Jumat, 15 Juli 2016

Kabang-kabang

Pertama kali melihatnya aku merasa dia biasa saja. Kami bicara seadanya, kemudian dia pamit pergi dan aku kembali ke kegiatanku semula, duduk membaca.

Sesampainya di rumah, aku teringat sesuatu, tatapan  matanya. Selama beberapa hari tatapan mata itu menghantuiku, aku tidak bisa melupakannya. Berulang kali aku meyakinkan diri, si pemilik mata itu baik-baik saja. Tak ada sedih yang ditanggungnya, tak ada yang perlu aku khawatirkan dan lebih aneh lagi kenapa juga aku harus merasa begini repotnya. Dia bukan rudin yang sering aku temui sesekali di jalan. Bukan, sama sekali bukan.

Mata itu, bukan mata yang bahagia, atau aku salah lihat pikirku. Selama di depanku, mata itu nampak datar dan terkesan ada sesuatu yang dia simpan sendiri. Mungkin semua orang juga begitu, tetapi sepasang matanya benar-benar beda. Padahal dia si pemiliknya, orang baru yang paling ramah yang aku kenal. Bahkan aku tidak takut, seperti layaknya bertemu kawan lama. Apa aku salah lihat? Bisa saja, karena mataku yang minus beberapa ini, tak juga suka memakai kacamata, jadi sesekali seseorang nampak bagai kabang-kabang di mataku.

Tapi, di saat lain dia tampak tertawa, dan dia baik-baik saja. Kemudian aku berpikir kenapa juga aku terus mengingat sepasang mata sedih itu. Mungkin hanya perasaanku saja. Nyatanya dia bisa tertawa, dan dia sepertinya tidak kurang suatu apa. Atau sebaiknya aku tuliskan saja cerita sepasang mata yang bagai disemuti kabang-kabang itu.

Aku kadang berpikir saat di depannya, apakah dia tahu, aku selalu memikirkan sepasang matamu yang menatapku dengan sedih itu? Apa kamu tahu aku merasa kamu tidak baik-baik saja, atau hanya perasaanku saja? Jika demikian, sekali-kali tertawalah di depanku, agar aku merasa aku kawan yang baik seperti kawanmu yang lain. Karena kau tahu, setiap kali menatap matamu, aku merasa bersalah, sepertinya aku bukan kawan yang bisa membuatmu tertawa, atau hanya padaku mata sedihmu itu kau tunjukkan?

Aku tahu, kamu tak akan menemukan catatan ini, apalagi sampai membacanya, aku juga tak berharap kamu membacanya. Sebenarnya mungkin jika kamu membaca catatan ini, kabang-kabang di matamu akan menghilang. 

6 komentar:

  1. Bola mata itu berputar, dan akan berhenti kesiapa yang menatapnya dengan serius. Bola mata menunjukkan ekpresi. Ah, kenapa hanya ekspresi sedih saja, yang aku lihat. Ah mungkin dia ingin mengatakan sesuatau tapi takut. ingin mengatakan bahwa dia tidak cinta padaku. Ah bingung aku !

    BalasHapus
  2. bola mata itu berputar kemudian menggelinding ke lantai dug dug dug ...hiyaaa ternyata bola mata boneka
    jangan bingung mas sudah nggak puasa kok hehe

    BalasHapus
  3. Tatapan matamu menarik hati... Oh senyumanmu manis syekali *malah nyanyi*

    Duh tulisannya sendu syahdu. Setelah baca ini, aku jadi teringat pada sepasang mata yang dulu selalu aku kagumi, sayangnya sepasang mata itu tak lagi jadi dermaga, melainkan cakrawala yang bertolak menjauhiku. Hiks, ikutan jadi puitis xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyanyi juga boleh mb di sini
      woh malah sendu ya, dermaganya pindah kemana mb?
      hmm cari dermaga terdekat saja mb :)

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.