Kamis, 07 Januari 2016

Kayu Manis Keju dan Gula (5)

Cerita sebelumnya
Lelaki itu menodongkan senapan ke kepala Sofia.

Tetapi wanita itu tampak biasa saja, datar dan tanpa ekspresi ketakutan. Padahal aku mengharapkan dia menjerit atau menangis. Justru Oma yang mulai menangis. Aku mendekap tubuh oma yang gemetar, paman dan Dean mencoba menenangkan lelaki itu, tetapi lelaki itu sangat kalap.

"Sabarlah, kita bisa bicarakan ini." paman mencoba bicara dengan lelaki itu.

"Mundur atau aku ledakkan kepalanya!" lelaki itu menjawab dengan mengetuk ujung senapan ke kepala Sofia. Aku menatap tanpa berkedip. Oma semakin erat mendekapku.

"Aku tidak ada urusan denganmu, urusanku dengan wanita ini!" Lelaki itu berteriak lagi tanpa mengalihkan senapannya dari kepala Sofia.

"Baiklah, tetapi wanita itu adalah istri kakakku, dia tinggal bersama kami, jika kau ada masalah dengannya kita bisa membicarakannya baik-baik, tenanglah dulu."

"Wanita ini, dia membawa semua uangku, dan menyebabkan kematian istriku. Jika kau membantu, kembalikan uang yang dibawanya. Dan nyawa, kau pikir bisa mengembalikannya?" lelaki itu tertawa getir, rambutnya yang sedikit panjang berjuntai-juntai ke wajahnya yang keruh.

"Baiklah, letakkan dulu senapanmu, kita bisa menghitungnya dengan tenang. Ayolah letakkan." Dean mencoba membujuk.

"Tidak, sampai kau tunjukkan uang itu padaku."

Paman mendekati kami yang berdiri tak jauh dari pintu ke ruang depan.

"Oma, bawa Carrie keluar!" paman bicara pada oma. Aku sebenarnya ingin melihat apa yang akan terjadi, tetapi takut juga dan oma buru-buru menarikku menjauh.

Aku mendengar suara letusan senapan, suara lelaki mengerang dan sebuah letusan lagi. Aku menutup kupingku, dan oma mendekapku.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi." kata oma.

Suara mobil berhenti di depan rumah. Langkah kaki yang terburu-buru. Papa dan beberapa lelaki masuk ke ruang itu. Suara ribut dan beberapa orang mengangkat tubuh Dean keluar, darah keluar dari lengannya. Lelaki itu digelandang keluar rumah, masuk ke mobil dan melesat pergi.

Aku melepaskan diri dari oma dan berlari memeluk papa. 

***

Aku berjalan melewati pagar taman, mendekat ke arah semak yang rimbun. Kulihat seekor ular besar mendekat, aku langsung berlari menjauh. Dengan susah payah kakiku berulang kali menyaruk tanah dan sisa-sisa batang kayu mati. Perih menghinggapi sekujur kakiku, sayatan rumput tajam juga meninggalkan luka-luka kecil. 

Ular itu masih mengejarku, aku mencari sesuatu yang bisa kupakai untuk melawannya. Aku menatap tak berapa jauh tergeletak sebuah pisau panjang, ya itu sebuah pedang kecil. Aku mengangkatnya, dengan sisa tenaga aku melawannya. Kuayunkan ke arah depan, kiri dan kanan. Aku membabi buta menerjang dan menghujam tubuh ular sialan itu dengan pedangku. Dia membelit tanganku, mengikat tubuhku, hampir kehabisan nafas aku melawan. Kugunakan gigiku untuk menggigit kulitnya yang liat. Aku tak peduli, aku hampir mati. Darah mengucur, belitan ular merenggang. Aku mengayunkan pedangku sekali lagi membabat tubuhnya yang tampak kesakitan. Tepat di tengah tubuhnya, hingga terbelah menjadi dua. Kepala dan ekornya menggelepar tak karuan, suaranya mendesis-desis, aku melempar pedangku dan berlari menjauh, yang kuinginkan hanya menjauh.

"Ahh!!" Aku mencoba membuka mata. Sulit sekali terbangun dari tidurku, mataku terasa sangat berat. Seperti kesadaranku masih tertinggal dan akan menelanku lagi. Aku mencoba melihat ke sekeliling, menenangkan detak jantung yang tak beraturan. Mengelap keringat yang membanjir di tubuh.

***

Aku ingat senapan di tangan lelaki itu. Paman, Dean atau papa sering berburu di hutan dengan senapan semacam itu. Mungkin bukan persis seperti itu, tetapi ya semacam itulah bentuknya. Bukankah bentuk senapan juga sama saja seperti itu, aku tidak begitu tahu soal senapan. Papa pernah bercerita padaku. Dari sejak abad pertengahan, sejak kavaleri merajai medan perang, disusul archer-para pemanah, swordsman-si ahli pedang. Peperangan terus saja terjadi. Hingga terciptanya capulet, mangonel dan trebuchet. Semua itu demi apa? Aku tak pernah mengerti pikiran orang dewasa.

Jika aku berebut sesuatu dengan seorang teman, kami tinggal membagi dua apa yang kami ributkan. Jika hal itu bisa dibagi dua tentunya. Ada juga saat aku dan Sofia berebut papa, tentu kami tak bisa membagi papa menjadi dua. Aku tak membayangkan itu terjadi. Tak perlulah kami berkelahi hingga berdarah dan terluka. Perang, perkelahian, itu terdengar sangat kuno dan bar-bar.

Setelah kejadian siang itu, masalah hilangnya Billie seperti tidak diperhatikan lagi. Semua jadi ribut dan berbisik-bisik membahas kejadian siang itu. Bahkan semua pekerja di kebun anggur papa saat istirahat siang akan berkumpul dan membahas peristiwa siang itu. Ya, aku tahu, karena aku sesekali berjalan di kebun bersama oma, layaknya seorang putri. Tapi oma tak begitu orangnya, dia tak mengajari kesombongan semacam putri padaku. Uh, padahal sesekali aku ingin menjadi seorang putri, seperti kisah yang sering papa ceritakan. Bertemu pangeran tampan, tinggal di istana megah, punya banyak pelayan dan berjalan-jalan ke hutan dengan kuda. Ya begitulah, kadang hilangnya Billie bisa kalah begitu saja oleh ulah Sofia.

Oh iya, lelaki itu terluka oleh senapan, dan Sofia sepertinya baik-baik saja. Ulahnya justru mengundang simpati papa, itu menjengkelkan. Seorang wanita dewasa yang bertingkah seperti anak-anak itu sangat menyebalkan. Dan aku masih menyimpan kalung Billie.

*Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.