Selasa, 16 Februari 2016

Kayu Manis Keju dan Gula (Tamat)

Cerita sebelumnya.
"Nanti papa bawakan seekor maine coon atau kelinci. Kucing berbulu putih atau belang-belang." 
Aku ingin gorila atau panda, atau mungkin jerapah berwarna biru atau gajah berwarna ungu. Kulirik wajah papa yang menatapku. Aku tidak mengatakan apapun, papa.

Suara sendok berdenting nyaring beradu dengan piring porselin milik oma yang diimport dari negeri yang jauh. Barang - barang porselin dan kaca yang mengkilat selalu menarik minat oma. Dan dengan begitu setiap penjual bertopi bulat itu datang menawarkan dagangannya, oma hampir selalu membeli meskipun satu barang saja. Pria tua itu akan berbuih-buih bicara tentang piring yang didatangkan dari negeri jauh, ceret air peninggalan kerajaan yang telah hilang, atau sisir kerang dari dasar laut Mediterania. Sesuatu yang aku sendiri sangat jarang memikirkannya.

Masih dari meja, terdengar suara papa meneguk air putih hingga tandas dari gelasnya. Sepasang mata Sofia yang masih mengantuk dan oma yang seperti selalu dalam 'jam istirahat' sekolah. Kau tahu jam istirahat sekolah, saat kamu begitu bosan mengerjakan soal hitung menghitung dan belajar lagu yang kurang begitu kamu  mengerti maksudnya. Tapi gurumu memaksamu untuk menghapalnya juga. Kemudian ketika kamu berusaha keras untuk mengingat satu bait lagu yang terlupa, tiba-tiba bel istirahat berbunyi nyaring dan dengan penuh semangat kamu menghambur ke luar ruangan bermain dengan temanmu. Itulah wajah oma yang setiap waktu kulihat. Begitu bersemangat dan senang, hampir tanpa lelah.

"Aku ingin yang lain pa, kelinci terlalu pendiam, maine coon terlalu cuek, bagaimana jika gajah kecil atau kuda poni saja?"

"Hmm.. ya kuda poni atau gajah kecil boleh juga. Tapi, kita taruh dimana?"

Aku menunjuk gudang tempat Billie dulu ditemukan. Aku akan membersihkan ulang gudang itu, bersama Dean tentunya. Menyulapnya penuh dengan rumput hijau yang segar untuk gajah kecilku dan tempat berbaring yang hangat dari batang-batang gandum kering. Akan aku cat dinding kayunya, dengan warna merah muda, atau biru laut, atau kuning lemon, sesuatu yang menarik mata.

Papa menggeser kursi, berdiri dan berjalan mengambil mantel hangatnya. Menghabiskan sisa kopi di cangkir setelah oma menggerutu tentang sisa makanan di piring milikku. Papa kemudian mengecup poniku sebelum membuka pintu dan menghilang di jalan yang sedikit basah.

Aku membayangkan maine coon yang mungkin dibawa papa. Seekor kucing besar yang tidur melingkar di sofa dekat pemanas. Wajah sedikit pemarah dengan bulu dada seperti singa. Warna oranye terang dengan bulu seperti kaget. Ya seperti wajah seseorang yang kaget, tampak kacau berlarian kesana-kemari. Dia menjilati ekor dan bulunya dengan nikmat. Dari kaki, perut hingga bagian dekat punggung. Dia akan menekuk kakinya keatas seperti penari balet, sedikit berakrobat menekuk kepalanya hingga ke bagian punggung yang akhirnya terjilat.

Bulu-bulu panjang ikut tertelan, masuk ke ususnya, melewati jalan usus yang panjang terpintal-pintal saat di lambung, kemudian membentuk gumpalan bulu. Mungkin di perutnya ada pabrik pemintal bulu kucing.  Kemudian saat tertentu ia akan memuntahkannya lagi, gulungan bulu yang panjang kecoklatan. Begitukah? kucing yang sangat kuat. Mungkin suatu saat akan ditemukan kain dari bulu kucing, dan semua kucing akan sangat terhormat. Setiap pagi seperti ayam yang siap bertelur, dan kucing siap memuntahkan gulungan bulu seperti burung hantu. Kemudian orang-orang akan memunguti gulungan bulu itu, menyusun bulu-bulu lembut kucing di mesin dan menjadikannya kain. Kain kucing yang diberi warna merah tua, jingga atau hijau muda.


"Papamu tak akan pergi jauh lagi. Dia akan menghabiskan banyak waktu di rumah bersama kita, Carol."
Oma menatapku dengan tatapan yang sangat senang. Mungkin aku akan memeluknya dengan wajah senangnya itu.

Kulihat sekilas wajah Sofia tampak kecewa, dan sangat sangat masam. Seperti jus jeruk yang sangat kecut. Wajahnya sangat tidak enak dilihat. Aku hampir tertawa menatapnya. Dia seperti seekor tikus yang terjebak dalam perangkap. Seakan-akan dunia Sofia bakal berakhir pagi itu.

Tapi, aku akan menyiapkan kandang gajah kecilku dengan oma dan Dean. Dean pasti senang jika aku memiliki seekor gajah kecil. Semua juga senang jika memiliki sesuatu, bahkan jika sesuatu yang dia miliki itu tak disenangi dan tidak cukup untuk membuat tertawa orang lain. Aku tahu itu. Tidak semua yang kita sukai akan disukai orang lain. Dan tidak semua yang kita tidak sukai bakal tidak disukai orang lain. Karena tidak semua orang harus menerima sesuatu.

Tapi ada yang disukai semua orang, seperti aroma kayu manis misalnya, gurih dan legitnya keju atau manisnya gula.


*Selesai*

10 komentar:

  1. Wah, sepertinya aku terlewat deh. Harus baca yang sebelumnya. Tapi yang ini pun sama kaya yang terakhir aku baca, bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya mbak Indi sudah tamat aja ceritanya.
      terima kasih mbak sudah membaca :)

      Hapus
    2. saya belum suerr. baru sekilas ada gajahnya di paragraf terakhir

      Hapus
    3. kalau belum ya baca dulu dong pak
      lah kok yang kelihatan hanya gajahnya
      padahal ada unta dll hehe

      Hapus
  2. Kalau aku ingin dinasaurus, biar lebih gede lagi. Biar tetangga terganggu dengan dengkurannya. Aku suka dinasourusm walau tetanggaku tidak menyukainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pelihara dinosaurus ntar jalanan macet dong mas
      saya pelihara kucing saja hehe

      Hapus
  3. Akhirnya selesai juga bacanya seru kang artikelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sudah membaca mas
      semoga suka dan bermanfaat

      Hapus
  4. Diksinya juaraaaa,, eh ternyata cerbung harus baca dari awal nih.

    baca endingnya: gak semua orang suka legitnya keju, loh, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak sudah membaca
      ini mungkin mbak Ayu sendiri nggak suka keju ya hehe

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.