Senin, 09 Mei 2016

Bakul Lotek

Bakul lotek itu telah menorehkan luka di hatiku. 

Dan aku kemudian merasa tidak ingin lagi membeli loteknya yang mak nyus itu. Betapa jahatnya dirimu, saat aku memuji makanan buatanmu, merekomendasikan warungmu tempat makan lotek terenak di kotaku, kenapa kamu justru berbuat jahat begitu padaku. Rasanya seperti saya dikhianati oleh orang yang paling saya banggakan. Saya jadi tidak bernafsu lagi dengan apapun masakan warung makan itu. 

Piye coba perasaanmu?

Begini ceritanya, siang itu saya pulang ke rumah bapak untuk menengok taneman-taneman saya. Siang itu seperti biasa saya pengin makan lotek kesukaan saya di warung yang -sayangnya- letaknya agak jauh dari rumah. Tapi karena cukup enak saya pun tetap berangkat sendirian ke sana. Seperti biasa warung ramai dan antrian cukup panjang. Tapi saya sabar-sabarkan karena saya memang pengin beli masakan ibu itu.

Selama antrian itu saya mengingat betul siapa saja yang datang lebih dulu dan siapa yang datang belakangan. Saya masih dalam antrian dan saya santai saja bermain ponsel membunuh kebosanan. Satu persatu orang yang tadi memang antri sebelum saya datang akhirnya membawa pesanan masing-masing dan pulang. Ibu yang melayani warung itu ada tiga orang, yang satu membuat gado-gado, yang satu mengulek bumbu dan membuat lotek dan satu lagi khusus memegang masakan soto. Entah gimana mulanya si ibu pemilik warung mulai mendahulukan orang-orang yang datang belakangan dan jelas-jelas duduk agak jauh. Saya dan seorang bapak tua yang sedari tadi duduk di dekatnya seperti diabaikan. Saya semula berpikir mungkin ibunya lupa, tetapi oh tetapi ibu itu terus mendahulukan pelanggan lain. Saya membatin apakah karena dia memesan lebih banyak dari saya? ataukah dia pelanggan tetap di sana? Saya merasa perlakuan ibu itu tidak adil. 

Hingga setelah beberapa kali didahului dan saya memang diam saja-menguji kesabaran-akhirnya pesanan saya siap. Saya berdiri dan membayar makanan pesanan saya. Dan apa yang terjadi? bapak-bapak di dekat saya tadi ngobrol dengan seorang temannya yang baru datang. Saya dan pemilik warung bahkan semua yang antri dengan jelas mendengarnya. Yang intinya dia mengatakan "Lha ini saya dari tadi antri datang duluan sama mbaknya ini -nunjuk saya- malah didahului terus sama yang lain" sambil tertawa. Saya hanya senyum saja mendengar kata-kata bapak itu. Karena ternyata bapak itu juga merasakan hal yang sama dengan yang saya alami. Tiga serangkai pemilik dagangan hanya nyengir-nyengir nggak jelas tak menjawab sepatah katapun.

Selanjutnya inilah yang menguji kesabaran saya. Saat saya membayarkan uang pada ibu itu, kok ya dia bilang nggak ada kembalian. Padahal ya, dari tadi saya duduk disaksikan semua yang disitu ikut antri, semua pembeli yang membayar jelas-jelas dapat kembalian. Kemudian ketiganya tampak cuek hanya bilang berkali-kali nggak ada kembalian tanpa berbuat apapun. Apapun. Saya benar-benar mulai kesal dan dengan menahan rasa marah saya menukarkan uang saya di sebuah toko dekat situ. Dan sebenarnya saat itu saya sudah akan meninggalkan begitu saja pesanan saya karena dobel jengkel, tapi entahlah saya mikir sudah jauh, panas dan membayangkan orang rumah menunggu makanan itu. Saya lagi-lagi ngalah kembali ke sana dengan muka datar membayar dan langsung pergi, si ibu penjual makanan berulang kali minta maaf, saya kemudian ngeloyor pergi. Saya berjanji dalam hati nggak bakalan membeli makanan di tempat itu lagi. Dan tak satu pun makanan itu yang saya makan, saya sudah cukup kenyang dengan kekesalan saya hari itu.

Ini kisah bakul lotek lainnya.

Padahal dalam beberapa hari sebelumnya ada satu lagi bakul lotek yang juga bikin jutek kawan saya. Inipun bakul lotek favorit saya, ya Tuhan. Makanya, saya pikir kok saya dibuat kesal berulang kali begini. Bahkan oleh orang yang makanannya saya rekomendasikan, lagi-lagi.

Bakul lotek ini lumayan dekat dengan rumah. Dibandingkan tempat lain saya lebih menyukai lotek buatannya. Saya suka lotek? enggak juga sih, biasa saja. Tapi karena enak dan jauh lebih murah setengah harga dari lotek yang saya ceritakan sebelumnya, maka saat temen pengen makan lotek saya usulkan beli saja di sana.

Tahukah apa yang terjadi?

Kawan saya ini baru pertama kali beli dan datang di sana. Tanya kurang lebih begini ke ibunya yang sudah tua itu. Tanyanya 'Bu, masih antri berapa ya?' pertanyaan wajar bukan, karena ada beberapa pembeli lain di situ dan kawan saya nggak bisa lama-lama di luar. Apa jawab ibunya? 'Ya kalau namanya beli lotek itu ya harus antri mbak, kalau mau beli ya silakan kalau nggak jadi juga nggak apa-apa' bayangkan reaksi kawan saya coba. Kawan saya kaget, sedih dan langsung mengontak saya lewat pesan, saya juga tahu ibu itu tapi nggak tahu sampai begitu reaksinya. Kemudian kawan saya tanya lagi 'Bu kalau pedas itu cabe berapa ya?' ibunya nggak jawab pertanyaan itu. Yang jawab malah pembeli lainnya. 

Saya benar-benar heran kenapa mereka bisa berlaku demikian pada pembeli dagangannya, padahal ya baik saya atau kawan saya itu sama sekali tidak berkata kasar atau aneh gimana-gimana, semua biasa saja. Kami benar-benar heran. Gimana reaksi mereka jika ada penjual lain yang sama enaknya dan berlaku ramah dan adil pada pelanggannya. Kemudian merebut para pelanggan warung itu. Apa masih akan bilang, nggak beli juga nggak apa-apa?

Sebenarnya ada dua lagi cerita masalah 'tertib antri' ini tapi mungkin saya ceritakan di lain waktu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.