Jumat, 21 Agustus 2015

Cerita dari Pulau Karang

Menonton drama saja belum cukup. Dia mulai menginginkan drama yang sesungguhnya. Kemudian dia membuat skenario untuk sebuah drama sesungguhnya. Lampu sorot telah siap, para penikmat drama telah berdiri memasang mata dan telinga. Para pengabar berita telah siap dengan catatan dan kamera.

"Siapa tokoh utamanya?" tanya seorang lelaki sambil menggosok kupingnya.
"Yang berpakaian paling indah, berparas paling menawan dan bersuara paling lembut,"ujar kawannya.
"Aku lebih memilih yang paling kurus, paling dekil, paling melarat dan bersuara paling kasar diantaranya," katanya kemudian.
"Kita letakkan dimana tokoh ini? kau siapkan setiap kalimat sebaik mungkin bukan?"
"Rumah terburuk dari kayu hutan beratap jalinan daun kelapa, yang di beberapa sudutnya dihinggapi kelelawar."

 "Tak mungkin seorang buruk rupa, melarat, dekil dan berkata kasar kau sandingkan dengan mawar merah dan seharum ini"
"Ah baiklah, dia berwajah tampan tapi dekil dan melarat, dan dia sangat pintar."
"Pintar tak mungkin melarat."
"Apa maumu dengan tokoh ini? terserah kamulah," lelaki satunya menyalakan lampu minyak di tiang kayu.
"Kita buat dia terdampar di pulau sepi tak berpenghuni."
"Bagiamana dia bertemu bunga mawar yang indah itu?"
"Angin yang terbang membawa harumnya, dan tiap malam dia bermimpi tentangnya."
"Dia orang pintar dia memakai segala logika dan pikiran warasnya"
"Baiklah, seorang bajak laut dengan perahu layar dengan geladak kapal penuh air dan ikan. Dia menunjukkan permadani bergambar bunga mawar itu."

"Bajak laut tak suka dengan permadani."
"Baiklah, meskipun dia bajak laut dia memiliki seorang ibu galak yang menginginkan rumahnya dihiasi permadani bargambar bunga mawar yang cantik."
"Baiklah permadani mewah yang bisa terbang dan membawa sang lelaki pintar mengarungi laut bertemu bunganya."

"Kita buat tak mudah." Lelaki satunya lagi menyeringai.
"Kita tambahkan badai besar, kita tambahkan penyihir gila kita tambahkan naga berkepala lima dan bertubuh serigala, kita buat peta yang berubah setiap lima hari, dia akan tersesat, terdampar, terhempas dan penyihir mengambil karpet terbangnya."
"Kita buat dia kelaparan kehausan putus asa hingga mau mati."
"Kita buatkan tokoh penyelamat seorang wanita."
"Yang ternyata vampir peminum darah manusia, yang membutuhkan tubuh baru untuk diminumnya"

***

Brakk!! Pintu kayu reyot terbanting. Angin dingin di pinggir danau tersiram cahaya bulan, suara katak dan burung malam bersahutan. Bulan yang bulat bersinar terang dipeluk danau kelam. Seperti bunga teratai yang tenang mengambang dalam gelap.

"Tunjukkan jalan ke pulau seribu karang." tanya pemuda tampan.
"Kau takkan sanggup melewatinya." wanita itu mendekat dan mengibaskan tangannya.
"Aku telah melewati banyak hal dan aku masih hidup, itu berarti sesuatu bagimu?"
"Bagiku sama saja, hidup dan mati ada yang berselang sekejab mata, kau pernah dengar itu?"
"Aku belum pernah mendengarnya, yang kudengar kabar pulau berkarang seribu dengan bunga mawar dan peri yang hidup di tanah itu."
"Kau bermimpi, kau belum pernah pergi sejauh itu rupanya." wanita itu mengibaskan jubahnya.
"Apakah aku salah dengar? semua orang membicarakannya."
"Kau tak mendengar bagaimana akhir kisah setiap lelaki yang mendatangi pulau itu?" 
"Apa yang terjadi dengan mereka?" pemuda tampan memandang wanita di dekatnya. Kunang-kunang terbang mengelilingi lampu yang berkerlib diayun angin.
"Mereka tidak pernah kembali."
"Mereka beruntung sekali, bukankah itu artinya mereka hidup bahagia di sana?"
"Kau salah, bukankah yang sampai padamu pulau itu berpenghuni peri wanita saja dan bunga-bunganya."
"Begitulah."
"Apakah tak terpikir olehmu, kemana gerangan para lelaki itu? dan dari mana bunga mawar itu berasal?"
"Mungkin mereka dalam rumah rumah kayu di atas pohon bertelekan bangku empuk dan peri cantik dengan madu dan bunga."
"Hah, kau terlalu naif, mawar itu adalah jiwa lelaki yang mereka tawan, dan seribu karang yang melindungi pulau itu adalah jasad mereka."
"Bagaimana kau tahu semua itu?"

Wanita itu mendekat dan mendekatkan wajahnya, senyum sinis dan setangkai mawar hitam di tangannya.
"Karena aku salah satu peri pulau itu."
Mawar hitam didekatkan ke mulut lelaki di depannya, wajah lelaki itu memucat dan terus memucat. Ada hawa yang mengalir ke setiap helai kuntum bunga, mengubahnya menjadi mawar merah semerah darah. Lelaki itu ambruk pucat dan terbujur kaku.

***

Dua lelaki itu terus bercerita, hingga mata terpejam dan terlelap dalam dingin  malam. Tubuhnya terbalut mantel kusam yang telah tambal sulam. Dalam tumpukan jerami kering dan cahaya lampu yang menempel di dinding kayu kecoklatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.