Jumat, 20 Mei 2016

Rumah Sakit Jagal

Rumah sakit jagal, sebenarnya terlalu berlebihan juga kalau disebut demikian. Tapi kenyataan yang saya hadapi dan berbagai hal yang terjadi di sana membuat saya menjuluki rumah sakit itu 'rumah sakit jagal'. Cerita ini hanya pendapat pribadi saja, tidak perlu diambil serius.

Pertama-tama, saya baru kali ini hidup di dekat rumah sakit, jadi kurang begitu tahu bagaimana kondisi sebuah rumah sakit. Apakah memang wajar jika setiap bulan ada begitu banyak pasien yang meninggal. Maksud saya berapa wajarnya untuk sebuah rumah sakit.

Yang kedua, saya juga tidak tahu persis apakah kematian mereka wajar atau tidak. Maksud saya apakah mereka memang tidak bisa tertolong atau karena hal lainnya. Sila ambil kesimpulan sendiri setelah cerita saya ini nanti.

Mengenai banyaknya orang yang meninggal bisa dibandingkan dengan jumlah kasus kecelakaan di jalan. Saya tidak tahu berapa jumlah wajar sebuah jalan dengan kasus kecelakaan. Apakah ada faktor terkait tentang kasus banyaknya kecelakaan misalnya saja kondisi jalan yang kurang baik, rambu lalu lintas yang kurang, atau banyaknya pengguna jalan dan lainnya. Hal ini mirip dengan pertanyaan soal kasus kematian di rumah sakit yang saya maksudkan.

Begini, kenapa saya menjuluki rumah sakit itu rumah sakit jagal? Jadi suatu hari ketika di rumah mendengar siaran berita kematian seseorang. Dan disebutkan di mana dia meninggal, nah di rumah sakit itulah dia meninggal. Kalau hal ini terjadi sekali dua kali mungkin saya tidak peduli juga. Hingga berkali-kali orang yang meninggal selalu dari rumah sakit itu. Sampai saya akhirnya cerita ke suami kalau sering banget orang meninggal di rumah sakit itu. Suami semula biasa saja, hingga akhirnya dia mendengar sendiri bukti yang saya katakan. Lagi-lagi orang meninggal dari sana.

Logikanya, orang sakit yang tinggal di sekitar rumah sakit itu kalau sakit kemungkinan besar dibawa ke sana. Oke, itu masuk akal. Tapi kenapa sering sekali kasus kematian di sana itu yang saya tanyakan.  Setiap bulan pasti ada saja korbannya, bukan hanya satu orang. Apakah hal itu wajar di sebuah rumah sakit?

Alasan kedua adalah pengalaman saya sendiri di rumah sakit itu. Mengenai itu pernah saya ceritakan di tulisan lain di label Kesehatan. Bukan sekali saya ke sana, karena lokasinya dekat rumah maka saya juga sering berobat ke sana. Termasuk dulu kakak saya juga langganan rumah sakit itu.

Saat saya sakit, saya mendapati begitu banyak obat yang disuntikkan ke selang infus saat itu. Setiap pagi satu botol bening antibiotik disuntikkan ke infus. Ya, saya tahu itu antibiotik karena saya bertanya ke perawat yang menyuntikkan obat itu.

Hingga hari ketiga saya yang semula hanya mengeluhkan sakit nyeri kemudian terus menerus muntah, termasuk jika membaui sesuatu seperti bau bumbu, pewangi dan lainnya. Kehilangan selera makan, muntah-muntah dan pusing membuat saya kehilangan tenaga. Sore itu saya ditemani suami jalan-jalan keluar kamar dengan infus yang masih menempel di tangan. Saya bilang padanya kalau saya merasa semakin buruk selama perawatan dan saya ingin pindah rumah sakit. Suami menurut saja keinginan saya dan kemudian saya benar-benar pindah ke rumah sakit lain.

Kenapa saya membahas rumah sakit jagal adalah karena beberapa waktu lalu salah satu keluarga teman kantor juga meninggal di tempat itu. Dan kawan saya yang pernah saya ceritakan soal rumah sakit itu tiba-tiba nyeletuk “eh rumah sakit itu ya” dan saya jadi ingat tentang rumah sakit itu lagi.

Demikian secuil cerita ini semoga ada hal baik yang bisa diambil manfaatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.