Kamis, 28 Januari 2016

Sebelum Lelap

"Badai-badai mari kita menyemai badai, hujan-hujan mari kita kumpulkan mendung, ombak-ombak mari menggiring ombak. Jadilah maka jadi."
Udara dingin menusuk tulang, kedua anak kecil itu duduk bercangkung, melempar kertas, sampah dan ranting yang setengah basah ke dalam nyala api. Api yang berwarna kemerahan meliuk-liuk mencoba mengalahkan dingin malam.

"Ulu, masih lama kakak pulang?" tanyanya pada anak lain yang sedikit lebih besar.
Anak yang di panggil dengan sebutan Ulu hanya diam, menatap api yang tampak tenang memakan kayu, pelan-pelan melumat potongannya hingga hitam jadi arang.

"Kakak masih kerja sama bang Lang, masih lama pulangnya." jawabnya kemudian.
"Kamu lapar?" tanyanya lagi pada anak kecil yang duduk di sampingnya.
Dia mengeluarkan sepotong sisa roti dari balik bajunya, sisa roti yang ditemukannya tadi siang saat mengais gunungan sampah. Gunung sampah tempat dia dan lainnya mencari plastik dan botol-botol.

Anak yang lebih kecil itu memandang roti di tangannya,"Ulu bagaimana? kita bagi dua ya?" ujarnya seraya membuka plastik roti dan menyobeknya jadi dua. Tangannya yang lusuh dan kuku jari menghitam mengangsurkan potongan roti.

"Kau makan saja, aku tadi sudah makan."
Kemudian dia masuk ke dalam gubuk kayu yang tak jauh dari nyala api yang mereka buat. Terduduk sebentar, menggelar alas tidur dari potongan kardus kemudian merebahkan tubuhnya.
"Bisikkan rindu bisikkan benci, aduk jadi satu lemparlah ke langit, kirimkan bersama tangis dan doamu. Jadilah maka jadi."
Lelaki itu berjalan dengan peluh membasah di kausnya, dia mendekap tas kain yang tersampir di bahunya. Warna tasnya itu sebenarnya putih, tetapi sudah jadi cokelat. Dia mendekap isinya erat. Sebuah kotak paket yang harus sampai pada pemiliknya.

"Jangan sampai ilang, kalau ilang upahmu nggak cukup buat ganti itu." teringat kata-kata lelaki kurus berkaus hitam di langkan pagi tadi.

Dua lelaki tampak berdiri di kejauhan. Menatap langkahnya yang sedikit terseok karena sejak pagi belum sebutir nasipun masuk di perutnya.
"Mana yang dari bang Lang?" lelaki yang membawa paket tampak mengangguk.
Kedua lelaki memeriksa isi paket, sesaat kemudian dari kejauhan terdengar teriakan.
Kedua lelaki sigap berlari menjauh, hilang di kegelapan. Dia ikut berlari menjauh.
"Hei berhenti!!" kata orang-orang berbadan tegap, terdengar suara letusan senjata.

Dua lelaki berbadan tegap mengejarnya, lemah tubuhnya terkejar juga. Mereka langsung menarik kedua lengannya dengan keras ke punggung. Satu lagi menggeledah tasnya, saku baju dan celananya.
"Mana barangnya?" tanyanya sambil melayangkan sebuah pukulan.
"Wahai mendung yang menggulung di puncak gunung, hei angin yang meniupkan dingin, mari berkumpullah sini, bercerita tentang waktu, dan dengarlah."
"Ulu, kakak belum juga pulang, ini sudah malam."
"Besok juga pulang kalau tidak malam ini." jawab anak satunya lagi.
Anak yang kecil mengelap ingusnya,"Aku simpan separuh roti buat kakak ya."
"Terserah, tidurlah ini sudah malam." kata Ulu sambil terpejam.
"Aku mau menunggu kakak pulang."

"Sudahlah. Kata kakak besok kita bisa menyewa rumah petak dan tidak kedinginan lagi."
Perutnya sendiri berbunyi karena lapar, dia membayangkan besok kakaknya membawa pulang sebungkus nasi di tas selempangnya seperti biasa. Dan malam ini dia harus terpejam, memeluk tubuh ringkih adiknya yang telah lelap.
"Bercerita hingga dia tertidur. Hingga malam menjadi pagi, hingga gelap menjadi terang. Hingga tangis jadi tawa. Dialah, ya hanya dia." -25.01.2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.