu yang belum jadi. Anak laki-laki tetanggaku hendak mengambilnya, tetapi aku tahu burung itu pasti akan dijadikan makanan kucing atau ikan atau yang lebih buruk dari itu. Aku menawarkan diri memeliharanya.

Tanpa kandang, aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar memelihara anak burung itu begitu saja. Sangkar, itu terlalu mewah untuk anak kampung sepertiku saat itu. Kupatahkan sepotong lidi, kutancapkan di dinding dan disitulah burung kecil malang itu bertengger. Beruntung saat itu aku belum memelihara kucing, jadi keberadaannya tidak akan akan terganggu atau khawatir dimakan kucing. Setiap hari seperti seorang ibu burung aku mengunyah sedikit beras dimulut kemudian memberikan pada burung kecil itu untuk dimakan. Lama-lama bulu ditubuhnya tumbuh sempurna, bahkan sudah sering kulihat dia mengepakkan sayapnya untuk belajar terbang, di waktu lain kutemukan dia berada di lantai karena mungkin meloncat dari batang lidi yang kutancapkan di dinding.

Selang berapa waktu, bulunya lengkap sudah. Dan, dengan berat hati dan sedikit sedih aku menerbangkannya ke alam bebas. Burung kecilku itu pun akhirnya bisa terbang jauh bergabung dengan emprit-emprit lain yang sering kudengar berkicau memandangnya dari atas pohon. Dan burung emprit kecil itu bukan satu-satunya hewan peliharaan yang pernah aku miliki saat kecil, ada anak tupai yang lucu yang akhirnya mati karena aku kecil belum tahu bagaimana merawatnya.

Selamat hari Jumat sobat, semoga waktumu menjadi indah.

2 komentar:

  1. Suka dengan cerita2mu. Mengalir, nyata, tapi kok sedih ya aku mikir nasib si burung?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe makasih mbak, iya harus dilepas, malah kasihan kalau enggak

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.