Kamis, 05 November 2015

Bortai dan Naihan

Lelaki itu serupa Temujin dari Burhan Haldun atau keturunannya Timur Lenk dari dekat Kesh. Penjinak kuda liar, yang akhirnya hilang di telan zaman. Setidaknya itu menurut istrinya, Bortai.

Adalah Naihan seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berambut hitam, hidup jauh di benua yang dingin bersama istrinya Bortai. Bortai terus membujuknya, dan terus merasa bersalah.

"Mongoolse vlek di bayi kita." ujar wanita itu dengan nada sedih.
"Aku tak mau melihatnya di luar rumah." jawab Naihan.

"Dia anakmu, bagaimana bisa." jerit Bortai.
"Jangan katakan apapun pada mereka, tutupi bayi kita." 

Bortai mengganti popok lengket dan basah bayi itu, memerah wajah si bayi karena tangis dan haus.
"Jangan bawa ke pasar atau ke balai kota. Sembunyikan dari mata mereka." Naihan menasehati sambil mengencangkan sabuk deel yang dipakainya.

"Tetapi aku butuh rempah dan daging yang menipis." Bortai mengeluh sambil menyingkirkan sisa tsuivan campur daging domba dari meja. 

"Bukankah kau seharusnya bangga dengan tanda itu?" tanya Bortai lagi.
Suaminya diam saja.

Naihan lelaki yang dulu senang memanggul senjata, memberi komando pada pasukannya. Kini tak jauh dari lelaki lainnya, membawa kawanan ternak ke padang rumput. Naihan keluar rumah merapatkan topinya, melindunginya dari udara dingin. Dia mengenakan sepatu kain tebal dan deel abu-abu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.