Selasa, 22 Desember 2015

Untuk Kamu Anakku

Tidak ada sekolah untuk menjadi seorang ibu. Bagaimana menyuap bayi, bagaimana membuat bubur, bagaimana menyiapkan susu, berapa kali setiap harinya, bagaimana mengganti popok, bagaimana memandikan bayi dan lainnya. 

Bayi lucu kesayangan mama pun tumbuh semakin besar. Mama ingin membeli ponsel berkamera hanya demi mengabadikan setiap tahap pertumbuhanmu. Kata pertama yang kamu ucapkan, lagu pertama yang kita nyanyikan, bagaimana kamu berjoget saat ada suara musik, gayamu bernyanyi dengan mikrofon dari dino hijau mainanmu. Mengukur tinggimu setiap beberapa bulan dengan coretan di dinding, gambar pertamamu gambar ayah mama dan kamu, tarian pertamamu saat di sekolah dan lainnya. 

Masa kecilmu tak kurang perhatian dan kasih sayang mama dan ayah. Kecuali saat kamu ditinggal kami ke luar rumah. Dulu, mama tak pernah menaruh percaya pada siapapun untuk mengasuhmu saat masih bayi merah. Akhirnya salah satu dari kami harus mengalah demi kamu. Setelah umurmu empat bulan, kita pindah ke Yogya. Saat itu dengan sangat terpaksa mama melepasmu dalam pengasuhan orang lain untuk pertama kalinya. Berat dan dengan sangat terpaksa sebenarnya. Bude yang mengasuh kamu bukan orang asing, dia pengasuh anak-anak bulik dari ayahmu, makanya mama percaya padanya.

Dalam pengasuhan bude yang banyak bicara dan bersuara lumayan kencang membuat kamu cepat bisa bicara. Di dalam pengasuhan dia juga, kamu pertama kali melangkah dengan dua kaki mungilmu. saat umurmu belum genap satu tahun kamu sudah bisa berjalan, dan saat dua atau tiga tahun kamu sudah mulai bicara dengan kosa kata terbatas. Lagu balonku ada lima kita rekam berdua saat umurmu segitu, mama masih menyimpannya.

Mama ingat dulu gigimu cepat sekali tumbuh, karena atas saran bunda buburmu sering mama kasih keju. Didandingkan Cessa gigimu lebih dulu tumbuh, dan kawanmu yang lain dulu ada Bella juga Shifa. Tiga teman tetangga rumah kontrakan. Berkat bunda, mama bisa belajar banyak mengasuh kamu, karena bunda melahirkan dan merawat bayi kedua abangmu di Yogya juga. Bagaimana membuat bubur campur brokoli, wortel, ikan, keju dan lainnya. 

Semakin hari kamu yang lucu menggemaskan semakin tumbuh dewasa. Jika dulu mama yang menentukan apa baju yang kamu pakai, kini kamu sudah memilih sendiri apa yang kamu kenakan. Dulu kamu yang penurut kini mulai pandai beradu argumen dengan mama atau ayah. Bayi mungil yang sering menggeliat di perut mama itu kini telah menjelma gadis kecil. Tak terasa waktu cepat berlalu, jika dulu saat bayi kamu tidur jarang mama peluk, kini saat mama ingin memelukmu justru kamu sudah tidak mau.

Jamu atau cekok saat kamu kecil tidak pernah mama kasih, karena trauma kamu pernah muntah dan panas karena jamu itu. Dan saat kamu bayi kamu pernah terserang flu, kasihan banget melihatmu. Jadi sekarang mama ingat betul kalau menengok bayi jika flu jangan mendekat pada si bayi. Itu sekelumit cerita tentang kamu nak, semoga kelak ketika kamu dewasa, kamu bisa menjadi ibu yang lebih hebat dari mama.

Karena mama tidak bisa menulis banyak tentang ibu, maka mama nulis soal kamu saja di sini. Selamat hari ibu, untuk ibuku di surga.

6 komentar:

  1. kalo punya anak, berasa cepet gitu ya. Mbak

    Selamat hari Ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya, tau-tau dah gede aja
      Makasih, selamat hari perempuan buat kamu.

      Hapus
  2. Wahh.. gitu ya mbak.. belom pernah ngerasain soalnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, semoga disegerakan ya
      Terimakasih sudah berkunjung di sini

      Hapus
    2. Pasti akan merasakannya...

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.