Selasa, 28 Juni 2016

Selikuran dan Laut

Tak terasa bulan Ramadhan sudah memasuki bilangan dua puluhan. Tepatnya minggu kemarin tanggal 26 Juni 2016 hitungan puasa telah mencapai puasa yang ke 21 - orang Jawa senang menyebutnya selikur. Apa yang istimewa di hari ke 21 ini? Acara Selikuran di kampung saya.

Selikuran di kampung saya tidak ditandai dengan ritual atau acara mewah. Kami biasa mengunjungi pantai pada hari itu. Entah untuk sekedar berekreasi atau juga sekalian mandi di laut. Tapi ombak yang kemarin tinggi cukup membahayakan untuk bermain air di pantai. Meskipun hal itu sepertinya tidak menyurutkan keinginnan mereka ke laut. Seperti bapak saya yang merasa kecewa karena kemarin tidak jadi ke laut untuk selikuran.

Saya ingat dulu sewaktu kecil dengan susah payah berjalan atau bersepeda dari kampung saya menuju ke pantai. Jaraknya sebenarnya tidak begitu jauh, melewati kampung-kampung dekat pantai, dan bagian terberatnya adalah melewati lautan pasir yang cukup jauh. Hampir tiap bulan puasa ke 21 selalu kami berbondong-bondong ke pantai. Berangkat sejak subuh atau pagi sekali sebelum matahari muncul dan pulang dengan berpanas-panas menyeberangi bagian berpasir itu jadi merasakan tersiksanya Sungu Lembu dan 2 kawannya saat menyeberangi padang pasir. Ah tentu saja lautan pasir itu tidak sampai bisa disebut padang pasir, hanya barisan gumuk pasir yang berjejer panjang. Bahkan setiap selikuran saya selalu ingat salah satu tempat favorit yang saya lewati menuju laut saat itu yaitu sebuah tanjakan pasir yang cukup tinggi yang saya ceritakan di buku ini. Tempat itu jadi favorit anak-anak kampung seperti kami setiap ke laut melewati jalur itu.

Ah iya, soal selikuran mungkin ada hubungannya juga dengan rasa syukur dan cerita kampung kami. Menurut cerita bapak, dulu kampung kami yang agak dekat pantai itu masih berupa rawa-rawa yang berair dalam. Tanah di kampung kami belum mengeras dan padat seperti sekarang. Penduduk awal kampung kami, sepasang kakek nenek yang jika air laut pasang maka mereka menaiki perahu untuk menjauh sementara hingga air laut surut lagi. Bahkan menurut bapak saya, dulu jalanan kampung masih sangat dalam berlumpur hingga selutut. Sampai sekarang untuk kampung yang dekat dengan laut masih rawan tergenang air, entah itu air sungai yang meluap atau ditambah mungkin air laut. Jadi selikuran mengingatkan saya pada asal usul kampung saya juga.

Tapi tradisi selikuran itu kini tidak seramai dulu, anak muda di kampung saya sekarang sudah tidak begitu meminati acara selikuran di laut. Seperti juga acara Ruwahan dan kesibukan membuat kue apem, selikuran juga mulai meluntur seiring waktu berjalan.

Tentu saja 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah saat penting untuk beribadah, tetapi saya kira selikuran juga sebagai cara untuk bersahabat dengan alam. Mungkin dengan melihat laut, jadi mengingat kebesaran sang Pencipta dan mengagumi keindahan yang diciptakan-Nya itu. Bahkan saat berjalan di sela-sela gumuk pasir yang panjang, panas dan jauh saat puasa lagi, saya sering membayangkan apakah padang Mahsyar akan seperti itu? semoga di sana masih ada naungan seperti pohon kelapa yang sering saya jumpai setelah berjalan berpanas-panas itu atau setidaknya tidak berjalan kaki lagi, amiin.

Selamat mejalankan ibadah puasa bagi yang sedang menjalankan.

2 komentar:

  1. Tradisi seperti itu bisa putus ditengah jalan puasanya. Kalau ditempatku umumnya habis solat terawih terus makan bersama. Tumpengan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mas kehausan karena kepanasan
      wah kalau tumpengan enak juga mas

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.