Jumat, 02 September 2016

8 Hal Setelah Menikah

Sebagian besar orang ingin menikah. Hal-hal indah telah terbayang, hidup serumah dengan suami, apa-apa berdua atau bahkan pemenuhan kebutuhan biologis mungkin alasan utama. Tetapi, apakah yang berencana menikah siap dengan hal-hal nggak enaknya?
Berikut yang nggak enak setelah menikah :

Dua kepala beda pendapat

Pasanganmu lahir dan besar di sebuah keluarga yang sama sekali berbeda denganmu, jika keluarga kamu dan dia memiliki cara asuh dan kebiasaan yang sama bersyukurlah, tetapi jika tidak, bersabarlah. Bukan masalah-masalah yang besar saja, bahkan masalah kecil pun bisa menjadi masalah.

Capek bagi ibu adalah capek secapek-capeknya

Kalau kamu menikah kelak dan kamu tidak mau susah maka siapkan mesin pembantu atau bayar asisten rumah tangga, ini beneran. Jika tidak, maka kamu harus siap dengan cucian baju yang dua hingga tiga kali lipat cucianmu saat single dulu. Begitu juga cucian piring dan lainnya, bertambah kali lipat sesuai berapa anak yang bakal kalian miliki plus suami dan jika ada anggota keluarga lain dalam rumahmu. Belum tugas menjaga kebersihan rumah dan menyiapkan makanan dari pagi hingga malam. Kalau repot, ya baca kalimat di awal paragraf tadi.

Jadi jika kamu tak cukup kuat membayar asisten rumah tangga atau membeli peralatan pendukung sebaiknya kalian harus siap-siap fisik sekuat mungkin. Itu pun jika pasangan sok jaim tak membantumu maka beban ini makin berat saja. Siapkan mesin cuci, magic com, penyedot debu dan lain sebagainya. 

Siap-siap begadang jika punya bayi 

Kalikan kecapekan ini jika kamu berencana punya momongan lebih dari satu. Kalau umumnya bayi akan diberi minum setiap dua jam sekali. Meskipun bayi tidak menangis kehausan tetap harus diberikan. Dan beruntung jika punya suami yang siaga atau didampingi ibu atau ibu mertua. Bayangkan kamu habis melahirkan, masih banyak keluar darah, lemas, sakit dan harus bangun dua jam sekali menyusui anak bayi hampir setiap malam, saya ulangi setiap malam, belum kalau siangnya, siap?

Tukang sapu

Jika biasa di rumah dulu sebelum nikah masa bodo dengan kebersihan rumah, semua tergantung ke asisten rumah tangga atau ibu misalnya, maka jika menikah kamu harus mulai meninggalkan kemalasan ini jauh-jauh dari hidupmu. Dan jika kamu harus punya kesabaran ekstra, sejam disapu sejam kemudian anakmu main tanah dan lantai kotor lagi, atau sejam dipel kemudian anakmu mengajak semua kawannya main ke dalam rumah tanpa sendal sehabis lari-lari di kebun, belum jika kamu punya hewan peliharaan yang makin menambah kerepotanmu.

Capek kerja masih ada pekerjaan di rumah

Seorang ibu yang tidak mengurus anaknya pasti dituduh ibu yang tidak baik. Jika kamu ibu pekerja yang pergi pagi pulang sore, sepulang kantor capek kerja kamu masih harus mengurus anak dan rumah. Rumah harus bersih, rapi, makanan di meja dan anak-anak sudah bersih dimandikan. Siap menyambut suami dan siap menemani mereka makan dan lanjut mengajari anak belajar malam hari. Bayangkan anjuran mendampingi anak itu, jadi lupakan dulu untuk leyeh-leyeh. Lupakan capek kerja dalam sehari tadi, masih ada pekerjaan lanjutan di rumah. Beruntung jika kamu bisa membayar asisten rumah tangga dan juga pengasuh anak-anakmu.

Tidak bisa bangun siang

Sewaktu sekolah atau kuliah kamu bisa saja bangun sesuka hati, mau siang mau pagi terserah saja. Tidak peduli diomeli ortu atau dipangil-panggil untuk bangun pun kamu masih bisa cuek. Tetapi setelah menikah tentu saja -apalagi buat perempuan/ ibu- hal itu sulit dilakukan, kalau bapak-bapak mungkin cuek. Selain menyiapkan sarapan pagi atau sekedar membersihkan rumah, merapikan rumah atau menyiapkan peralatan sekolah anak. Belum lagi harus beramah tamah dengan tetangga, tuntutan untuk bersosialisasi dan tetek bengek di lingkungan semacam arisan, pertemuan ibu-ibu, pertemuan ini itu, acara kondangan, acara kampung dll. Kamu para calon ibu jarus jadi wonder woman, siap ya?

Mengalah untuk banyak hal

Jika saat masih sendiri dulu kamu biasa egois, maunya menang sendiri, beda lagi saat kamu menikah. Kamu harus berkompromi dengan kemauan dan keinginan seluruh anggota keluarga yang lain. Dan satu lagi nggak gampang marah dan tersinggungan. Ini berat dan benar-benar menguras energi.

Jika saat makan kamu memilih menu A tetapi mereka memilih B maka mau tidak mau kamu harus memilih menu B. Misalkan saja kamu suka pedas karena anggota keluarga yang lain tidak suka pedas maka kamu cenderung memasak tidak pedas. Kecuali kamu siap capek atau siap mengeluarkan biaya lebih untuk itu. Jika kamu memasak dan tidak enak, bersabarlah dengan reaksi suami atau anak-anakmu.

