Rabu, 02 Desember 2015

Buku: Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Judul: Di tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis
Penulis: Paulo Coelho
Alih Bahasa: Rosi L Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbitan: Februari 2009
Tebal buku: 222 halaman

Buku ini memang buku yang sudah cukup lama. Entah kenapa sering lihat buku Paulo Coelho setelah baca The Alchemist. Ceritanya mengalir indah, dan begitu juga buku ini. Dari ilustrasi di sampul dan judulnya saya menebak pasti ini kisah sedih. Seorang perempuan dengan muka tersembunyi sedang memeluk lutut dan sepertinya menangis

"Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya."

Pilar telah belajar mengendalikan perasan-perasaannya dengan sangat baik, sementara kekasihnya memilih religi sebagai pelarian konflik-konflik batinnya.

Cerita di buku ini berkisar antara hubungan Pilar dan kawan lamanya. Lebih tepatnya mantan teman masa kecilnya dulu. Yang menjauh mengejar mimpinya menjelajah dunia kemudian setelah belasan tahun berpisah dipertemukan kembali. Lelaki yang saya bingung namanya siapa ini, say abolak balik sepertinya belum ada namanya. Cerita di buku ini berkisah perjalanan perempuan bernama Pilar dengan lelaki itu dari tanggal 04 Desember 1993 hingga 10 Desember 1993. Waktu yang sebenarnya singkat, tetapi ajaib ceritanya begitu bagus. Membawa masa lalu dan kisah saat ini dengan baik. Meskipun, ini kisah kegalauan seorang lelaki antara ingin menjadi seorang pendoa (atau semacamnya saya kurang tahu istilahnya) atau menjalani kehidupan normal dengan Pilar, perempuan yang dia cintai dari masa kecil.

Pergolakan batin dalam cinta ini bukanhanya milik si lelaki itu tetapi juga Pilar sendiri. Antara melepaskan lelaki yang dia cintai demi agama dan misi baiknya. Atau memilih menggenggam cinta dan menjalani berdua.

Berikut beberapa kalimat yang menurut saya bagus:

"Para dewa melemparkan dadu dan membebaskan cinta dari sangkarnya. Dan cinta dapat mencipta atau menghancurkan-tergantung arah angin saat cinta itu dibebaskan."

"Mencintai berarti kehilangan kendali" 

"Mimpi-mimpi kita adalah milik kita sendiri, hanya kita yang tahu apa yang dibutuhkan untuk membuatnya terus hidup"

Saat si lelaki itu berdoa di tempat bersalju dan bertelanjang dada, di saat yang menentukan pilihannya. Saya membayangkan adegan Edward Cullen yang mau bunuh diri dengan membakar diri saat itu dan Bella Swan datang dengan berlari menyelamatkannya. Dan yang terjadi adalah...Pilar justru melarikan diri, deng dong! Gimana coba. Kok saya ingat adegan film Twilight itu ya?
Sebenarnya saya dibeberapa bagian juga tergelitik dengan kata-kata di sekitar percakapan tokoh di buku ini. Meskipun baru membaca beberapa bukunya, mungkin ini gaya bercerita yang mengalir dari Paulo Coelho. Diluar isi yang hendak disampaikan, saya benar-benar menyukai tokoh lelaki kekasih Pilar itu. Ceritanya meskipun hanya menceritakan perjalanan selama beberapa hari telah mampu bercerita semuanya. Kecuali bagian dia minum-minum anggurnya, dan kisah religiusnya. Suka juga dengan latar tempatnya, terkesan dingin, berkabut, bersalju dan penuh bangunan tua.

Demikian semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.