Selasa, 28 Juli 2015

Rahasia Jodoh

Aku tidak pernah tahu bahwa negara dengan luas kurang lebih 298 kilometer persegi ini adalah negara Muslim terkecil di dunia.* Negara dengan keindahan setara Bora-Bora dan Bali ini juga merupakan tujuan wisata yang terindah sekaligus mahal. Semoga keindahan ini bertahan sedikit lebih lama sesampainya di Jakarta nanti.

Ayyul Khidmah?,”[1]  suara seorang lelaki ramah menyapaku. Seorang lelaki muda dengan kemeja putih, beralis tebal, berkulit bersih dan rambut lebat yang hitam legam. Mataku segera beralih ke kamera.
Mungkin kerudungku yang membuatnya berpikir aku anak pengusaha minyak dari Arab yang kebetulan berlibur di Maldives. Kuhabiskan mengunyah Masroshi[2]  di mulutku.
Laa, syukron,”[3]  jawabku sambil menggeleng dan beranjak mendekati pantai.
Min aina anta qaadim?,”[4]  kukira dia sudah menebak dengan bicara begini.
“Indonesia, anta?,”[5] Dia tampak kaget dan kemudian kudengar dia tertawa, kulihat dia berjalan mengikutiku.
“Ah rupanya orang Indonesia, aku juga dari Indonesia, Jakarta,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Arkan Wirya,” ucapnya memperkenalkan diri.
”Qaila Zahidah.”

Sekumpulan burung laut yang berdatangan di kejauhan menarik perhatianku.
“Liburan, honeymoon?,” tanyanya mencoba menebak.
“Tugas kantor, kamu sendiri?,” jawabku sambil tersenyum. Kamera DSLR di tanganku masih membidik ke arah laut yang berwarna biru turqois di sela-sela water bungalow.
“Aku kebetulan bekerja di sini, pasti itu pekerjaan yang tidak membosankan,” katanya lagi.
“Tugas yang menyenangkan,” tambahku, jika bukan karena tugas mana mungkin aku bisa berada di kepulauan seindah surga yang ber-budget semahal ini. Seekor burung laut kubidik dengan cantik ketika berjalan di atas pasir. Sepertinya dia melihatku terlalu sibuk dengan kamera,”Oke, selamat menikmati Maldives.”
Syukron[6] aku mengangguk sopan dan dia tersenyum sebelum punggungnya menghilang, kulanjutkan menyantap Masroshi.

Sebuah pesan masuk, ah iya aku baru ingat ada janji dengan seorang kawan yang mengajakku mencicipi Gardiya[7]  di Hotaa[8] . Selanjutnya mungkin mengunjungi sebuah masjid tertua di Maldives yang dibangun tahun 1656, orang Maldives biasa menyebutnya Hukuru Miskiiy, dindingnya dari batu koral yang diukir tulisan Arab.*

***

Aku ingat, sore itu pengajian terakhir setiap Jum’at seusai sekolah oleh seorang ustad muda yang kami undang. Pesertanya tidak begitu banyak, sebagian besar anak kelas tiga berjilbab lebar dan beberapa anak kelas satu dan kelas dua yang ingin bergabung belajar.

“Maaf mas, untuk selanjutnya kita tidak bisa lagi mengadakan pengajian dan sharing pengetahuan agama Islam ini di sekolah, pihak sekolah melarang kami,” ucap kawan kami Roudhoh.
“Ah tidak apa-apa, semangat belajar terus ya, kita bisa belajar dimanapun dan kapanpun juga dengan siapapun, jangan patah semangat,” ucap ustad muda itu kalem mencoba menghibur kami.
“Iya Ustad, hanya saja kami kecewa kenapa pengajian ini malah dituduh kegiatan yang radikal, padahal kita benar-benar belajar pengetahuan agama Islam dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang atau merugikan,” keluh Widya yang diamini oleh yang lain.
“Kita juga tidak bisa menyalahkan pihak sekolah, mungkin mereka memiliki pandangan sendiri, yang pasti kalian menurut saja dengan peraturan di sekolah ya,” ucap ustad itu dengan tenang.

Setelah kegiatan pengajian setiap Jum’at dihentikan maka kami mulai belajar sendiri dengan saling bertukar buku-buku bacaan. Karena uang saku kami terbatas, dan tidak sanggup membeli buku maka kami saling memfoto kopi atau saling bertukar buku untuk dibaca. Kami tidak menyerah, disaat teman kami sibuk bermain saat istirahat, kami sibuk Dhuha dan sharing berbagai persoalan di masjid.

