Rabu, 18 November 2015

Kisah Buku Bersampul Merah

Buku itu saya baca pertama kali bertahun-tahun lalu, kalau tak salah saat saya di bangku sekolah. Buku itu milik seorang guru ngaji di kampung saya. Bukunya tebal judul di sampul depannya sudah copot hanya tinggal sampul kedua yang masih menyisakan judul buku dalam kertas putih. Saya tidak begitu ingat bagaimana saya bisa meminjam pada guru ngaji yang usianya jauh lebih tua itu, dia itu mungkin seumuran bapak saya.

Waktu itu saya baru mulai seneng-senengnya baca buku, dan belum kenal perpustakaan di kota apalagi internet yang waktu itu masih belum ada. Hingga suatu hari ada perpustakaan kecil di masjid, saya seperti terpuaskan hasrat untuk membaca. Mungkin saya satu-satunya yang melahab semua buku di perpus masjid itu. Saya pinjam dan saya baca di rumah, begitu selesai saya kembalikan ke perpus lagi. Begitu terus hingga buku di perpus itu habis saya baca semua. Saya masih kehausan bacaan, yang saya butuhkan hanya pengetahuan dan bacaan baru.

Salah satu guru ngaji di masjid kami memberi bantuan perpus masjid berupa satu set buku tafsir yang berisi beberapa buku tebal. Saya perlu menulisnya di sini karena guru ngaji yang ini benar-benar baik dan saat ini sudah meninggal dunia. Semoga buku-buku yang dia berikan di perpus masjid saat itu terus mengalirkan pahala baginya. Saat itu saya senang sekali, beberapa jilid buku itu pun akhirnya habis saya baca. Sampai di situ saya masih kekurangan bacaan. Hingga di sekolah, saya dan kawan-kawan membentuk grub diskusi. Setiap jam istirahat sekolah kami saling bertukar buku. Kami mengundang ustad muda yang umurnya tidak jauh dari umur kami untuk mengajarkan dan berdiskusi. Walau akhirnya grub diskusi dan pengajian kami saat itu dicurigai pihak sekolah dan akhirnya kami hentikan. Tukar menukar buku, ikut pengajian ke sana kemari, masih saja kurang bagi saya.

Akhirnya suatu hari saya meminjam buku itu pada guru ngaji yang lain (ada beberapa penceramah di masjid kami). Nah saya sendiri lupa bagaimana asal muasalnya sehingga saya berani meminjam buku itu padanya, entah langsung pada guru ngaji itu atau bagaimana.

Hingga belum tuntas saya baca buku itu (buku itu lumayan tebal), buku itu diminta kembali oleh pemiliknya. Dan entah kebetulan atau memang berjodoh, beberapa tahun setelahnya saya ke sebuah toko di Malioboro (toko yang cukup terkenal itu) saya menemukan buku itu. Tentu saja saya langsung membelinya, harganya juga tidak terlalu mahal. Saya begitu senang akhirnya saya memiliki buku yang dimiliki guru ngaji tersebut. Sebenarnya saat itu ada sedikit sakit hati karena saat itu buku itu tidak bisa saya pinjam sedikit lebih lama sehingga saya bisa membaca semua isinya.

Bertahun-tahun saya membawa buku itu dan saya senang sekali dengan buku tebal itu, meskipun saya telah membaca buku lain yang dipinjamkan kawan sebangku saya. Oh iya karena kawan yang sangat dekat itulah saya mendapat banyak buku-buku. Buku yang dia pinjamkan itu mungkin milik ayahnya. Kebetulan ayah ibunya juga guru ngaji. Kawan sebangku waktu sekolah ini pula yang menganjurkan saya pertama kali mengenakan kerudung. Dan saya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan kawan saya itu, he he malah curhat.

Kenapa akhirnya buku itu selalu saya ingat? Begini ceritanya, buku ini merupakan titik balik dari pemahaman saya selama ini. Saya sebelum ini berpikir jika semua buku itu baik. Ditulis dengan baik, mengajarkan kebaikan dan satu lagi, tidak salah. Catat, tidak salah. Saya mempercayai sepenuhnya dan percaya apa yang tertulis di sana. Bayangkan saja, buku itu milik seorang guru ngaji yang diajarkan saat pengajian di masjid yang didengarkan banyak orang kampung tiap hari tertentu. Tentu saja saya percaya buku itu benar. Dan apa yang terjadi? Hingga suatu hari saya mengenal internet, tak sengaja bertemu dengan tulisan seseorang di salah satu gang di internet. Ternyata buku yang saya banggakan itu banyak menyimpan hadist palsu. Itu benar-benar mengguncang batin saya. Jika buku itu salah kenapa masih beredar dan dijual bahkan di toko besar dan terkenal itu? Kenapa buku itu sampai pada guru ngaji dan mengajarkannya pada seluruh orang kampung? Dari situ saya mulai menyadari, bahwa sebuah buku yang di tulis seseorang belum tentu benar. Memang sebenarnya selama saya membaca buku itu saya merasa sedikit janggal dengan gaya bahasanya, yang menurut saya terlalu berlebihan. Tetapi saya masih percaya saja, karena itu buku milik guru ngaji di kampung saya. Sampai saat ini saya juga masih menemukan hadist-hadist di buku itu dituliskan atau diajarkan, dan saya sedih. Saya harus membuka lebar-lebar mata dan pikiran saya, agar kebenaran itu benar-benar saya kenali. Dan saya harus siap menerima apapun itu, meskipun kebenaran yang saya yakini akhirnya runtuh berkeping-keping. Mulai sekarang saya meluaskan bacaan bahkan dari sisi paling liar atau paling berlawanan sekalipun, agar saya melihat sisi lain kebenaran yang saya yakini.

Seperti penemuan saya pada buku itu, seperti itu pula kenyataan pahit tentang buku itu. Sekarang buku itu masih saya simpan, bagaimanapun saya dulu pernah percaya sepenuh hati padanya. Sebuah buku atau tulisan benar-benar bisa mengubah seseorang menjadi sedemikian rupa. Dia bisa mengubah seseorang, menggerakkan seseorang menjadi baik atau sebaliknya. Semua terserah kita mau mencari kebenarannya atau tidak. Seperti kata Derrida, mungkin kebenaran yang sedang saya cari juga sedang mengalami dekonstruksinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.