Sabtu, 30 April 2016

Pacar Impian

   "Seganteng-gantengnya, aku tetap tidak mau kalau disuruh pacaran dengan demit," kata kawanku dengan  tenang.

   "Seganteng Lee Min Ho?" pancingku sambil nyengir.

   "Seganteng Nabi Yusuf pun aku tetap nggak mau," jawabnya sambil senyum.

    "Aku mau saja, coba pikirkan kalau kamu punya pacar manusiamu seperti Aldo itu. Sedikit-sedikit  cemburu, sedikit sensi kamu dimarah-marah nggak jelas. Belum menikah sudah begitu. Kalau sama hantu semua itu nggak bakalan terjadi."

Wanita di depanku mengeluarkan kaca dari tasnya. Lisptik kali kedua, memoles di bibir dari kiri  ke kanan di kali ketiga. Bagian atas dulu lalu bagian bawah. Setelah itu dia ratakan dengan mengatupkan bibirnya ke arah dalam. Tersenyum sendiri ke arah kaca seperti gila, dan kemudian memasukkan kedua barang ajaibnya ke dalam tas.

    "Pokoknya enggak." Kalimat yang keluar dari sepasang bibir itu kemudian.

Semua berawal malam itu. Sebuah buku Meg Cabot tentang seorang gadis yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu. Hantu lelaki yang berwajah ganteng dari zaman entah kapan. Yang bahkan bagaimana dia mati dan siapa pembunuhnya saja dia tidak tahu. Dia membatin dalam hati apakah hantu memang begitu semua? Amnesia sementara setelah melewati fase matinya. Kemudian menjadi penasaran mencari tahu hal itu. Ujung-ujungnya jika tahu bakalan menghilang bersatu dengan angin yang kita hirup. Kita menghirup hantu? Aneh sekali. Masuk ke paru-paru dan di sanalah dia hidup kemudian di paru-paru kita.

Kemudian aku terobsesi melihat hantu. Dan yang aku lakukan kemudian seperti ini:

Cara Pertama
Melihat hantu di malam hari dengan cara melihatnya melalui kedua kaki. Kamu hanya perlu berdiri dengan ke dua kaki agak terbuka, kemudian membungkuklah hingga kepalamu bisa melihat keadaan di belakangmu dari celah diantara kedua kakimu. Katanya dengan begitu kamu bisa melihat hantu, dan nyatanya gagal.

Cara Kedua
Membaca beberapa kalimat yang diberikan seseorang. Kata kawanku" jangan aneh-aneh ntar kalau kamu lihat beneran malah stres sendiri kamu, belum tentu yang kamu lihat itu membuat nyaman kamu, namanya orang sudah bertahun-tahun mati. Ngerti kan?"

Dan tak terjadi apapun.

Cara Ketiga
Matikan lampu, duduk di tengah ruangan dan pejamkan mata. Bayangkan keluar ruangan, masuk lagi melalui pintu. Tunggu beberapa saat, mungkin ada penampakan.  Yang kutemui hanya gelap, sepi kemudian lampu kunyalakan lagi. 

Tapi, bulu kudukku berdiri.

Hingga sore itu, saat aku duduk meminum kopi berdua dengan kawanku di dapur. Saat itu sudut mataku menagkap sekelebat bayangan. Mataku masih ke arah buku yang aku baca. Sejak itu aku merasa diawasi. Mungkin hanya halusinasi, pikirku.

     "Bagaimana? sudah bisa lihat demitnya?" tanyanya serius.
   
     "Belum." Jawabku santai.

Aku menatapnya sekilas, tapi..aku kembali menatapnya ketika menyadari sesuatu. Apa itu yang berdiri di dekat sahabatku? Wajah dengan tatapan mata hampa yang menatap ke arahku. Dan, dia tersenyum. Senyum yang benar-benar aneh. Apakah aku perlu membalas senyum itu? Oh Tuhan. Mungkin itu senyum pertamanya setelah sekian puluh tahun. Jadi sekaku itu.

     "Hei, lihat apa sih? Kamu nggak lihat demit 'kan?" 

Aku menggeleng. Hantu? Aku belum pernah lihat, bisa saja itu halusinasi. Dia mungkin manusia, yang mati entah kapan. Dan, dia sekarang duduk di salah satu kursi itu. Jadi, ada pihak ke tiga yang mendengarkan percakapan kami. Jangan bergosip!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.