Rabu, 23 Desember 2015

Kayu Manis Keju dan Gula (3)

Kisah sebelumnya.
Meletup-letup, mula-mula membentuk gelembung kecil, sedikit membesar dan pecah.

Pelan sekali pecahnya, tidak seperti bola sabun yang pecah. Ya, seperti itulah cairan gula yang meletup-letup di atas api. Jika tidak mengaduk sesering yang dibutuhkan, cairan gula itu mengendap, menempel di pinggiran kemudian mengering dan berbau gula yang gosong. Bau karamel, seperti gula yang terbakar. Jika mengendap ada sebentuk gumpalan lengket menempel di ujung spatula, lengket dan susah dilepaskan. Pernah aku mengibas terlalu kuat, dia terlempar dan menempel di panci lain yang tergantung di dinding dapur. Aku menoleh pada oma, dan dia tidak melihat kelakuanku, buru-buru aku bersihkan tempelan karamel gosong itu. Dan kau tahu, ternyata telah lengket, mengeras susah dilepaskan, kemudian aku pura-pura tidak melihatnya.

Oma pandai membuat kue karamel yang kecoklatan, aku hanya membantunya mengaduk ini itu. Kadang lebih banyak menebar tepung di meja dan di lantai. Oma sering bercerita tentang tepung-tepung yang banyak sekali namanya itu. Ada tepung roti, tepung gandum, tepung maizena, tepung kentang dan entah ada tepung apalagi. Aku hanya tahu tepung terigu dalam wadah yang tinggal sobek dan dicampur air sedikit. Biasanya oma menggoreng udang kupas atau brokoli dengan itu. Rasanya gurih dan manis, dengan sedikit merica yang terasa pedas. Udang yang enak menurutku yang masih sedikit kemerahan, manis, lembut dan masih terasa udang. Kadang udang terasa bukan udang juga, bukan? Terasa keras seperti potongan karet karena terlalu kering. Aku jadi membayangkan memakan potongan-potongan karet sungguhan, mengerikan.

Ah ya, kamu punya teman khayalan? Aku punya. Namanya Joey, seekor beruang abu dan hijau. Bonekaku tentunya. Kupikir dia bisa bicara sekali waktu, tapi hanya aku yang mendengarnya. Pernah suatu ketika wajah Joe kulumuri dengan saus, saat itu aku sedang makan sesuatu, dan kau tahu? Oma marah padaku, kemudian memasukkan Joe ke dalam mesin cuci. Aku melihatnya, kasihan sekali. Dia jumpalitan tak karuan di dalam mesin yang terus berputar itu. Seandainya aku bisa mungkin sudah kumatikan saja mesin itu. Tapi oma berdiri di samping mesin cuci itu, dan aku hanya menatapnya. Setelah keluar dan kering pasti Joe akan muntah-muntah karena pusing. Mesin cuci yang membuat gaduh. Suaranya saat berputar sering membuat Billie lari menjauh, seperti suara berisik yang mengganggu. Aku membayangkan mesin-mesin kecil yang berputar saling bergesek dan menimbulkan suara berisik.

Sofia, perempuan bermata hitam itu sesekali ke dapur, mengaduk susu atau membuat jus hijau yang menjijikkan. Aku tak akan meminumnya, dari sayuran hijau mentah dan buah hijau seperti apel dan juga bermacam berry. Saat papa pergi beberapa minggu, sering kudapati Sofia menerima tamu beberapa kali. Kadang segerombol perempuan yang ramai di ruang tamu selama berjam-jam. Di lain waktu seorang lelaki yang lebih muda dari papa. Lelaki itu tampak berusaha bersikap manis padaku, tapi aku tak begitu ambil peduli. Oma akan mengomel seharian jika itu terjadi. Yang pasti aku belum pernah menemuinya saat ada acara di keluarga papa. 

"Sayang bisa kau ambilkan botol itu untukku?" suara Sofia dari tempat duduknya.
Aku memandanginya saja selama beberapa detik.

