Jumat, 29 Juli 2016

Perjuangan Tak Kenal Lelah

Sudah dua tahun lamanya ibu-ibu dari Rembang berjuang demi kelestarian alam Pegunungan Kendeng. Saya memang hanya membaca kabar mengenai mereka dari beberapa tulisan media.

Pertama saya membaca tentang banyaknya mata air di pegunungan itu yang bakal mati atau hilang jika ada penambangan di sana.

Ya hampir setiap tahun pertumbuhan perumahan dan pembangunan semakin banyak. Saya juga tidak tahu berapa banyak dibutuhkan semen untuk itu. Sementara di sekeliling saya perumahan-perumahan semakin menjamur tak terkendali. Sawah semakin menyempit bahkan hilang berganti bangunan-bangunan.

Sementara pertanian di lembah-lembah gunung kapur di sini mendapat suplai air dari tempat lain yang lebih banyak air, semua berawal dari sungai-sungai yang mengalir membelah Jogja. Sangat berbeda dengan masyarakat Kendeng yang mengandalkan pengairan sawah dan kebun mereka dari pegunungan itu. Dan sayang sekali jika mata air itu hilang pasti nasib para petani akan sangat kesulitan. Kalau membayangkan kondisi mereka saya jadi membayangkan kesulitan air yang dialami warga Gunung Kidul di sini.

Jika tidak pernah tahu bagaimana sulitnya hidup tanpa air, coba sekali-kali bertandang ke Gunung Kidul, bagaimana repotnya hidup di sana. Saya pernah menghadiri acara pernikahan seorang saudara di sana, saya benar-benar bingung melihat bagaimana air menjadi barang langka. Tidak setiap rumah memiliki sumur sendiri. Ini aneh bagi saya yang hidup bergelimang air. Orang-orang yang mandi, mencuci, memanfaatkan air dengan mengalirkan selang-selang air dari sebuah mata air. Mata air itu berada persis di bawah sebuah pohon besar. Sementara di musim kemarau semua tanah di sekelilingnya gersang tanpa tanaman, di sekitar mata air tetap hijau dan subur. Hal ini tidak pernah saya jumpai di kampung saya, yang alhamdulillah masalah air cukup melimpah tak pernah kekurangan.

Ibu-ibu dari Kendeng sudah berjuang untuk urusan itu selama dua tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Dan hanya segelintir orang yang peduli pada kelestarian alam, dibandingkan dengan mereka yang lebih memikirkan diri sendiri.

Bapak saya petani, saya hidup dan besar di lingkungan para petani. Dan sejauh yang saya tahu -sekali lagi- hanya segelintir orang yang peduli pada kelestarian alam. Jadi, harusnya kita bersyukur masih ada orang-orang yang peduli dengan itu, seperti para ibu-ibu hebat dari Kendeng ini. Kecuali kalau kalian sudah memiliki cadangan rumah di planet lain.

Demikian semoga bermanfaat. Salam dan dukungan saya dari Jogja untuk perjuangan mereka, juga bagi ibu-ibu dan perempuan hebat lainnya.

2 komentar:

  1. Tiba2 lihat judul ini langsung tertarik membaca karena barusan di TL saya ada blogger yg membela pabrik semen di Rembang habis2an.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya lebih ke lingkungannya mb dan mereka sudah lama sekali menyuarakan keinginan mereka itu
      semua orang berhak berpendapat dengan alasan masing-masing

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.