Semisal dulu pacaran kalau marahan terus nggak mau ketemuan, nggak mau terima telepon, pokoknya nggak mau tahu dulu. Beda jika kalau kamu menikah, bukankah kalian tinggal dalam satu atap, nggak akan lari kemana bukan? paling jauh pulang ke rumah orang tua. Tapi, pasti kalian bakal mikir kalau sampai orang tua tahu keadaan rumah tangga kalian pasti justru membuat mereka cemas, belum lagi kamu pasti mikir image keluarga yang kamu bangun bersama suami. Kamu juga nggak bisa curhat ke kawanmu ketika bermasalah dengan alasan jaim itu tadi, ya misal takut nanti kawanmu tahu keluargamu tidak baik-baik saja. Jadi, kalau bermasalah dengan pasangan pasti tidak bisa saling menjauh atau lari, atau ngancem pisahan atau putus dengan mudahnya seperti saat pacaran dulu.

Dua kebiasaan

Bersyukur jika kamu hidup dengan pasangan yang sangat mirip kebiasaannya denganmu, tetapi jika tidak harap bersabar. Jadi sebaiknya kamu benar-benar mengenalnya sebelum menikah agar tidak terkaget-kaget saat menikah nanti. Dan beruntung lagi jika suamimu bukan laki-laki yang rewel dan banyak maunya atau menuntut ini itu dari kamu, karena bahkan untuk laki-laki yang sederhana saja sudah akan membuatmu capek.


Ah iya beberapa waktu lalu saya baca jika menikah maka rezeki kita menjadi 2 kali lipatnya, uhm...ya mungkin itu benar. Tapi jangan lupa setelah menikah biaya juga bisa naik hingga 8 kali lipatnya. Contoh saja, biaya sekolah anak, biaya bayar kebutuhan rumah, kebutuhan sehari-hari yang bertambah sesuai banyaknya anak, masalah tempat tinggal, isi rumah, kendaraan atau bahkan keperluan 'umum' di masyarakat dan lainnya.

Satu hal lagi, sekedar saran saja, kalau kamu perempuan dan berencana menikah, sebisa mungkin kamu memiliki penghasilan sendiri. Entah bekerja di luar rumah atau dari rumah terserah saja. Itu sekedar saran, saya nggak bisa jelasin kenapanya, nanti kamu jika menikah akan tahu sendiri kenapa. Setidaknya, kamu bisa membeli barang yang kamu suka atau memenuhi kesenanganmu sendiri atas hobi atau apa, tanpa mengganggu uang untuk keluargamu. Kamu tidak dipandang sebelah mata oleh mertuamu dan punya daya saat mengambil keputusan dengan pasanganmu.

Karena pernikahan saya bukan pernikahan antar milyuner, maka seperti itu yang saya ketahui, ini hanya kehidupan sebuah keluarga yang sangat-sangat biasa saja. Mungkin jika keluarga lain tidak begitu, ya itu tadi tinggal bagaimana mereka menerima pernikahannya.

Menikah adalah mengkompromikan banyak hal yang berbeda. Intinya hanya pada kesiapan secara materi dan emosi. Untuk memudahkan segala hal bisa memakai uang, tetapi kebahagiaan dicapai dari pemenuhan bukan materi saja. Atau pilihlah seseorang yang sangat-sangat penyabar dengan apa adanya dirimu, bisa menerima apapun kehidupannya kelak bersamamu dan bisa menyetujui apapun keinginanmu. Semoga pernikahanmu langgeng dan bahagia. Tapi apakah kehidupan setelah menikah itu menyedihkan? Tergantung, tergantung bagaimana kamu menerimanya.

4 komentar:

  1. Sebenarnya bukan punya penghasilan sendiri. Tapi lebih tepatnya punya ketrampilan khusus untuk menunjang atau membantu kehidupan keluarga. Syukur-syukur bisa menghasilkan uang.
    Semisal menjahit, nantikan tidak perlu ke tukang jahit jika baju anak atau suami sobek.
    Nah, semua diawalin niat ibadah akan terasa ringan. Capek dan letih pasti ada. Kadang harus rela mengalah demi kebahagian anak. Semisal kurang tidur atau menunda beli lipstik demi susu anak terbeli.
    Ah kayak pernah nikah saja aku ini, sok tahu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya itu juga bisa mas,maksud saya bisa juga bekerja dari rumah kalau punya keterampilan sendiri, tapi intinya tetap punya penghasilan sendiri kalau saya. Karena setahu saya kalau perempuan tidak punya penghasilan sendiri cenderung seperti mengiyakan apapun keinginan pasangan, maksudnya dalam pengambilan suatu keputusan dia jadi tidak berani. Ini hanya curhat ibuk-ibuk kok mas, kalau bapak-bapak saya kurang tahu. Iya sih mas tergantung niat juga ya hehehe

      Hapus
  2. makanya itu saya selalu berusaha bantu pekerjaan rumah istri.

    biasanya nih klo pagi, tugas saya bersih-bersih rumah, mencuci pakaian (meskipun pake mesin cuci), mandiin + suapin si kecil aiko. klo ibune belanja, masak, cuci piring, dan nganterin sinichi ke sekolah.

    kasian klo semuanya harus ibune, mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waa suami teladan ini mas Budi hehe
      beruntung sekali istrinya dibantu banyak hal begitu
      betul mas, nyatanya memang berat kok pekerjaan di rumah dan pasti istri senang sekali kalau dibantu

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.