"Kamu mendengarku?"

Aku kesal, kugerakkan kakiku seperti robot. Kulihat matanya tambah sebal melihatku. Aku berdiri dan menyerahkan botol berisi cat-cat kuku. Perempuan itu galaknya melebihi Billie jika melihat orang asing. Jika Billie menggeram dan menunjukkan gigi-giginya yang tajam, perempuan ini meninggikan suaranya dan menunjukkan tatapan mata yang mengerikan. Kadang wajah perempuan itu serupa Billie kalau aku sedang kesal, tapi dengan bulu hitam legam. Ingin kulempar tulang rasanya biar dia lari mengejarnya. Sayang yang melakukan itu hanya Billie, kalau Sofia pasti melempar balik tulang itu padaku. Dan jika oma melihat itu, oma akan menuang tulang sebanyak gunung es ke atas kepalanya. Mungkin akan mengubur Sofia hingga hilang.

*Bersambung 

30 komentar:

  1. Indah sekali kata-katanya :) Jadi ingat kalau aku paling gak tega kalau boneka kesayanganku masuk mesin cuci, huhuhu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mb Indi, punya banyak boneka kesayangan juga ya :)

      Hapus
  2. Kue karamel enak juga lho mbak, saya sering dikasih teman. Warnanya coklat lain dari pada yang lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mbak warnanya cokelat agak mirip bika agak bolong-bolong gitu, bau karamelnya tiada duanya :)

      Hapus
  3. Kalau dilihat ceritanya to be continue ya gan ?? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya masih bersambung :)
      terimakasih sudah mampir di sini

      Hapus
  4. Aku benar benar membayangkan kejadian di dapur.. kayaknya seru bisa buat sesuatu dengan oma..

    Bonekanya dimasukkan di mesin cuci dia tak akan mati, karena dia memang tidak hidup hehehe..

    Ditunggu cerita selanjutnya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sesekali perlu bermain di dapur mbak
      iya itu hanya boneka, imaginasinya rada-rada hehe
      terimakasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  5. nggak kebayang boneka kesayangannya terjun ke mesin cuci...makanya kalau punya boneka di sayangin supaya nggak ngambek terjun gituh atuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya tuh mang Lembu kayaknya kucel jadi perlu mandi nekad terjun begitu saja

      Hapus
  6. Balasan
    1. buat mang Lembu bolehlah bonekanya hehe

      Hapus
  7. Suka permainan kata-katanya. Salam kenal ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih :)
      Salam kenal juga Putri
      makasih sudah berkunjung

      Hapus
  8. wah piawai sekali bikin alur cerita fiksinya semakin bkin geregetan kalo memba..keren-keren masbro

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe masih belajar kok mbak
      makasih sudah berkenan membaca dan berkunjung

      Hapus
  9. Muantappp bang, saya tunggu deh kelanjutan ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe sudah selesai ceritanya
      makasih sudah berkunjung

      Hapus
    2. Oh sudah selesai ya, maaf nih lagi gagal fokus.

      Hapus
  10. gimana jika beruangnya digantikan oleh saya,pasti bisa ngomong beneran dan pasti akan lebih bahagia deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah siap mang masuk mesin cucinya? hehehe
      kalau siap nggak papa mang :D

      Hapus
  11. Suka sama gaya bahasanya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sudah mampir ke sini
      dan membaca mbak :D

      Hapus
  12. pengen kenalan ama omanya dan minta diajarkan membuat kue hehehe. tulisannya bagus, kalimatnya indah

    BalasHapus
    Balasan
    1. omanya baru di dapur mas hehe
      makasih mas sudah mampir dan membaca :)

      Hapus
  13. Pilihan kata-katanya suka, kalimatnya seperti aliran ragam kosa kata. Bersambung....

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak sudah membaca
      iya bersambung tapi sudah selesai kok

      Hapus

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.