Sabtu, 18 Juni 2016

Elang dan Kamu

   "Gimana? cantik nggak Lang?" tanyanya di depan cermin. Sesekali bibirnya memamerkan senyum sambil mengangkat ujung gaun selutut yang warnanya serupa kulit.

   "Tinggal tambah high heels, simpel tapi manis." 

   "Sungguh? aku lebih menyukaimu dari pada Rere. Aku bisa bicara apapun denganmu." Gadis itu berputar sekali lagi.
   Suara mobil terdengar di depan pagar, seorang lelaki di belakang kemudi melambaikan tangan dari balik kaca mobil.
   "Segera pulang jangan terlalu malam."

   "Oke, aku pergi dulu ya," jawabnya sambil menuruni tangga, menuju ruang tamu dan bergegas masuk ke mobil yang menunggunya.

***
    Denting garpu beradu dengan piring, suara orang yang berbicara lirih, tawa seorang gadis berlipstik ungu dan lampu yang redup.

    "Mau yang mana?" tanya lelaki itu menunjuk aneka roti.
    "Ehm....cheesecake saja." 
    "Tapi blackforest di sini enak, coba ya?" bujuk lelaki itu.
    "Baiklah, terserah kamu." 

   Keduanya duduk berhadapan, gerimis jatuh pelan-pelan, suara langkah cepat kaki-kaki yang menghindari hujan. Klakson kendaraan berbunyi nyaring membuat seekor kucing berlari menjauh. Seorang gadis yang termangu di balik kaca memandangi hujan.

   "Jadi...tidak ada yang mau kamu ceritakan lagi?" tanya lelaki berkemeja rapi di depannya. Dua cangkir kopi bisu menjadi pendengar setia percakapan mereka.
   "Belum, langsung balik ke kantor?" tanya gadis itu sambil meraih cangkir cappucinonya. Diam sesaat.

   "Apa kamu pikir ini sesi terapi? apa kamu masih menganggapku begitu? sampai kapan kamu menatapku sebagai gadis biasa yang mencintaimu dan kau cintai?"

   "Iya, aku antar kamu pulang dulu, aku masih ada sedikit urusan di kantor." Jawabnya sambil menatap gadis di depannya. 
   "Baiklah." Gadis itu bersiap berdiri.
   "Ah ya, gaunmu malam ini cantik, simpel dan manis." 
   "Makasih Re, aku suka gaun ini," jawabnya tersipu.
   "Tapi..lebih cantik lagi kalau putih."

   "Tentu saja Re, baju putih lebih cantik, sepatu putih lebih manis, bunga putih lebih menarik, semua warna putih bagimu selalu lebih indah dan aku suka warna merah bukan putih."

                                                                             ***

   Lampu kamar belum dinyalakan. Kegelapan kadang tempat paling tepat untuk menyembunyikan. Kesedihan, tangis, doa, rindu, kebencian, semua pasti tak akan terlihat.

   "Gimana tadi?"

  Hanya suara hembusan nafas keras, dengan begitu semua yang tadi mengendap bisa ikut terpental.

   "Seperti biasa, memaksaku menyukai apapun yang dia suka." Gadis itu tertelungkup dengan muka menatap kaca.

    "Memaksa apa maksud kamu?"

   "Kau tahu kan, aku tidak suka cokelat, tetapi dia seperti tidak tahu kalau aku tidak suka cokelat. Memilihkanku makanan itu." Dia melempar bantal ke arah kaca.
    "Kamu nggak bilang kalau kamu tidak suka?"
    "Harusnya dia tahu Lang, aku pernah bilang soal itu."

   Hening, hanya suara hembusan nafas pelan yang lama-lama melambat dan lelap. Suara pintu kamar terbuka, seorang perempuan masuk dan melepas sepatu gadis itu.

     "Anak ini tidak pernah takut sendirian dalam gelap begini, Mona... Mona..." gumamnya sambil keluar.

                                                                  ***

    "Bagaimana Re, apa ada perkembangan?" tanya seorang lelaki di depannya.
    "Belum, masih sama." jawabnya malas.
Lelaki di depannya tersenyum,"Bukannya kemarin kalian kencan?" tanyanya lagi.

    "Aku sudah janji pada ayahnya, untuk menjaga dia sampai dia sembuh." Katanya sambil meminum kopi di gelasnya.
    "Kau tak menyukai Mona? Dia cantik, keluarganya kaya dan anak tunggal lagi."
Lelaki berseragam putih-putih itu hanya diam.

                                                                              ***



"Cerita ini diikutsertakan dalam mini Giveaway novel Three karya Reffi Dhinar"

2 komentar:

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.