“La, baju dari mbak Nun kemarin sudah diambil belum?” tanya Rhoudah padaku saat itu.
“Belum, nanti saja kita kesana biar ada kawan,” jawabku.
Muroh mengangguk kami kembali masuk ke kelas. Jadi kami kelas tiga punya misi agar adik-adik kelas dua dan satu yang ingin memakai seragam muslim tetapi tidak mampu membeli seragam muslim tetap bisa memakainya. Caranya kami mengumpulkan baju-baju seragam bekas dari kelas tiga yang sudah wisuda dan disumbangkan pada mereka yang ingin memakai seragam muslim. Harga seragam muslim jauh lebih mahal dari pada seragam biasa berlengan pendek.

Aku ingat pertanyaan anak SMU tetangga indekos dulu,“Mbak Qaila, pernah naksir seseorang?” tanya tetangga kamar indekosku yang masih SMU.
“Aku manusia biasa Nad, rasa sayang dan tertarik dengan lawan jenis itu wajar, hanya saja aku berpikir lebih banyak mudharatnya pacaran.”
“Ah mbak Qaila, cerita dong, ganteng gak dia? Namanya siapa? Dia juga suka dengan mbak?” Nadya mulai penasaran.
“Aku suka cowok yang pintar yang sholeh dari pada sekedar ganteng, dia suka atau tidak mbak juga tidak tahu.”
“Mbak percaya kalau nanti mbak siap menikah mbak akan bertemu dengan lelaki seperti yang mbak impikan itu?” tanyanya lagi.
Aku menghela nafas dan membalik buku yang kubaca,” Rasulullah shallallhu’alaihi wa sallam bersabda, barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah. Maka ia sesungguhnya telah memperoleh kesempurnaan iman.”
“Mbak mencintainya karena Allah?”
Aku menatapnya sambil tersenyum,”Iya, siapapun dia jika jodohku, dia akan datang padaku suatu saat nanti.”

***

Aku termangu di dapur, sebulan setelah tugasku di Maldives usai.
Perjodohan, ini pasti lelucon, ini bukan zaman Siti Nurbaya, dan aku cukup dewasa untuk memilih calon pendamping hidupku. Tapi, aku tak bisa menolak untuk kesekian kalinya, apalagi ketika bapak dan ibu sudah begitu frustasi menghadapiku.
“Tapi bu…”
“Sudahlah nduk, jangan terlalu khawatir dia putra kawan bapakmu dulu, dia sedang dalam perjalanan sebentar lagi mereka sampai”
Nas alullahu assalamah wal aafiah[9] gumamku dalam hati. Kuserahkan semua pada Allah apapun yang terjadi kali ini.
“Assalamu’alaikum warahmatullah.” suara seorang lelaki dari balik pintu sambil mengetuk pelan.
“Nah itu mereka, bukakan pintunya nduk,” kata bapak padaku.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” jawabku sambil membuka pintu.

Seorang lelaki dan seorang wanita seumuran bapak berdiri di depan pintu, aku menyalami keduanya dan mempersilakan masuk.
“Ah Umar, lama sekali tidak bertemu,” bapak memeluk kawan lamanya itu.
“Iya sudah lebih 10 tahun Sastra.”
“Ternyata sudah selama itu, itu tadi anak gadismu?”
“Iya, dia anak gadisku, mana putramu satu-satunya yang tak pernah pulang ke Indonesia itu?” tanya bapak.
“Assalamu’alaikum warahmatullah,” suara lelaki yang tidak asing. Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku meletakkan gelas di meja.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah.” jawab kami serempak.
“Nah ini dia anakku Sastra,” kata kawan bapak itu.
Waktu seakan berhenti, dadaku berdegub kencang, semua ingatan samar-samar berputar di kepala, dan lelaki itu sekarang berdiri di depanku. Menatapku terpaku, sama-sama tak percaya.
“Qaila Zahidah, gadis dengan kamera?”
“Arkan?”

***



1-Ada yang bisa dibantu?
2-Kue kelapa isi tuna
3-Tidak terimakasih
4-Dari mana anda berasal?
5-Kamu?

6-Terimakasih
7-Sup ikan
8-Warung makan khas Maldives
9-Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan

*)Sumber: majalah traveling tentang Maldives dan blog belajar bahasa Arab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentarmu di sini.